MAKASSAR, UNHAS.TV - Penurunan jumlah ATM Bitcoin global hingga 28 persen menjadi sorotan di tengah pesatnya digitalisasi keuangan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan terkait dampaknya terhadap akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital.
Penurunan jumlah ATM Bitcoin secara global menunjukkan adanya dinamika dalam ekosistem keuangan digital. Fenomena ini tidak hanya dipengaruhi faktor internal, tetapi juga faktor eksternal yang bersifat global.
Konflik geopolitik di berbagai wilayah, termasuk Timur Tengah, dinilai turut memberikan dampak terhadap pergerakan aset digital, termasuk Bitcoin dan infrastruktur pendukungnya.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Dr Sri Undai Nurbayani SE MSi menilai faktor global menjadi salah satu penyebab utama penurunan tersebut.
“Kalau kita mau lihat dari sisi penurunannya, tidak lepas dari konflik Timur Tengah yang juga berperan secara global. Sehingga ketika itu terjadi secara global, Indonesia juga ikut terdampak,” ujarnya.
Selain faktor global, kondisi domestik juga turut memengaruhi perkembangan layanan Bitcoin. Kebijakan ekonomi dan perkembangan teknologi digital menjadi penentu dalam penyediaan serta pemanfaatan ATM Bitcoin.
“Sebenarnya ada faktor internal dan eksternal. Dari sisi internal, domestik berperan dalam penyediaan Bitcoin. Sementara dari sisi eksternal, kebijakan ekonomi global turut berpengaruh, ditambah dengan era digitalisasi yang membuat informasi menyebar sangat cepat,” jelasnya.
Keberadaan ATM Bitcoin dinilai memiliki peran dalam mendorong inklusi keuangan digital. Jika dimanfaatkan secara optimal, layanan ini dapat memperkuat aktivitas ekonomi, khususnya dalam transaksi berbasis digital.
Namun, di Indonesia, pengaruhnya masih sangat bergantung pada tingkat penggunaan di skala internasional. Semakin besar adopsi global, maka dampaknya akan semakin terasa di dalam negeri.
Meski terjadi penurunan, dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dinilai masih dalam batas aman. Hal ini disebabkan tingkat adopsi dan pemanfaatan ATM Bitcoin di dalam negeri yang masih terbatas.
Ke depan, perkembangan teknologi dan kebijakan global akan menjadi faktor kunci dalam menentukan sejauh mana layanan keuangan digital berbasis kripto dapat diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
Dosen FEB Universitas Hasanuddin, Dr Sri Undai Nurbayani SE MSi. (Dok Unhas TV/ Andrea Ririn Karina)








