UNHAS.TV - Warga Washington DC, Amerika Serikat, kini memiliki peluang besar untuk menghemat biaya listrik dengan memanfaatkan tenaga surya yang didukung oleh program pemerintah.
Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya energi terbarukan, panel surya semakin diminati sebagai alternatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Namun, di tengah perkembangan positif ini, kebijakan pemerintah masih menjadi faktor penentu dalam keberlangsungan energi bersih. Apalagi di era pemerintahan DOnald Trump.
Sejauh ini, tenaga surya dengan panel solar cell di Amerika Serikat menyumbang sekitar enam persen dari total kebutuhan listrik nasional. Meski terbilang kecil, pertumbuhannya cukup pesat.
Contohnya keberadaan Komunitas Solar Cell di sebuah perumahan di Washington. Salah seorang pengguna listrik dari panel surya, Victor Ramos mengaku sangat merasakan manfaat dengan listrik dari cahaya matahari ini.
"Itu bagian terbaiknya. Ini adalah rumah pertama saya dan saat saya beli tahun 2023, tagihan listriknya per bulan mencapai USD 150 (sekira Rp2,5 Juta)," ujar Victor.
Kini sejak rumahnya menggunakan panel surya komunitas, Victor mengaku hanya membayar biaya administrasi sebesar USD 5 saja (senilai dengan Rp 81 Ribu).
Dalam beberapa dekade terakhir, kapasitas tenaga surya yang terpasang telah melampaui angka 100 gigawatt (GW), yang merupakan pencapaian besar dalam transisi energi bersih di negara tersebut.
Kecepatan perkembangan ini didorong oleh kemajuan teknologi, penurunan biaya produksi panel surya, serta berbagai insentif dari pemerintah federal dan negara bagian.
Hanya sayang, kebijakan energi terbarukan di Washington ini menghadapi tantangan serius, terutama ketika pemerintahan Donald Trump berencana mengurangi pendanaan untuk program tenaga surya.
Langkah ini sempat menimbulkan kekhawatiran, mengingat sebelumnya pemerintah federal memberikan insentif pajak dan bantuan dana bagi pengguna panel surya.
Kebijakan semacam ini berpengaruh besar terhadap adopsi energi surya, terutama bagi warga yang bergantung pada subsidi untuk memasang sistem tenaga surya di rumah atau bisnis mereka.
Di sisi lain, sebelumnya pemerintahan Joe Biden telah mengambil langkah berani dengan menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 40% pada 2030 dan mencapai nol emisi bersih pada 2050.
Investasi besar-besaran dalam infrastruktur energi bersih, termasuk tenaga surya, menjadi prioritas utama. Insentif pajak untuk panel surya terus diperpanjang, dan negara bagian tertentu memberikan kredit pajak tambahan bagi warganya yang beralih ke energi hijau.
Selain dampak positif bagi lingkungan, tenaga surya juga membawa manfaat ekonomi yang signifikan atas pencipataan lapangan kerja.
Seiring meningkatnya penggunaan panel surya, sektor energi terbarukan menciptakan lebih dari 250.000 lapangan kerja di Amerika Serikat, terutama di bidang produksi, instalasi, dan pemeliharaan.
Dengan semakin banyaknya rumah tangga dan bisnis yang beralih ke tenaga surya, industri ini terus berkembang sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi berbasis energi bersih.
Meski demikian, tantangan masih ada, terutama dalam hal penyimpanan energi dan regulasi yang bervariasi di tiap negara bagian.
Sistem penyimpanan baterai masih tergolong mahal, sehingga tidak semua pengguna dapat memanfaatkan tenaga surya secara optimal.
Selain itu, kebijakan yang berbeda-beda di tiap negara bagian juga mempengaruhi biaya dan prosedur pemasangan panel surya.
Meskipun demikian, dengan adanya dukungan teknologi dan kebijakan yang terus berkembang, energi surya diperkirakan akan menjadi solusi utama dalam transisi menuju energi bersih di masa depan.
Simak liputan selengkapnya VOA untuk Unhas.TV: