Watch Unhas TV Live
Watch Unhas TV Live
Internasional

Begini Kepemimpinan Iran Setelah Presiden Raeisi Meninggal

Darmadi Tariah22 May, 2024

TEHRAN, UNHAS TV – Presiden Republik Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ebrahim Raeisi meninggal akibat kecelakaan helikopter hari Minggu (20/05/2024) kemarin. Kenyataan ini berarti adanya kekosongan figur yang menduduki kursi presiden selama beberapa saat.

Wakil Presiden Iran Mohammad Mokhber telah diangkat sebagai presiden sementara atas persetujuan Pemimpin Tertinggi Iran setelah berita kematian Presiden Iran Ebrahim Raisi menyebar.

Menurut Konstitusi Republik Islam Iran, jika seorang presiden meninggal saat menjabat, wakil presiden pertama akan mengambil alih jabatan tersebut untuk masa jabatan sementara selama 50 hari, dengan persetujuan Pemimpin Tertinggi yang memiliki keputusan akhir dalam semua urusan negara di Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran adalah Kepala Negara Iran, yakni pemegang kekuasaan tertinggi di negara tersebut. Berdasarkan Konstitusi Republik Islam Iran, pemimpin tertinggi berhak memutuskan semua urusan negara, termasuk kebijakan luar negeri dan program nuklir.

Dalam sistem pemerintahan Iran yang dikenal dengan sebutan Wilayatul Faqih, jabatan presiden yang dipilih langsung oleh rakyat berada di bawah kekuasaan Pemimpin Tertinggi Agama atau disebut juga sebagai seorang Wali Faqih.

Wali Faqih atau Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Husein Khamenai

Keberadaan Wali Faqih menjadi ciri khas demokrasi Iran, dan posisinya sangat menentukan arah kebijakan pemerintah yang ditempuh oleh Presiden Iran.

Saat ini, sosok Pemimpin Tertinggi Iran adalah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Ia mengisi posisi tersebut sepeninggal Imam Khomeini, atau Pemimpin Tertinggi Iran sebelumnya.

Posisi Pemimpin Tertinggi Iran baru berganti tangan dua kali sejak tahun 1979. Ayatullah Khamenei dipilih oleh sebuah badan yang terdiri dari 88 ulama yang disebut Majelis Ahli.

Keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran memiliki pengaruh besar dalam arah kebijakan negara, dan peran ini membedakannya dari jabatan Presiden Iran yang lebih fokus pada kekuasaan eksekutif. []