Sport

Sukses Bawa Inter Raih Scudetto, Marotta Dukung Cristian Chivu Dapat Kontrak Panjang

Pelatih Inter Milan Cristian Chivu sukses membawa Nerazzurri meraih gelar Juara Serie A musim 2025/2026. Ia mendapat dukungan untuk dikontrak jangka panjang. (The Sun/Getty)

MILAN, UNHAS.TV - Presiden Inter Milan Giuseppe Marotta memberi dukungan penuh kepada Cristian Chivu setelah pelatih asal Rumania itu membawa Nerazzurri meraih gelar Serie A musim 2025/2026. Marotta menilai Chivu memiliki kualitas untuk memimpin Inter dalam jangka panjang.

Inter memastikan Scudetto setelah mengalahkan Parma 2-0. Kemenangan atas bekas klub Chivu itu mengunci gelar Serie A ke-21 bagi Inter, ketika kompetisi masih menyisakan tiga pertandingan. Keberhasilan ini menegaskan dominasi Inter sepanjang musim.

Bagi Inter, gelar tersebut juga masuk dalam catatan penting sejarah klub. Ini menjadi kali keenam Nerazzurri memastikan gelar liga dengan sedikitnya tiga pertandingan tersisa. Capaian itu menunjukkan betapa stabil dan kuatnya performa Inter sejak awal musim.

Marotta mengatakan keputusan menunjuk Chivu diambil secara cepat setelah Simone Inzaghi meninggalkan klub pada akhir musim 2025 lalu.

Saat itu, Inter baru saja melewati musim tanpa trofi. Kekalahan telak 0-5 dari Paris Saint-Germain pada final Liga Champions juga menjadi salah satu titik yang membuat kerja sama dengan Inzaghi berakhir melalui kesepakatan bersama.

Menurut Marotta, manajemen Inter tidak membutuhkan waktu lama untuk menentukan arah baru. Setelah pemutusan kontrak dengan Inzaghi disepakati pada Senin, Inter langsung memutuskan memilih Chivu sehari kemudian.

“Seperti yang juga dikonfirmasi Inzaghi, pemutusan kontrak berdasarkan kesepakatan bersama terjadi pada Senin. Pada Selasa, kami memutuskan untuk memilih Chivu,” kata Marotta kepada DAZN Italia.

Marotta mengakui penunjukan Chivu merupakan keputusan berani. Namun ia menegaskan pilihan itu bukan keputusan emosional. Manajemen Inter menilai Chivu memiliki rekam jejak kuat, baik sebagai pemain maupun pelatih.

Chivu bukan sosok asing bagi Inter. Saat masih bermain, ia menjadi bagian dari tim yang meraih treble winner bersama pelatih Jose Mourinho. Ia juga pernah menjadi kapten Ajax pada usia 21 tahun.

Setelah gantung sepatu, Chivu membangun karier kepelatihan dari sektor muda Inter dan berhasil membawa tim muda klub meraih prestasi. Ia juga punya pengalaman menyelamatkan Parma dari ancaman degradasi.

“Itu pilihan yang berani, tetapi juga sudah dipertimbangkan. Chivu punya kurikulum sebagai pemain, memenangi treble di sini, menjadi kapten Ajax pada usia 21 tahun, menang bersama tim muda Inter sebagai pelatih, dan membawa Parma bertahan,” ujar Marotta.

Menurut Marotta, keraguan terhadap Chivu lebih banyak terkait pengalaman di level tertinggi. Namun manajemen Inter percaya kekurangan itu dapat ditutupi melalui dukungan klub. Hasilnya, Chivu langsung menjawab dengan gelar liga pada musim pertamanya.

“Kami tidak pernah meragukan kemampuannya. Mungkin ia sedikit kurang pengalaman, tetapi kami mendukungnya untuk menutup celah itu. Ia bisa dan harus bertahan di Inter selama bertahun-tahun karena memiliki kualitas besar,” kata Marotta.

Keberhasilan ini membawa Chivu masuk dalam kelompok elite pelatih Inter. Ia menjadi pelatih kelima yang mampu memenangi Scudetto pada musim Serie A pertamanya bersama klub. Chivu juga menjadi yang pertama melakukan hal tersebut sejak Jose Mourinho pada musim 2008-2009.

Dominasi Inter terlihat dari sejumlah catatan statistik. Nerazzurri kembali menembus sedikitnya 80 poin dalam satu musim Serie A pada era tiga poin untuk kemenangan. Ini merupakan kali ke-12 Inter mencapai angka tersebut dalam sejarah klub.

Lini serang Inter juga tampil tajam. Hingga pekan ke-35, Inter telah mencetak 82 gol di Serie A. Dalam 75 tahun terakhir, Inter tidak pernah mencetak gol lebih banyak dari jumlah itu dalam 35 pertandingan pertama sebuah musim liga. Catatan ini mempertegas kualitas permainan menyerang yang dibangun Chivu.

Meski Scudetto telah diamankan, musim Inter belum selesai. Nerazzurri masih berpeluang menambah trofi melalui final Coppa Italia melawan Lazio pada 13 Mei.

Laga itu menjadi kesempatan bagi Chivu untuk memperkuat statusnya sebagai pelatih yang langsung menghadirkan gelar pada tahun pertama.

Chivu mengatakan gelar ini memiliki makna besar baginya. Ia menyebut dirinya sudah menjadi bagian dari sejarah Inter sejak masih aktif sebagai pemain. Namun memenangkan Scudetto sebagai pelatih memberi kebahagiaan tersendiri.

“Saya sudah menjadi bagian dari sejarah Inter sebelum Scudetto ini,” kata Chivu. “Saya bahagia untuk para pemain, klub, dan para penggemar.”

Menurut Chivu, keberhasilan Inter tidak datang dengan mudah. Tim harus membangun kembali kepercayaan diri setelah musim sebelumnya berakhir tanpa trofi. Perubahan di dalam skuad dan staf juga menuntut respons cepat dari seluruh elemen klub.

“Tim ini bekerja keras, membangun kembali, dan menemukan motivasi yang tepat untuk menjalani musim kompetitif. Mereka melakukannya, dan saya bahagia untuk mereka,” ujar Chivu.

Chivu menyebut Scudetto ke-21 sebagai bab penting dalam sejarah besar Inter. Ia juga membandingkan kebahagiaannya dengan saat masih meraih trofi sebagai pemain, meski kini dalam fase kehidupan yang berbeda.

“Saya sama bahagianya seperti ketika menang sebagai pemain, meski saat itu saya lebih muda, rambut saya lebih panjang, dan uban saya lebih sedikit,” kata Chivu.

Gelar ini memperkuat posisi Chivu di Inter. Ia kini bukan hanya dikenang sebagai mantan pemain treble, tetapi juga pelatih yang membawa Nerazzurri kembali ke puncak Serie A.

Dengan dukungan terbuka dari Marotta dan peluang meraih Coppa Italia, Inter menunjukkan keyakinan bahwa era Chivu baru saja dimulai. (*)