Watch Unhas TV Live
Watch Unhas TV Live
Opini

Drama Korea Perpolitikan di Indonesia

Darmadi Tariah18 Feb, 2024

Khusnul Yaqin – Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Unhas

Hasil Quick Count (QC) telah membuat sebagian orang merasa bahwa pilpres sudah usai. Menurut mereka QC berbasis pada metode ilmah yang dikembangkan oleh ilmuan sosial. Oleh karenanya setelah QC selesai maka pilpres game over. Tapi bagi yang kalah QC disebut teknik manipulatif penguasa. Ya namnya saja usaha, sah sah saja, asal tidak bikin makar.

Tapi kalau kita berpikir ulang tentang pilpres sepertinya persaingan politik pilpres sama saja dengan drama Korea. Pergeseran orang-orang politik, sepertinya sudah diskrip naskahnya tinggal dijalankan sama aktornya (Muhammad Ibrahim 2024).

AHY keluar dari Koalisi Anis pindah ke Prabowo, Muhaimin keluar dari Prabowo gabung ke Anis, Sandi keluar dari Prabowo, gabung ke Ganjar (Muhammad Ibrahim 2024). Semuanya sudah disetujui Pak Lurah.

Baca Juga: Kemenangan Prabowo-Gibran adalah Kemengan Rakyat Lapar

Yang lucu, selesai nonton drama Korea, penonton keluar dari bioskop seru-seruan, asyik cerita ke orang lain, eh ternyata yang diceritakan sutradaranya (Muhammad Ibrahim 2024). Sutradara disebut penguasa zalim dan lain-lain oleh penonton yang kalah. Tapi bagi penonton yang merasa menang, sutradara disebut seorang yang jago menuangkan gagasannya dalam menyetir para pemain.

Tapi, bagi sutradara tidak penting cerita yang dia dengar. Yang penting banyak yang nonton (Muhammad Amin Bakri). Semakin banyak penonton semakin banyak cuan yang masuk ke pundi-pundi sutradara, untuk kawin lagi atau modal film berikutnya. So, berhasillah sutradara membuat drama yang disebut pesta demokrasi.