Watch Unhas TV Live
Watch Unhas TV Live
Event

Kiri Depan, Daeng

Amir PR25 May, 2024
DAENG - Rangkaian peluncuran buku Kiri Depan, Daeng di dalam armada Teman Bus. (foto: Unhas TV)

MAKASSAR, UNHAS.TVMakassar Writers International Festival (MIWF) 2024 hari ketiga, Sabtu (25/5/2024), diisi dengan peluncuran buku “Kiri Depan, Daeng.”

Ini buku tentang pengalaman sejumlah warga Makassar menggunakan transportasi publik. Sebagian besar cerita tentang interaksi mereka dengan moda transportasi pada masa tahun 80-an hingga 90-an.

Peluncuran buku dirancang unik. Seusai diskusi yang sangat singkat yang dipandu Luna Vidya di Fort Rotterdam, peserta dibawa berkeliling kota dengan menggunakan armada Teman Bus.

Penulis pun bercerita singkat mengenai apa yang mereka tulis selama perjalanan. Pemusik seperti Yuka Tamada (Indonesian Idol dari Makassar), ikut meramaikan, seolah seperti mengamen.

Buku “Kiri Depan, Daeng” ditulis 32 penulis dari berbagai latar profesi dan diterbitkan oleh Rumata Art Space dan Makassar Writers International Festival. Penerbitannya atas dukungan LPDP,  Dana Indosiana, dan Kemendikbud.

Beberapa penulisnya yakni Agus Linting, Judy Raharjo, Luna Vidya, Meta Sekar Puji, Nana Saleh, Muhary Wahyu Nurba, Rusdin Tompo, Tenriagi Malawat, dan Kamaruddin Aziz,

Penggiat hak-hak perempuan, Lusia Palulungan, menulis tentang keresahannya pada kerentanan warga mendapat perlakuan kekerasan dan pelecehan seksual di moda transportasi publik.

“Warga butuh transportasi publik yang nyaman dan bersih. Tapi, yang paling penting adalah transportasi yang aman,” kata Lusia di dalam Teman Bus.

Ni Nyoman Anna Martanti lebih khusus menulis pengalamannya sebagai warga Daya, Makassar, yang masih sempat menggunakan bus bertingkat milik Damri. Bus yang hanya bertahan  mulai awal 1980-an hingga awal 1990-an di Makassar.

“Saya biasanya naik Damri di lantai 2. Kami dulu menyebutnya Kandang Puyuh. Tapi lebih sering naik petepete.

Mulai dari jenis petepete yang penumpangnya harus mengetuk kaca belakang sopir sebagai tanda penumpang mau turun, hingga jenis pete-pete yang dikenal sekarang. Di masa inilah, muncul istilah, ‘Kiri depan, Daeng’ karena dulu cukup mengetuk kaca mobil hingga memencet bel di atap petepete,” katanya.

“Karena saya warga Daya, saya juga masih sempat menaiki bendi. Bendinya sudah hilang sekarang,” ujarnya.

Mansyur Rahim atau Oppa Lebug (Lelaki Bugis) bercerita tak hanya seputar bus tingkat Damri, juga tentang petepete yang bertarif Rp 100 di masanya.

“Tapi saya tidak pernah naik petepete jenis lama. Melihatnya pernah, karena dulu sering dipakai mahasiswa Universitas Negeri Makassar dengan rute Kampus Gunung Sari – Kampus Mallengkeri,” ujarnya.

Sebelumnya pada sesi diskusi, teaterawan Yudhistira Sukatanya bercerita pengalaman di zaman mudanya. Cerita tentang pertikaian anak-anak muda di sekitar Jalan Gunung Lokon dan Jalan Sungai Pareman, yang kemudian memunculkan istilah, “Majuko Gondrong” yang mengacu pada satu aktor pemberani yang berambut gondrong.

Juga ada cerita dari peneliti dan akademisi Meta Sekar Puji Astuti tentang sejarah becak versi Makassar yang ternyata punya kaitan dengan keberadaan orang Jepang di Makassar. Ulasannya menarik tapi sayang terhalang waktu yang mepet.

“Saya yang harus minta maaf. Ternyata kita hanya punya waktu 5 menit lagi sebelum kita harus tinggalkan ruangan ini,” kata moderator diskusi Luna Vidya.

Ada pula cerita reklamasi di lahan CPI yang menghilangkan kesempatan warga Makassar menikmati sunset terindah di dunia. Sunset yang pernah dipuji salah satu diplomat Jepang yang pernah bertugas di Konsulat Jenderal Jepang di Makassar.

Amir Pallawa Rukka (Unhas TV)