Internasional
Pendidikan

Stunting Ancaman Masa Depan, ICNPH 2026 Bahas Strategi Kolaborasi Internasional

The 3rd International Conference on Nutrition and Public Health (ICNPH) 2026 yang digelar Departemen Gizi FKM Unhas resmi dibuka di Ballroom Unhas Hotel and Convention, Makassar, Rabu (8/4/2026). (Unhas TV/Rahmatia Ardi)

MAKASSAR, UNHAS.TV – The 3rd International Conference on Nutrition and Public Health (ICNPH) 2026 resmi dibuka di Ballroom Unhas Hotel and Convention, Makassar, Rabu (8/4/2026).

Konferensi internasional yang digelar oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin ini menjadi platform kolaborasi global untuk membahas isu nutrisi dan kesehatan masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 8–9 April 2026, ini menghadirkan ratusan peserta dari berbagai negara dan latar belakang profesi. Universitas Hasanuddin bertindak sebagai host, didukung co-host Universitas Tompotika Luwuk dan Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan.

Konferensi ini menjadi forum berbagi pengetahuan, memperkuat komitmen, serta mendorong percepatan transfer informasi di bidang nutrisi dan kesehatan publik.

Acara pembukaan dilakukan oleh Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Inovasi, Kewirausahaan, dan Bisnis Unhas, Prof Dr Eng Adi Maulana ST MPhil.

Dalam sambutannya, Prof. Adi menekankan pentingnya riset yang mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya dalam konteks malnutrisi yang masih menjadi persoalan serius di Indonesia.

“Malnutrition ini berpengaruh terhadap tingginya angka stunting yang ada di Indonesia. Angka stunting yang tinggi akan menghadirkan masalah bagi generasi muda di masa depan. Bagaimana kita mau mencapai Indonesia Emas 2045 kalau anak-anak yang tumbuh sekarang banyak yang stunting?” ujar Prof. Adi.

Menurutnya, isu stunting merupakan masalah nasional yang memerlukan perhatian semua pihak. Data terbaru menunjukkan angka stunting nasional masih berada di kisaran 14 persen.

Artinya, dari setiap 100 bayi yang lahir, sekitar 14 mengalami stunting. Prof. Adi menegaskan, angka ini cukup signifikan dan harus menjadi konsen bersama.



Wakil Rektor Unhas Prof Dr Eng Adi Maulana ST MPhil. (Dok Unhas TV)


“Program utama pemerintah, termasuk yang digagas Pak Prabowo, menekankan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penurunan angka stunting. Universitas Hasanuddin berupaya menjadi pionir dalam penelitian yang memberikan kontribusi nyata untuk mengurangi stunting,” tambahnya.

Dampak Jangka Panjang Malnutrisi 

Salah satu keynote speaker, Mamadou Ndiaye, PhD dari UNICEF, menyoroti dampak jangka panjang malnutrisi pada anak usia dini.

Menurut Ndiaye, stunting dan kekurangan mikronutrien memengaruhi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kesiapan sekolah, dan produktivitas di masa depan.

Anak yang mengalami stunting berisiko tidak mencapai potensi tumbuh kembang optimal dan memiliki keterbatasan kapasitas kognitif.

Penurunan angka malnutrisi secara global dinilai mengalami perlambatan, sehingga diperlukan intervensi berkelanjutan dan lebih kuat.

Pendekatan holistik dan multisektoral menjadi kunci, dengan melibatkan sistem pangan, kesehatan, air dan sanitasi, pendidikan, serta perlindungan sosial. Investasi pada early childhood development (ECD) dianggap vital untuk memutus siklus malnutrisi.

Prof. Adi berharap ICNPH 2026 tidak hanya menghasilkan rekomendasi akademis, tetapi juga berdampak langsung pada kebijakan publik.

Konferensi diharapkan membangun sinergi antara akademisi, pemerintah, lembaga internasional, dan sektor swasta dalam menghadapi tantangan nutrisi dan kesehatan masyarakat.

Konferensi ini menegaskan komitmen Universitas Hasanuddin sebagai pusat penelitian unggulan di Indonesia, sekaligus memperkuat jejaring global dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan generasi mendatang.

(Venny Septiani Semuel / Rahmatia Ardi / Unhas TV)