Laporan Fakhrul Indra Hermansyah dari Malang, Jawa Timur
Bagaimana cara membangun bisnis kampus yang sehat, profesional, dan berkelanjutan? Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah dalam kunjungan benchmarking Universitas Hasanuddin ke Universitas Brawijaya, Malang.
Di tengah upaya memperkuat PT Hadin Metavisi Akademika (Hadin) sebagai holding company atau Badan Usaha Milik Universitas (BUMU), tim Universitas Hasanuddin datang untuk mempelajari satu hal yang sering luput dari perhatian: bisnis kampus tidak dibangun dari unit usaha semata, melainkan dari sistem yang menopangnya.
Delegasi Universitas Hasanuddin yang terdiri atas perwakilan Majelis Wali Amanat, Direktorat Pengembangan Usaha dan Pemanfaatan Aset, Direktorat Logistik, serta akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis disambut oleh jajaran Universitas Brawijaya yang selama ini dikenal memiliki tata kelola usaha kampus yang relatif matang.
Diskusi dimulai dari hal yang paling mendasar. Universitas Brawijaya menjelaskan bahwa pengembangan usaha universitas tidak dapat berdiri sendiri. Ia harus dibangun melalui sebuah sistem yang utuh, mulai dari perumusan kebijakan pengembangan usaha, pengelolaan aset, hilirisasi inovasi, hingga evaluasi kinerja setiap unit bisnis secara berkala.
Dalam ekosistem tersebut, Badan Pengelola Usaha memiliki posisi yang sangat strategis. Bukan hanya sebagai pengelola bisnis, tetapi juga sebagai institusi yang merumuskan arah pengembangan usaha, mengelola aset universitas, menjadi jembatan dalam proses hilirisasi inovasi, sekaligus melakukan monitoring dan evaluasi kinerja melalui indikator yang terukur.
Bagi tim Universitas Hasanuddin, salah satu pelajaran paling menarik adalah cara Universitas Brawijaya membangun ekosistem bisnisnya. Tidak semua usaha ditempatkan dalam satu bentuk kelembagaan yang sama.
Sebagian unit berada dalam bentuk badan hukum. Sebagian lainnya dikelola sebagai unit non-badan hukum. Ada pula yang ditempatkan dalam Unit Kerja Khusus.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengembangan usaha universitas tidak harus menggunakan satu resep yang seragam. Bentuk kelembagaan dapat disesuaikan dengan karakter usaha, kebutuhan legal, tingkat risiko, sumber pendapatan, serta kapasitas pengelolaan masing-masing unit.

Dalam diskusi tersebut, Universitas Brawijaya juga menunjukkan betapa pentingnya peran regulasi dalam membangun bisnis kampus yang sehat. Dukungan Majelis Wali Amanat menjadi fondasi utama yang memastikan seluruh aktivitas bisnis berjalan sesuai koridor tata kelola yang baik.
Hubungan antara universitas dan unit usaha dibangun melalui mekanisme yang jelas. Mulai dari perjanjian kerja antara Majelis Wali Amanat dan Rektor, kemudian antara Rektor dan Direktur Badan Pengelola Usaha, hingga antara Direktur BPU dan pimpinan unit usaha.
Dengan pola seperti itu, setiap target, kewenangan, dan tanggung jawab dapat diukur secara akuntabel.
Pengelolaan pendapatan pun dilakukan secara proporsional. Sistem dividen diterapkan secara terukur, sementara harmonisasi tata kelola dan manajemen risiko terus dijaga agar seluruh entitas bisnis tetap bergerak dalam arah yang sama.
Di sisi lain, Universitas Brawijaya juga menunjukkan bagaimana portofolio bisnis universitas dapat berkembang melalui berbagai sektor.
