MAKASSAR, UNHAS.TV - Konflik militer antara Iran dan Israel yang didukung oleh Amerika Serikat masih terus berlangsung setelah satu bulan sejak pecahnya perang.
Di tengah situasi tersebut, akademisi dari Universitas Hasanuddin (Unhas) menilai kemampuan Iran bertahan tidak terlepas dari pengalaman panjang menghadapi tekanan internasional.
Dosen Sastra Asia Barat Unhas, Supratman SS MA PhD, menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang membuat Iran mampu bertahan hingga saat ini adalah pengalaman negara tersebut selama puluhan tahun berada di bawah embargo internasional.
“Iran selama sekitar 47 tahun berada dalam embargo dan tekanan internasional. Kondisi itu membentuk pengalaman serta mental bertahan yang kuat dalam masyarakatnya,” ujarnya dalam wawancara di Universitas Hasanuddin, Senin (30/3/2026).
Menurutnya, konflik yang saat ini terlihat sebagai perang militer sebenarnya merupakan kelanjutan dari berbagai bentuk konflik yang telah berlangsung sejak lama.
Sebelum konflik bersenjata terbuka, Iran telah menghadapi berbagai bentuk tekanan seperti embargo ekonomi, perang psikologis, hingga tekanan politik dan budaya.
“Selama ini peperangannya tidak selalu dalam bentuk militer. Ada perang ekonomi, psikologi, budaya, dan bahkan perang pemikiran yang berlangsung sejak lama,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa sejak Revolusi Iran pada 1979, hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memang berada dalam ketegangan yang terus berlanjut. Oleh karena itu, bagi Iran, konflik saat ini hanyalah perubahan bentuk dari tekanan yang sudah lama dialami.
“Perang yang terlihat sekarang hanya perubahan bentuk menjadi perang militer dengan penggunaan teknologi seperti misil balistik, drone, dan berbagai sistem persenjataan lainnya,” katanya.
Selain faktor pengalaman sejarah, Supratman juga menilai bahwa persiapan internal Iran dalam berbagai aspek turut memengaruhi kemampuannya bertahan. Persiapan tersebut tidak hanya terkait aspek militer, tetapi juga dukungan sosial dan semangat nasional masyarakatnya.
Menurutnya, masyarakat Iran memiliki kesadaran kuat terhadap pentingnya mempertahankan kedaulatan negara, terutama karena pengalaman panjang menghadapi intervensi asing.
“Dalam situasi ancaman dari luar, masyarakat Iran cenderung bersatu. Perbedaan internal biasanya mereda karena isu kedaulatan menjadi lebih penting,” ujarnya.
Lulusan Doktor Muslim Contemporary Thoughts di Al Mustafa International University Teheran Iran itu juga menilai bahwa konflik ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah yang kompleks.
Iran selama ini dipandang sebagai salah satu kekuatan penting di kawasan, sehingga setiap konflik yang melibatkan negara tersebut berpotensi memicu dampak luas.
Di sisi lain, keterlibatan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik ini berkaitan dengan upaya mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan serta menekan pengaruh Iran di Timur Tengah.
Setelah satu bulan konflik berlangsung, Supratman menilai situasi di lapangan menunjukkan bahwa kemenangan cepat yang diharapkan pihak penyerang tidak terjadi.
“Kenyataannya perang ini tidak berjalan sesuai perkiraan awal. Iran justru mampu bertahan dan membuat konflik menjadi semakin kompleks,” pungkasnya.
Ia menambahkan bahwa konflik tersebut menunjukkan bahwa dalam perang modern, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan kekuatan militer semata, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sosial, politik, sejarah, serta daya tahan masyarakat suatu negara.
(Achmad Ghiffary M / Unhas TV)
Dosen Sastra Asia Barat Unhas, Supratman SS MA PhD mengomentari kondisi perang AS-Israel dengan Iran. (Unhas TV/Achmad Ghiffary)








