Pendidikan

Ketika Novel dan Kamera Membaca Manusia: Antropologi Unhas Membongkar Realitas di Balik Fiksi

Jesse Hession Grayman mengajak mahasiswa Antropologi Unhas membaca kehidupan sosial melalui fiksi dan film. (Foto: Dept. Antropologi Unhas).

MAKASSAR, UNHAS.TV - Selasa siang, 18 Agustus 2026, Aula Prof. Syukur Abdullah di lantai tiga Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin menjadi ruang perjumpaan antara antropologi, sastra, dan sinema ketika mahasiswa serta akademisi diajak membaca masyarakat bukan hanya melalui angka dan catatan lapangan, melainkan juga melalui tokoh, dialog, konflik, latar, dan gambar bergerak.

Kuliah umum bertajuk “Can Fiction Be Ethnography? Reading Society through Literature and Film” yang diselenggarakan Departemen Antropologi FISIP Unhas itu menghadirkan Associate Professor Jesse Hession Grayman dari School of Social Sciences, University of Auckland, Selandia Baru.

Andi Batara Al Isra, S.Sos., M.A., dosen Antropologi FISIP Unhas, memandu diskusi yang sejak awal membawa peserta memasuki pertanyaan provokatif: bisakah karya yang lahir dari imajinasi diperlakukan sebagai jalan untuk memahami kehidupan sosial?

Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi segera membuka perdebatan mendasar tentang batas antara kenyataan dan rekaan, antara pengalaman yang diamati langsung oleh antropolog dan dunia yang dibangun pengarang atau sutradara.

Jesse mengajak peserta meninggalkan anggapan bahwa masyarakat hanya dapat dipahami melalui statistik, laporan formal, wawancara, observasi partisipatif, atau catatan lapangan yang selama ini menjadi fondasi penelitian etnografi.

Dalam novel dan film, katanya, kehidupan sosial juga hadir melalui hubungan antartokoh, bahasa sehari-hari, ketimpangan kuasa, ingatan, identitas, norma, ruang, serta berbagai tindakan kecil yang memperlihatkan bagaimana manusia memahami dunianya.

Imajinasi yang Menyimpan Jejak Kenyataan

Seorang mahasiswa kemudian mengangkat tangan dan mempertanyakan alasan memilih fiksi, bukan film dokumenter atau karya nonfiksi, padahal fiksi identik dengan cerita yang tidak sungguh-sungguh terjadi.

Jesse menjawab dengan mengembalikan pertanyaan itu kepada seluruh peserta karena justru kecurigaan terhadap fiksi dapat menjadi pintu masuk untuk menelaah bagaimana imajinasi selalu berhubungan dengan pengalaman, pengetahuan, nilai, dan lingkungan sosial penciptanya.


Cuplikan Kabut Berduri menjadi bahan pembacaan kritis mengenai trauma, representasi, dan realitas sosial. (Foto: Dept. Antropologi Unhas)
Cuplikan Kabut Berduri menjadi bahan pembacaan kritis mengenai trauma, representasi, dan realitas sosial. (Foto: Dept. Antropologi Unhas).


Menurutnya, persoalan terpenting bukan apakah seluruh peristiwa dalam cerita pernah benar-benar terjadi, melainkan bagaimana cerita itu menyusun gambaran tentang manusia, menempatkan kelompok tertentu, menampilkan konflik, serta menghadirkan dunia sosial kepada pembaca atau penonton.

Sebuah novel memang bukan laporan penelitian lapangan, tetapi penggambaran mengenai keluarga, kelas sosial, agama, gender, etnisitas, migrasi, kekerasan, atau kehidupan perkotaan di dalamnya dapat menyediakan bahan penting untuk dianalisis secara antropologis.

Fiksi karena itu tidak otomatis berubah menjadi etnografi hanya karena memuat kehidupan masyarakat, sebab pembaca tetap harus mempertanyakan siapa penciptanya, dari posisi sosial mana cerita disampaikan, kepentingan apa yang bekerja, dan bagian realitas mana yang disembunyikan.

Pembacaan kritis tersebut juga membantu mahasiswa membedakan antara fiksi sebagai sumber representasi budaya dan etnografi sebagai karya ilmiah yang menuntut metode, refleksivitas, keterbukaan proses penelitian, serta pertanggungjawaban etis terhadap masyarakat yang diteliti.

Rekam akademik Jesse memperkuat perbincangan lintas bidang itu karena University of Auckland mencatatnya sebagai antropolog sosial, pemimpin bidang spesialisasi Antropologi Sosial, pembimbing doktoral Studi Pembangunan, serta akademisi yang memiliki kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan menelaah karya ilmiah dalam bahasa Indonesia.

Kamera Tidak Pernah Sepenuhnya Netral

Diskusi semakin hidup ketika sutradara dan produser film Ichwan Persada turut membawa pengalaman praktis dari dunia produksi, tempat realitas sosial harus diterjemahkan menjadi lokasi, karakter, dialog, properti, pencahayaan, suara, dan sudut pengambilan gambar.

Ichwan menceritakan pengalamannya memproduksi film di Entikong, Kalimantan Barat, hingga melanjutkan pengambilan gambar ke Kuching, Malaysia, sebuah proses yang memperlihatkan bahwa kawasan perbatasan bukan sekadar latar geografis, tetapi ruang perjumpaan identitas, mobilitas, kebijakan negara, dan kehidupan masyarakat lintas batas.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa ketika kamera diarahkan kepada masyarakat, pembuat film sebenarnya sedang melakukan serangkaian pilihan mengenai siapa yang boleh berbicara, siapa yang hanya menjadi latar, pengalaman mana yang dianggap penting, dan kenyataan siapa yang akhirnya terlihat oleh penonton.

