MAKASSAR, UNHAS.TV - Menempuh pendidikan di luar negeri tidak hanya membuka kesempatan untuk memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga menghadirkan pengalaman mengenal bahasa, budaya, dan kehidupan masyarakat yang berbeda.
Bagi mahasiswa internasional, proses tersebut menjadi bagian dari perjalanan untuk memperluas wawasan sekaligus mempersiapkan diri mencapai cita-cita di masa depan.
Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi salah satu perguruan tinggi di Indonesia yang menjadi tujuan mahasiswa dari berbagai negara.
Kehadiran mahasiswa internasional turut menghadirkan interaksi lintas budaya di lingkungan kampus sekaligus membuka ruang bagi pertukaran pengalaman dan pengetahuan.
Kesempatan tersebut salah satunya dijalani Halimat Nichat Gamal, mahasiswa internasional asal Madagaskar yang memilih melanjutkan pendidikan di Program Studi Kesehatan Masyarakat Unhas.
Keputusan Halima menempuh pendidikan di Indonesia tidak hanya didasarkan pada pertimbangan akademik. Keinginannya memperoleh pengalaman di negara lain serta mengenal budaya dan tradisi baru menjadi bagian dari alasan memilih Indonesia.
Bagi Halima, kehidupan masyarakat Indonesia menjadi sesuatu yang menarik untuk dipelajari secara langsung. Ia juga tertarik dengan kehidupan masyarakat Muslim di Indonesia yang memiliki latar budaya berbeda dengan negara asalnya.
“Saya memilih Indonesia untuk studi karena ingin mengenal budaya dan tradisi baru. Indonesia juga dikenal dengan masyarakat Muslimnya, dan Islam merupakan agama saya. Saya ingin mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat Indonesia di negara ini. Bagi saya, itu sangat menarik,” ujar Halima.
Ketertarikan tersebut kemudian membawanya ke Makassar dan Universitas Hasanuddin. Bidang Kesehatan Masyarakat yang ingin dipelajarinya menjadi salah satu pertimbangannya dalam memilih Unhas.
Selain bidang akademik, Halima juga memperoleh informasi mengenai lingkungan Unhas yang terbuka bagi mahasiswa dari berbagai negara.
“Saya memilih Unhas karena bidang Kesehatan Masyarakat. Saya juga mendengar bahwa Universitas Hasanuddin terbuka terhadap mahasiswa internasional dan saya pikir ini merupakan pilihan yang baik bagi saya,” jelasnya.
Belajar Bahasa Indonesia sebagai Langkah Awal
Halima datang ke Indonesia melalui Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Sebelum mengikuti perkuliahan pada program studinya, ia terlebih dahulu menjalani program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) sebagai persiapan untuk berkomunikasi dan mengikuti kegiatan akademik selama berada di Indonesia.
Berada di negara dengan bahasa yang berbeda membuat kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu bagian penting dalam proses adaptasi. Karena itu, sebelum memulai perkuliahan secara penuh di Program Studi Kesehatan Masyarakat, Halima terlebih dahulu mengikuti program BIPA.
Melalui program tersebut, ia mempelajari Bahasa Indonesia agar lebih mudah berkomunikasi dengan mahasiswa lain sekaligus mempersiapkan diri mengikuti proses pembelajaran.
“Sekarang saya mengikuti program BIPA, yaitu program untuk belajar Bahasa Indonesia. Setelah bisa berbahasa Indonesia, kita dapat belajar di program studi dan lebih mudah berbicara dengan teman-teman,” katanya.
Bagi Halima, mempelajari bahasa tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan akademik. Kemampuan berbahasa Indonesia juga membantunya memahami lingkungan sosial dan membangun interaksi selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa internasional di Makassar.
Perjalanan Halima dari Madagaskar hingga dapat menempuh pendidikan di Indonesia didukung melalui Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dari Pemerintah Indonesia.