Rumah Sakit Universitas Brawijaya menjadi salah satu sumber pendapatan strategis yang berada dalam kategori Unit Kerja Khusus. Di sektor hospitality, universitas mengelola UB Guest House. Sementara di sektor kreatif terdapat UB Merch and Creative yang berada dalam ekosistem PT Brawijaya Multi Usaha.
Holding tersebut juga memiliki anak perusahaan bernama PT Brawijaya Core Indonesia yang bergerak di bidang pelatihan dan konsultansi.
Dari pengalaman tersebut, tim Universitas Hasanuddin memperoleh gambaran bahwa layanan kesehatan, hospitality, merchandise, pelatihan, konsultansi, serta pemanfaatan aset dapat menjadi bagian dari portofolio bisnis universitas selama dikelola melalui struktur organisasi yang tepat, target yang jelas, dan sistem pengawasan yang kuat.
Namun pelajaran dari Universitas Brawijaya tidak berhenti pada jenis usaha yang dikelola. Yang lebih penting adalah bagaimana usaha-usaha tersebut dikendalikan.
Dalam pemaparannya, Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa holding company universitas membutuhkan struktur organisasi yang profesional. Tidak cukup hanya memiliki direksi dan unit bisnis.
Di dalamnya harus terdapat fungsi pengawasan, legal, operasional, keuangan, manajemen risiko, pemasaran dan pengembangan usaha, sekretaris perusahaan, hingga pengelolaan anak perusahaan dan strategic business unit.
Struktur tersebut memastikan bahwa holding tidak hanya berfokus pada pembentukan unit usaha baru, tetapi juga memperkuat sistem pengendalian, audit, manajemen risiko, kepatuhan hukum, dan akuntabilitas kinerja.
Pembahasan kemudian mengarah pada penyusunan roadmap bisnis.
Universitas Brawijaya menekankan bahwa pengembangan usaha kampus harus berbasis data, logis, berorientasi profit, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada pimpinan universitas.
Sebuah roadmap yang baik harus mampu menjelaskan arah portofolio bisnis, klasterisasi anak perusahaan, target pendapatan, strategi restrukturisasi, kebutuhan sumber daya manusia profesional, indikator kinerja, hingga berbagai risiko yang perlu dimitigasi.
Setiap anak perusahaan juga harus memiliki struktur organisasi dan manajemen sendiri sehingga tanggung jawab operasional maupun target bisnis dapat diukur secara jelas.
Bagi Universitas Hasanuddin, seluruh pembelajaran tersebut menjadi masukan penting dalam memperkuat Hadin sebagai holding company universitas.
Beberapa agenda strategis yang mengemuka selama diskusi antara lain pentingnya klasterisasi portofolio bisnis, penetapan target berbasis KPI, penguatan fungsi audit internal yang independen, penyusunan sistem manajemen risiko, serta kejelasan hubungan antara pemegang saham, komisaris, direksi holding, klaster bisnis, dan anak perusahaan.
Semua itu menjadi fondasi yang harus dibangun apabila Hadin ingin berkembang sebagai badan usaha universitas yang profesional dan berkelanjutan.
Dari Malang, tim Universitas Hasanuddin membawa pulang lebih dari sekadar contoh unit usaha atau struktur organisasi. Mereka membawa sebuah pemahaman bahwa bisnis kampus yang kuat lahir dari tata kelola yang kuat.
Karena pada akhirnya, tujuan Hadin bukan sekadar mengelola bisnis. Lebih dari itu, Hadin diharapkan menjadi instrumen strategis Universitas Hasanuddin untuk mengelola aset, mengembangkan portofolio usaha, memperkuat hilirisasi inovasi, dan menopang kemandirian ekonomi universitas dalam jangka panjang.
Perjalanan ke Universitas Brawijaya memberikan satu pesan yang jelas: bisnis kampus yang berkelanjutan tidak dibangun oleh keberuntungan, melainkan oleh sistem, disiplin tata kelola, dan keberanian untuk berpikir jangka panjang.






-300x158.webp)

