UNHAS.TV - Menjaga kesehatan rongga mulut tidak cukup hanya dengan menyikat gigi secara rutin. Penumpukan karang gigi yang dibiarkan dapat menjadi pintu masuk berbagai gangguan, mulai dari peradangan gusi hingga kerusakan jaringan penyangga gigi yang berujung pada gigi goyang dan tanggal permanen.
Peringatan itu disampaikan Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (FKG Unhas), Profesor Asdar Gani, dalam orasi ilmiahnya saat diterima sebagai anggota Dewan Profesor Unhas, di Ruang Senat Rektorat Unhas, Rabu (26/8/2026) lalu.
Dalam orasi tersebut, Prof Asdar menjelaskan bahwa kesehatan rongga mulut tidak hanya diukur dari kondisi gigi yang bebas dari karies.
Kondisi gusi dan jaringan penyangga gigi atau jaringan periodontal juga menjadi indikator penting dalam menentukan kesehatan mulut seseorang.
Menurut dia, penyakit periodontal sering kali berawal dari masalah sederhana yang tidak mendapatkan perhatian. Salah satunya adalah keberadaan karang gigi yang terbentuk dari penumpukan plak yang mengeras pada permukaan gigi.
“Perawatan standar yang paling utama jangan lupa menyikat gigi. Yang paling penting sebelum tidur dan pagi setelah makan. Kedua, jangan lupa juga secara rutin mengecek kesehatan gigi,” ujar Prof Asdar.
Namun, ia mengingatkan bahwa tidak semua masalah gigi dapat diselesaikan hanya dengan menyikat gigi. Karang gigi, kata dia, membutuhkan penanganan khusus oleh tenaga profesional karena tidak dapat hilang hanya dengan perawatan mandiri di rumah.
“Ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan sikat gigi. Apa itu? Karang gigi itu nanti bisa dilepas oleh profesional. Walaupun kita sikat gigi rajin, itu tetap ada karang gigi,” katanya.
Prof Asdar menjelaskan, karang gigi yang terus menumpuk dalam jangka panjang dapat memicu peradangan pada jaringan gusi.
Kondisi awal biasanya ditandai dengan gusi yang berubah warna menjadi kemerahan dan mudah mengalami perdarahan saat menyikat gigi.
.webp)
Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Unhas Prof Dr drg Asdar Gani MKes. (Unhas TV/Zulkarnaen Jumar Taufik)
Jika tidak segera ditangani, peradangan tersebut dapat berkembang menjadi periodontitis, yaitu penyakit serius yang menyerang jaringan penyangga gigi.
“Karang gigi ini kalau dibiarkan lama itulah nanti yang akan menimbulkan penyakit periodontal. Awalnya gusi yang meradang, kemerah-merahan, sudah berdarah. Kalau dibiarkan terus menerus itu lama-lama bisa menjadi periodontitis,” jelasnya.
Menurut dia, ketika penyakit periodontal sudah mencapai tahap lanjut, dampaknya tidak hanya terjadi pada gusi, tetapi juga dapat merusak struktur tulang penyangga gigi. Akibatnya, gigi menjadi goyang dan pada kondisi tertentu harus dilakukan pencabutan.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan gigi secara berkala ke dokter gigi menjadi langkah penting untuk mendeteksi masalah sejak dini.
Pemeriksaan rutin juga memungkinkan tindakan pembersihan karang gigi dilakukan sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
Selain menekankan pentingnya kebiasaan menyikat gigi, Prof Asdar juga mengingatkan penggunaan siwak sebagai salah satu bentuk perawatan alami yang telah lama dikenal masyarakat.
Menurutnya, kebiasaan menjaga kebersihan mulut merupakan bagian dari upaya pencegahan penyakit gigi dan gusi.
Di sisi lain, perkembangan ilmu kedokteran gigi saat ini juga mulai banyak mengeksplorasi penggunaan bahan alam sebagai terapi pendukung.
Salah satu bahan yang mendapat perhatian adalah propolis, yaitu produk alami yang dihasilkan lebah.
Prof Asdar mengatakan sejumlah penelitian menunjukkan propolis memiliki potensi sebagai bahan pendukung dalam menjaga kesehatan rongga mulut karena memiliki sifat antibakteri.
“Propolis ternyata manfaatnya banyak. Dia punya sifat antibakteri dan sekarang banyak digunakan pada berbagai macam bidang, bukan hanya di bidang kedokteran, tetapi juga bidang lainnya,” ujarnya.
Pemanfaatan propolis dinilai dapat membantu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi pada jaringan gusi.
Meski demikian, terapi berbahan alam tetap harus ditempatkan sebagai pendukung, bukan menggantikan pemeriksaan dan perawatan medis oleh tenaga kesehatan.
Prof Asdar menegaskan, menjaga kesehatan periodontal membutuhkan kombinasi antara kebiasaan hidup bersih, pemeriksaan rutin, serta penanganan profesional ketika ditemukan masalah.
Sebab, kesehatan gigi bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga berkaitan dengan kualitas hidup dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
(Amina Rahma Ahmad / Zulkarnaen Jumar Taufik / Unhas TV)
Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Unhas Prof Dr drg Asdar Gani MKes. (Dok Unhas TV)
-300x169.webp)






 2026 Kembali Digelar (1)-300x200.webp)
