BELGIA, UNHAS.TV - Jejak materi genetik yang tertinggal di lingkungan dapat membantu peneliti mendeteksi keberadaan organisme dan mempelajari keanekaragaman hayati.
Pendekatan environmental DNA (eDNA) dimanfaatkan dalam penelitian biodiversitas ikan di daerah tangkapan air Danau Matano, Sulawesi Selatan, yang dipaparkan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Dr Ir Nadiarti MSc pada forum akademik di University of Antwerp, Belgia. Pemaparan penelitian dilakukan di hadapan mahasiswa dan dosen Departemen Biologi University of Antwerp, Belgia, Kamis pekan lalu.
Penelitian tersebut mengkaji biodiversitas ikan pada sejumlah stasiun pengambilan sampel di daerah tangkapan air Danau Matano. Pemaparan mencakup pola komposisi komunitas ikan antarlokasi serta penggunaan pendekatan molekuler untuk mempelajari keanekaragaman organisme perairan.
eDNA merujuk pada materi genetik yang dilepaskan organisme ke lingkungan, antara lain melalui sel kulit, lendir, kotoran, atau sisa jaringan. Analisis sampel lingkungan, seperti air, memungkinkan peneliti memperoleh petunjuk mengenai keberadaan organisme di lokasi tertentu tanpa selalu harus menangkap atau mengamati individu secara langsung. Dalam penelitian biodiversitas perairan, metode ini dapat melengkapi pengamatan dan identifikasi organisme secara konvensional.
Penggunaan eDNA dalam kajian Danau Matano membuka pendekatan untuk menelaah komposisi dan distribusi biodiversitas ikan melalui analisis molekuler. Informasi tersebut relevan bagi penelitian ekologi perairan, terutama untuk memahami variasi komunitas organisme di sejumlah lokasi pengamatan. Meski demikian, interpretasi hasil eDNA tetap perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan, metode pengambilan sampel, dan keterbatasan deteksi.
Prof Nadiarti turut memperkenalkan Thematic Research Group Aquatic Macrofaunal Biodiversity and Conservation (TRG AMBioC) Unhas, kelompok riset yang dipimpinnya. AMBioC mengkaji biodiversitas dan konservasi makrofauna perairan pada ekosistem air tawar maupun laut melalui pendekatan ekologi, taksonomi, dan molekuler. Kombinasi pendekatan tersebut digunakan untuk memahami keanekaragaman organisme perairan beserta tekanan yang memengaruhinya.
Diskusi bersama mahasiswa dan dosen Departemen Biologi University of Antwerp juga mencakup faktor-faktor ekologi yang memengaruhi distribusi spesies serta keterlibatan masyarakat dalam penelitian dan pemantauan biodiversitas perairan.
"Diskusi berkembang melalui pertanyaan peserta mengenai faktor-faktor ekologi yang memengaruhi distribusi spesies serta bagaimana melibatkan masyarakat dalam penelitian dan pemantauan biodiversitas perairan. Saya senang karena pembahasannya mencakup aspek ilmiah sekaligus keterlibatan masyarakat, yang penting untuk menghubungkan penelitian dengan upaya konservasi," ujar Prof Nadiarti.
Selain berbagi perkembangan penelitian, TRG AMBioC memperkenalkan fokus dan pendekatan risetnya kepada komunitas akademik internasional. Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Sekolah Pascasarjana Unhas, Prof. Nadiarti juga melihat pertukaran pengetahuan sebagai peluang untuk memperluas jejaring yang mendukung pengembangan pendidikan dan penelitian.
"Sebagai Ketua TRG AMBioC sekaligus Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Sekolah Pascasarjana Unhas, saya berharap pertukaran pengetahuan ini dapat memperkuat kolaborasi penelitian serta membuka peluang bagi mahasiswa pascasarjana untuk terlibat dalam jejaring riset internasional," kata Prof Nadiarti.
Pertukaran perspektif antara peneliti Unhas dan sivitas akademika University of Antwerp diharapkan membuka peluang bagi pengembangan penelitian bersama, keterlibatan mahasiswa pascasarjana, dan publikasi ilmiah lintas negara. Bagi kajian biodiversitas perairan tropis, jejaring akademik internasional turut menyediakan ruang untuk mendiskusikan pendekatan penelitian dan tantangan konservasi dari perspektif yang lebih luas.(*)
IKAN - Prof Dr Ir Nadiarti MSc memaparkan penelitiannya mengenai jejak DNA ikan di Danau Matano pada forum akademik di University of Antwerp, Belgia. Foto: Unhas








