MAKASSAR, UNHAS.TV — Kue tradisional khas Sulawesi Selatan, burongko, kini mengalami berbagai perkembangan di era modern. Tidak hanya dari segi rasa, tetapi juga dari penyajian hingga kemasan yang semakin beragam mengikuti perubahan selera masyarakat.
Burongko yang dikenal sebagai kue berbahan dasar pisang, santan, dan gula, kini hadir dengan sejumlah inovasi. Varian rasa seperti gula merah, kenari, hingga gula pasir menjadi bentuk adaptasi terhadap preferensi konsumen masa kini.
Selain itu, cara penyajian burongko pun semakin fleksibel. Kue ini dapat dinikmati dalam kondisi hangat setelah dikukus maupun disajikan dingin, memberikan sensasi berbeda bagi penikmatnya.
Perubahan juga terlihat dari segi kemasan. Jika sebelumnya identik dengan balutan daun pisang, kini burongko mulai dikemas dalam wadah praktis seperti plastik atau kaca. Meski demikian, penggunaan kemasan modern dinilai sedikit mengurangi nilai autentik dari kue tradisional tersebut.
Mahasiswi Magister Antropologi Universitas Hasanuddin, Ananda Awalia Nurfadhya, menilai bahwa perkembangan ini merupakan bentuk penyesuaian terhadap zaman tanpa sepenuhnya meninggalkan akar tradisi.
"Jadi kalau kita lihat sekarang itu era modern yang dimana makanan-makanan tradisional itu sudah banyak mengalami perkembangan. Jadi tidak hanya cita rasa yang autentik memang, tapi di era modern saat ini sudah disajikan opsi lain ya, yang dimana seperti barongko itu ada burongko gula merah, ada barongko kenari, ada juga burongko gula pasir. Jadi terdapat penyesuaian-penyesuaian cita rasa yang disesuaikan dengan selera masyarakat masa kini. Terus ada juga beberapa penyajian, dimana orang-orang lebih suka makan barongko saat masih panas, tapi ada juga yang lebih suka disajikan dingin seperti es krim," ucapnya.
Ananda menambahkan, dari sisi kemasan kini burongko juga mulai menggunakan bahan plastik demi kepraktisan, meskipun sedikit mengurangi keasliannya. Namun, dalam acara tradisional, penggunaan daun pisang masih tetap dipertahankan.
Di tengah gempuran dessert modern, burongko memang sempat mengalami penurunan minat. Namun, kehadiran media sosial membuka peluang baru untuk memperkenalkan kembali kuliner tradisional ini kepada generasi muda.
Pelestarian burongko tidak hanya bergantung pada inovasi rasa, tetapi juga pada kesadaran masyarakat untuk menjaga dan mengenalkan kembali warisan budaya lokal agar tetap relevan di tengah arus modernisasi.(*)
Andrea Ririn Karina (UNHAS TV)
BURONGKO - Mahasiswi Magister Antropologi Universitas Hasanuddin, Ananda Awalia Nurfadhya, membahas mengenai burongko di program Field Notes Unhas TV. Foto Unhas TV