Ichwan kemudian mengajak peserta menelaah Kabut Berduri, film kriminal misteri garapan Edwin yang menempatkan penyelidikan pembunuhan di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia sebagai pusat ceritanya.

Ia menilai kehadiran tokoh polisi perempuan yang didatangkan dari Jakarta memperlihatkan perspektif pusat terhadap daerah, sehingga masyarakat lokal berisiko lebih sering diposisikan sebagai objek yang diamati daripada subjek yang menggerakkan narasi.

Catatan kritis itu menjadi semakin relevan karena Netflix memperkenalkan Kabut Berduri sebagai kisah seorang detektif dari kota besar yang menyelidiki pembunuhan di perbatasan, sedangkan produksi film tersebut sesungguhnya bersentuhan dengan sejarah, konflik, mobilitas, dan pengalaman masyarakat Kalimantan.

Film yang dirilis pada 1 Agustus 2024 itu memperoleh 12 nominasi Festival Film Indonesia 2024 serta memenangi Piala Citra untuk tata artistik, tata rias, dan efek visual, yang memperlihatkan besarnya perhatian produksi terhadap penciptaan dunia sosial di dalam layar.

Namun, keberhasilan artistik tidak menghilangkan kebutuhan untuk menguji sudut pandangnya karena sebuah film dapat tampil memukau sekaligus tetap menyisakan pertanyaan tentang sentralisasi narasi, keterwakilan warga lokal, dan hubungan kuasa antara pusat dengan kawasan perbatasan.

Pulpen Kecil, Makna yang Tidak Sederhana

Ichwan lalu membawa perhatian peserta kepada benda yang tampak remeh, yakni pulpen Grand Dili dalam sebuah adegan, tetapi baginya properti sekecil itu hampir tidak mungkin muncul begitu saja tanpa pertimbangan kreatif.


Mahasiswa dan akademisi mengikuti kuliah umum Antropologi Unhas tentang masyarakat melalui sastra dan film. (Foto: Dept. Antropologi Unhas).
Mahasiswa dan akademisi mengikuti kuliah umum Antropologi Unhas tentang masyarakat melalui sastra dan film. (Foto: Dept. Antropologi Unhas).

Di lokasi produksi, benda yang berada di atas meja, pakaian yang dikenakan tokoh, warna dinding, kendaraan, makanan, hingga jarak antarpemain biasanya dibicarakan bersama production designer dan art director agar sesuai dengan ruang, zaman, karakter, serta suasana yang hendak dibangun.

Properti film dengan demikian dapat berfungsi sebagai jejak sejarah, identitas kelas, hubungan ekonomi, ingatan politik, atau penanda geografis yang baru mengungkapkan maknanya ketika dibaca bersama konteks cerita.

Penjelasan itu membuat peserta melihat bahwa kamera tidak hanya merekam kenyataan, melainkan memilih, menyusun, menerangi, mengaburkan, dan terkadang menciptakan kenyataan yang kemudian diterima penonton sebagai gambaran tentang suatu masyarakat.

Film karena itu dapat dibaca layaknya lapisan kebudayaan, mulai dari siapa yang menjadi pahlawan, siapa yang digambarkan berbahaya, bahasa siapa yang terdengar, wilayah mana yang dianggap terpencil, hingga nilai apa yang dinormalisasi sepanjang cerita.

Ruang Belajar yang Melampaui Buku Teks

Antusiasme mahasiswa dan akademisi menguat ketika pertanyaan terus bermunculan mengenai hubungan fiksi dengan kenyataan, tanggung jawab pembuat film, representasi masyarakat lokal, subjektivitas pengarang, dan kedudukan karya seni dalam penelitian antropologi.

Dosen Antropologi FISIP Unhas Jayana Suryana Kembara, S.Sos., M.Si., mengapresiasi kuliah umum tersebut karena menawarkan perspektif yang dapat memperluas cara mahasiswa memahami fenomena sosial dan budaya melalui beragam bentuk representasi.

Bagi mahasiswa, pembelajaran itu menyampaikan pesan bahwa menikmati cerita belumlah cukup karena setiap karya juga perlu diperiksa melalui pertanyaan tentang siapa yang direpresentasikan, siapa yang tidak terlihat, nilai apa yang ditonjolkan, dan dari posisi mana kisah dibangun.

Pendekatan semacam ini semakin penting pada era platform digital ketika film dan cerita audiovisual dapat melintasi negara dalam hitungan detik serta ikut membentuk pengetahuan jutaan orang mengenai kelompok, kebudayaan, dan wilayah yang belum pernah mereka jumpai secara langsung.

Kemampuan membaca representasi secara kritis juga menjadi bagian dari literasi media karena gambar yang tampak realistis belum tentu netral, sedangkan cerita rekaan tidak selalu terputus dari kenyataan sosial.

Ketika kegiatan berakhir, pertanyaan “Bisakah fiksi menjadi etnografi?” tidak ditutup dengan jawaban hitam-putih, tetapi dibiarkan hidup sebagai undangan untuk terus memeriksa hubungan antara imajinasi, pengalaman manusia, metode ilmiah, dan kekuasaan dalam setiap cerita.

Dari Aula Prof. Syukur Abdullah, kuliah umum itu akhirnya meninggalkan pelajaran bahwa masyarakat dapat dibaca di banyak tempat karena di balik halaman novel dan setiap bingkai kamera selalu tersimpan jejak tentang manusia, kebudayaan, pertarungan makna, serta kehidupan sosial yang menunggu untuk ditafsirkan.(*)