Watch Unhas TV Live
Watch Unhas TV Live
Internasional

OPINI: Api Kebebasan Menjalar dari Perkemahan Demonstran Mahasiswa anti-Genosida Gaza

Darmadi Tariah28 Apr, 2024
Tangkapan layar karikatur menyinggung matinya kebebasan berpendapat di Amerika terkait aksi brutal aparat kepolisian terhadap mahasiswa demonstran anti-genosida Gaza

“Free Palestine, Stop Genocide in Gaza!”

Teriakan-teriakan itu adalah bara perjuangan kemanusian. Sekali lagi, gerakan mahasiswa di Amerika, tampil ke panggung peradaban, memperjuangkan kemanusian dan kemerdekaan.

Bara perjuangan itu, kini berubah jadi api, membakar seluruh Amerika, meniti ombak Pasifik mencapai Australia, menyeberang Atlantik menuju Berlin dan Paris, melewati Mediterania sampai ke Teheran.

Api perjuangan kemanusian seminggu yang lalu dinyalakan 70 orang mahasiswa di tengah perkemahan demonstran dalam kampus Columbia University. Bara itu mulanya membakar dua kampus ternama di New York, Kota “Kebebasan” itu.

Columbia University (CU) dan New York University (NYU) menyalakan api kebebasan yang kini bersinar lebih terang dari api obor Patung Liberty.

Bara itu, merobek habis topeng kebebasan yang dikenakan Amerika, satu-satunya negara anggota Dewan Keamanan PBB yang menolak kebebasan Palestina dari penjajahan Zionis.

Api kebebasan dari dua kampus itu juga telah menyala di Ohio State University, kampus ketiga terbesar di Amerika. Telah mencapai ujung barat di University of California, Berkeley.

Api kebebasan yang dinyalakan dalam aksi duduk nan damai di tengah perkemahan dalam kampus, direspon dengan pentungan, tembakan, dan pukulan oleh polisi setempat.

Amandemen Pertama Konstitusi Amerika tentang kebebasan berpendapat, rasanya tidak lebih dari manuskrip semata, sementara ini kehilangan tuahnya melindungi orang-orang Amerika. Demi membela Zionisme yang anti kemanusian itu, Amerika rela memukul warganya sendiri, menginjak-injak para guru besar, dan menjebloskan mereka ke penjara.

Telah lebih dari 500 orang mahasiswa dan guru besar dari 50an universitas di Amerika disiksa dan ditangkap, hanya karena mereka aksi damai mendukung kebebasan Palestina, menuntut penghentian genosida di Gaza. Demokrasi Amerika sedang memperlihatkan keadaan aslinya.

Kendatipun Amerika akan terus menyiksa para mahasiswanya, tetapi teriakan mereka masih lantang. Belum ada tanda-tanda gelombang protes kampus akan segera reda. Yang ada, api ini telah tiba di Eropa Barat, Afrika Utara, Asia Barat, juga di Australia.

Mahasiswa Universitas Sorbonne di Perancis bergabung dengan kampanye perlawanan mahasiswa Amerika melawan Zionis. Mereka melakukan hal yang sama, membangun perkemahan dan menyalakan api kebebasan. Mereka juga mendapat jawaban yang sama, pukulan, siksaan dan penangkapan dari kepolisian.

Tidak berbeda jauh di Jerman, perkemahan demonstran mahasiswa di depan Gedung Parlemen Federasi Bundestag menerima perlakuan yang sama. Tuntutan damai dijawab dengan kekuatan brutal polisi yang memaksa membersihkan perkemahan protes damai, menuntut diakhirinya kejahatan perang genosida di Palestina yang diduduki.

Demonstran rakyat Yaman menyerukan solidaritas kepada gerakan mahasiswa Amerika Serikat

Nyala api seruan mahasiswa Amerika juga telah menjangkau Iran. Mahasiswa dan dosen Universitas Teheran berdemonstrasi menyuarakan solidaritas dan dukungan kepada gerakan mahasiswa Amerika. Mereka mengutuk kebrutalan polisi yang merepresi demonstran.

Mahasiswa Australia seperti di Sydney University menyambut seruan kawan mereka di Amerika. Menyalakan api perjuangan, meneriakkan tuntutan yang sama, meminta Pemerintah Australia memutus dukungan kepada Israel.

“Free Palestine, Stop genocide in Gaza!” semakin menyala, para demonstran mahasiswa semakin percaya bahwa mereka juga terjajah dan ditindas, seperti yang dialami rakyat Palestina. Mereka dipukuli meski tak bersenjata, mereka disiksa meski menuntut dengan damai, oleh rezim pemerintahan mereka, sekutu Israel.

“Sampai kita semua bebas, tidak ada satu pun dari kita yang akan bebas.” Pesan demonstran mahasiswa Amerika kepada dunia. Mereka sadar, yang dialami Gaza adalah tragedi kita semua, tragedi manusia. Kita sedang dijajah oleh rezim kejahatan yang seringkali memakai topeng kebaikan, HAM, dan demokrasi, tetapi berwajah asli apartheid.  

Analis Arab terkemuka, Abdulbari Atwan menyebut perlawanan mahasiswa Amerika sebagai revolusi melawan hegemoni Israel di Amerika Serikat!

Bara api kebebasan yang bermula di UC itu telah menyala menjalar ke seluruh dunia. Bara api yang sama dari kampus yang sama yang dulu berhasil mendivestasi rezim apartheid Afrika Selatan sehingga menemui keruntuhannya, kini mengulangi aksi yang sama. Mahasiswa UC menyuarakan divestasi rezim apartheid Israel untuk kebebasan Palestina dan penghentian genosida Gaza.

Bara api dari perkemahan mahasiswa UC ini adalah harapan peradaban, yang boleh saja tidak harus bermula di New York, tetapi di kampus negara-negara berpenduduk muslim mayoritas, seperti Indonesia.

Tetapi, pada kenyataannya, mahasiswa di New York lah yang menyalakan api lebih besar, menyeru ke seluruh dunia. Semoga mahasiswa di Indonesia juga segera menjawab seruan itu, ikut berkemah, menyalakan bara tuntutan, teriakan kebebasan Palestina dari penjajahan rezim apartheid Israel. (Darmadi Tariah)