News

Belajar dari ITS, Unhas Perkuat Hilirisasi Riset Melalui Hadin

SURABAYA, UNHAS.TV – Universitas Hasanuddin (Unhas) melakukan benchmarking ke Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk mempelajari pengelolaan usaha perguruan tinggi, hilirisasi inovasi, serta penguatan peran PT Hadin Metavisi Akademika (Hadin) sebagai holding company atau Badan Usaha Milik Universitas (BUMU) Unhas.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian benchmarking ke sejumlah perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH) dalam rangka penyusunan model pengembangan usaha dan tata kelola Hadin.

Delegasi Unhas terdiri atas perwakilan Majelis Wali Amanat, Direktorat Pengembangan Usaha dan Pemanfaatan Aset, Direktorat Logistik, serta akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Dalam kunjungan tersebut, tim berdiskusi dengan Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi, Direktorat Kerja Sama dan Pengelolaan Usaha, serta PT ITS Tekno Sains sebagai entitas bisnis ITS.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Fakhrul Indra Hermansyah, mengatakan bahwa ITS memberikan perspektif penting mengenai bagaimana universitas membangun ekosistem yang mampu menghubungkan riset, inovasi, kerja sama, dan kebutuhan industri secara terintegrasi.

“Yang menarik dari ITS adalah pengembangan bisnis universitas tidak berdiri sendiri. Semua dimulai dari riset dan inovasi, kemudian diperkuat melalui Science Techno Park, kerja sama strategis, dan akhirnya dikembangkan melalui entitas bisnis yang profesional,” ujarnya.

Menurut Fakhrul, ITS menempatkan Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi sebagai salah satu pilar utama dalam proses hilirisasi hasil riset. Melalui Science Techno Park, Transfer Technology Office, inkubator bisnis inovasi, dan berbagai klaster berbasis pusat unggulan IPTEK, hasil penelitian diarahkan untuk berkembang menjadi produk, layanan, lisensi, maupun kerja sama industri yang memiliki nilai ekonomi.

Selain itu, Direktorat Kerja Sama dan Pengelolaan Usaha berperan sebagai penghubung antara kapasitas akademik kampus dan kebutuhan mitra eksternal. ITS menunjukkan bahwa kerja sama profesional dapat menjadi salah satu sumber pendapatan penting melalui kemitraan dengan pemerintah, BUMN, industri, dan sektor swasta.

“ITS memperlihatkan bahwa bisnis universitas tidak hanya bertumpu pada aset fisik. Keahlian dosen, reputasi institusi, laboratorium, pusat studi, dan kapasitas akademik dapat dikemas menjadi layanan profesional yang memiliki nilai ekonomi,” kata Fakhrul.

Dalam kunjungan tersebut, tim Unhas juga mempelajari peran PT ITS Tekno Sains sebagai kendaraan bisnis yang mengakomodasi berbagai bentuk kerja sama yang membutuhkan entitas usaha.

Melalui perusahaan tersebut, ITS mengembangkan layanan konsultasi, komersialisasi produk inovasi, serta berbagai lini usaha yang berorientasi pada kebutuhan pasar. Jasa konsultasi bahkan menjadi salah satu sumber pendapatan utama yang didukung oleh jejaring kerja sama yang luas.

Fakhrul menilai pembelajaran dari ITS memberikan gambaran yang relevan bagi pengembangan Hadin ke depan. Menurutnya, Hadin perlu diposisikan tidak hanya sebagai pengelola anak usaha, tetapi sebagai strategic holding yang mampu menghubungkan sumber daya akademik, laboratorium, pusat studi, tenaga ahli, aset, dan jaringan kemitraan menjadi produk, layanan, kontrak, serta sumber pendapatan yang terukur.

“ITS menunjukkan pentingnya pembagian peran yang jelas. Universitas tetap fokus pada mandat akademik, riset, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Sementara entitas holding berfungsi sebagai instrumen profesional untuk mengelola portofolio bisnis, membangun kemitraan, melakukan komersialisasi, dan memastikan tata kelola berjalan dengan baik,” jelasnya.

Melalui benchmarking tersebut, Universitas Hasanuddin memperoleh berbagai masukan mengenai pentingnya membangun ekosistem bisnis yang terintegrasi. Riset dan inovasi harus memiliki jalur menuju pasar, aset perlu dikelola secara produktif, kerja sama harus berkembang menjadi peluang usaha, dan holding company harus mampu menjadi penghubung antara kekuatan universitas dan kebutuhan dunia industri.

Hasil kunjungan ke ITS akan menjadi salah satu referensi dalam penyusunan arah pengembangan Hadin sebagai holding company Universitas Hasanuddin yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan, tetapi juga mendukung hilirisasi inovasi, memperluas kontribusi universitas bagi industri dan masyarakat, serta memperkuat kemandirian kelembagaan Unhas sebagai PTNBH.