Halima menjelaskan, beasiswa tersebut memberikan dukungan terhadap sejumlah kebutuhan mahasiswa internasional selama menjalani pendidikan di Indonesia, termasuk biaya hidup, asuransi, dan perjalanan.
“Beasiswa saya adalah KNB Scholarship. Beasiswa ini berasal dari Pemerintah Indonesia. Ada dukungan seperti biaya hidup bulanan, asuransi, dan tiket,” ungkapnya.
Dukungan tersebut memberinya kesempatan untuk menempuh pendidikan sekaligus memperoleh pengalaman hidup di lingkungan yang berbeda dari negara asalnya.
Sambutan di Makassar Menjadi Pengalaman Berkesan
Sebelum tiba di Indonesia, Halima telah memperoleh sejumlah gambaran mengenai kehidupan di Makassar. Salah satunya mengenai cuaca panas yang menjadi karakteristik kota tersebut. Kondisi itu tidak terlalu asing baginya karena Madagaskar juga memiliki cuaca yang relatif panas.
Ia juga mengetahui Makassar sebagai kota besar dan memperoleh gambaran mengenai lingkungan Unhas yang hijau serta masyarakat kampus yang terbuka terhadap pendatang.
Namun, pengalaman yang paling membekas bagi Halima justru berasal dari interaksi yang dijalaninya pada masa awal kedatangan di Makassar.
Ketika baru tiba, ia menjalani sejumlah proses administrasi, termasuk pembuatan rekening bank. Dalam proses tersebut, Halima bertemu dengan mahasiswa relawan yang membantu mahasiswa internasional mengenal lingkungan barunya.
“Ketika saya tiba di Makassar, kami pergi membuat rekening bank. Setelah itu kami bertemu dengan seorang relawan dari International Office. Ia menyambut kami dengan sangat baik," ujarnya.
"Kemudian kami pergi ke kantin, bertemu orang lain, dan mendapatkan teman baru. Itu menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya,” tutur Halima.
Pertemuan tersebut menjadi bagian awal proses adaptasinya. Dari interaksi sederhana di lingkungan kampus, Halima mulai membangun pertemanan dan mengenal kehidupan yang akan dijalaninya selama menempuh pendidikan di Unhas.
Perjalanan Halima dari Madagaskar ke Makassar tidak hanya didorong oleh keinginan memperoleh pengalaman internasional. Ia memiliki tujuan jangka panjang yang berkaitan erat dengan bidang pendidikan yang dipilihnya.
Melalui Kesehatan Masyarakat, Halima ingin memperoleh pengetahuan yang kelak dapat digunakan untuk memberikan kontribusi bagi negara asalnya.
Ia berencana menyelesaikan pendidikan sarjana terlebih dahulu dan memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah menyelesaikan studinya, Halima berharap dapat kembali ke Madagaskar dan berkontribusi terhadap pengembangan sistem kesehatan.
“Harapan pertama saya adalah menyelesaikan studi. Setelah itu saya ingin melanjutkan pendidikan. Setelah menyelesaikannya, saya ingin kembali ke negara saya dan membantu meningkatkan sistem kesehatan di sana,” ujarnya.
Bagi Halima, pendidikan di Unhas dengan demikian bukan sekadar perjalanan akademik jauh dari negara asal.
Proses mempelajari Bahasa Indonesia, beradaptasi dengan budaya baru, membangun pertemanan, dan mendalami ilmu Kesehatan Masyarakat menjadi bagian dari langkah yang sedang ia susun untuk masa depan.
Dari Madagaskar ke Makassar, Halima menata asa melalui pendidikan. Pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya di Unhas diharapkan kelak menjadi bekal untuk kembali ke negara asal dan memberikan kontribusi bagi masyarakat Madagaskar.
(Mustika Syaharuddin / Kautsar Ardiansyah R / Unhas TV)
Halimat Nichat Gamal, mahasiswa internasional asal Madagaskar di Program Studi Kesehatan Masyarakat Unhas. (Unhas TV / Kautsar Ardiansyah)








