LONDON, UNHAS.TV - Bek Arsenal, Gabriel Magalhaes, masih mengingat jelas momen paling pahit dalam perjalanan kariernya ketika gagal mengeksekusi penalti penentu pada final Liga Champions musim lalu.
Tendangannya melambung di atas mistar gawang dan membuka jalan bagi Paris Saint-Germain meraih gelar Eropa kedua secara beruntun.
Namun, lima bulan setelah malam kelam di Budapest itu, pemain asal Brasil tersebut memilih tidak bersembunyi dari kegagalan.
Gabriel justru berjanji akan kembali maju jika Arsenal membutuhkan dirinya sebagai eksekutor penalti pada kesempatan berikutnya.
Bek berusia 28 tahun itu mengakui kegagalan tersebut meninggalkan luka mendalam. Sebagai pemain yang tidak dikenal memiliki kemampuan utama dalam mengambil penalti, Gabriel bahkan belum pernah menjadi penendang penalti Arsenal sebelum laga final tersebut.
Meski demikian, ia secara sukarela mengambil tanggung jawab sebagai penendang kelima Arsenal dalam drama adu penalti menghadapi Paris Saint-Germain.
Keputusannya berakhir dengan kekecewaan setelah bola hasil tendangannya melambung, membuat Arsenal kehilangan peluang meraih dua gelar sekaligus.
“Saya tentu sedih dan saya tidak ingin gagal dalam penalti itu. Tetapi saya sudah belajar dari pengalaman tersebut. Jika saya mendapatkan kesempatan lagi, saya akan siap mengambilnya,” kata Gabriel.
Ia menegaskan tidak akan menghindari situasi serupa apabila kembali dipercaya. Baginya, kegagalan tersebut merupakan bagian dari perjalanan seorang pesepak bola yang harus mampu menghadapi tekanan besar.
“Jika saya mendapatkan penalti lagi, saya akan berada di sana untuk mengambilnya. Rekan-rekan saya sangat membantu saya,” ujar Gabriel.
Dukungan terhadap Gabriel datang tidak hanya dari rekan setimnya di Arsenal, tetapi juga dari pemain lawan. Kapten Paris Saint-Germain, Marquinhos, menjadi salah satu sosok pertama yang menghampiri Gabriel setelah kegagalan tersebut.
Marquinhos, yang juga berasal dari Brasil, memberikan pelukan dan dukungan kepada Gabriel dalam momen penuh emosi itu.
Sikap tersebut kemudian membuat Marquinhos menerima penghargaan perdana UEFA Respect: Beyond the Game Award pada Agustus lalu.
Dari Kegagalan Penalti Menuju Kepemimpinan Arsenal
Gabriel mengaku dukungan dari rekan-rekan senegaranya di tim nasional Brasil juga membantunya melewati masa sulit tersebut. Setelah final Liga Champions, ia mendapat banyak pesan positif dari pemain Brasil dan staf pelatih saat mengikuti agenda internasional.
“Dalam sepak bola apa pun bisa terjadi. Setelah penalti di final, mereka langsung memeluk saya. Saya hanya ingin melupakan momen itu. Para pemain Brasil dan pelatih memberikan banyak hal positif kepada saya,” katanya.
Menurut Gabriel, kegagalan di pertandingan terbesar justru menjadi pengalaman berharga untuk memperkuat mentalnya. Ia tidak ingin menjadikan kesalahan tersebut sebagai beban, melainkan sebagai motivasi untuk berkembang.
Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, melihat kegagalan tersebut sebagai gambaran perubahan besar Gabriel sejak bergabung dari Lille pada 2020. Saat itu, Arsenal mendatangkan sang bek dengan nilai transfer sekitar 26 juta poundsterling.
Arteta menilai Gabriel telah berkembang menjadi salah satu pemimpin penting di ruang ganti Arsenal. Transformasi tersebut tidak hanya terlihat dari kemampuan bertahan, tetapi juga keberanian mengambil tanggung jawab dalam situasi penuh tekanan.
“Saya sangat bangga dengan apa yang telah dia lakukan dan bagaimana cara dia melakukannya. Perubahannya sebagai pribadi dan perkembangan kualitasnya membuat dia menjadi salah satu pemimpin besar di tim dan klub ini,” ujar Arteta.
Menurut Arteta, keputusan Gabriel mengambil penalti menunjukkan karakter seorang pemain yang siap menerima tanggung jawab, meskipun hasil akhirnya tidak sesuai harapan.
“Pada momen itu hasilnya memang tidak berjalan baik, tetapi saya yakin jika kami mendapatkan kesempatan yang sama lagi, dia akan melakukan hal yang sama,” kata Arteta.
Musim ini, Gabriel kembali menjadi pilar utama lini pertahanan Arsenal. Ia membantu proses adaptasi Ezri Konsa setelah William Saliba harus menepi akibat cedera. Konsistensinya membuat Gabriel menjadi salah satu bek paling dihormati di Eropa.
Pemain yang telah mengoleksi 24 caps bersama tim nasional Brasil itu juga masuk dalam daftar PFA Team of the Year selama tiga musim berturut-turut. Catatan tersebut menjadi bukti pengaruhnya terhadap performa Arsenal dalam beberapa tahun terakhir.
Kini, Gabriel mengalihkan fokusnya pada target yang lebih besar. Arsenal kembali memiliki peluang bersaing di Liga Champions dan ingin menjadikan pengalaman pahit musim lalu sebagai bahan bakar untuk meraih trofi.
“Kami sangat termotivasi dan ingin mengejar setiap gelar. Sekarang kami memiliki kesempatan lain untuk menang di Liga Champions. Kami bermain di kandang dan kami siap menghadapi tantangan itu,” ujar Gabriel.
Bagi Gabriel Magalhaes, kegagalan penalti di Budapest bukan akhir cerita. Itu adalah titik balik yang membentuk mental seorang pemain yang kini siap menghadapi tekanan lebih besar demi membawa Arsenal menuju kejayaan Eropa. (*)
Lupakan gagal penalti di final, Bek Arsenal Gabriel Magalhaes siap tampil di Liga Champions. (Screenshot The Sun)








