Catatan Anwar Mattawape dari China*
Wenling bukanlah kota yang populer di telinga orang Indonesia. Kota di Provinsi Zhejiang, China, ini tidak sebesar Beijing atau Shanghai. Namun, di kota inilah saya menemukan cerita menarik tentang bagaimana China membangun kekuatan industrinya hingga mampu bersaing di pasar dunia.
Saya datang ke Wenling untuk mengenal lebih dekat QJ Motor, sebuah pabrikan sepeda motor yang kini mulai merambah pasar Indonesia. QJ merupakan singkatan dari Qianjiang, nama yang melekat pada asal-usul perusahaan ini.
Ada satu hal menarik dari China. Mereka tidak memusatkan seluruh industrinya di kota-kota besar. Setiap wilayah didorong mengembangkan keunggulan masing-masing. Ada kota yang menjadi pusat elektronik, baterai, kendaraan listrik, hingga otomotif. Wenling adalah salah satu contohnya.
Di negeri ini, industrialisasi tidak selalu berarti membangun kawasan industri raksasa di sekitar ibu kota. Kota-kota yang sebelumnya kurang dikenal justru tumbuh menjadi simpul manufaktur yang terhubung dengan pasar global.
Mereka memiliki spesialisasi, jaringan pemasok, tenaga kerja terampil, dan kemampuan produksi yang terus berkembang.
Dari Wenling ke Pasar Dunia
QJ Motor kini berada dalam ekosistem bisnis Geely, raksasa otomotif China yang dikenal melalui akuisisi Volvo Cars dan Lotus. Jaringan industri Qianjiang juga mencakup merek-merek sepeda motor internasional seperti Benelli, Keeway, dan Morbidelli.
Mereka bahkan pernah menjalin kerja sama manufaktur dengan nama besar seperti Harley-Davidson dari Amerika dan MV Agusta dari Italia.
Bayangkan, sebuah perusahaan dari kota yang tidak terlalu dikenal mampu membangun hubungan industri dengan merek-merek legendaris dunia.
Dari kerja sama itu, mereka belajar teknologi, desain, rekayasa mesin, hingga standar kualitas internasional. Mereka tidak sekadar meniru, tetapi membangun kemampuan sendiri.
.webp)
Inilah salah satu kekuatan industri China. Mereka membuka diri terhadap teknologi asing, membangun kemitraan, kemudian mengembangkan kapasitas manufaktur dalam negeri. Pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada proses perakitan, tetapi menjadi modal untuk menciptakan produk sendiri.
Hasilnya kini terlihat. QJ Motor menawarkan perpaduan menarik: teknologi Eropa, gaya Amerika, tetapi harga Asia.
Produk-produknya hadir dengan desain modern, fitur kompetitif, dan harga yang relatif terjangkau. Jaringan bisnis mereka juga telah memasuki pasar Eropa, kawasan yang dikenal memiliki standar otomotif tinggi.
Dulu, produk China kerap dipandang sebelah mata karena dianggap hanya mengandalkan harga murah. Kini persepsi itu mulai berubah. Sejumlah perusahaan China tidak lagi hanya bersaing melalui harga, tetapi juga melalui teknologi, desain, dan kualitas. QJ Motor menjadi salah satu contoh perubahan tersebut.
Ekspansi ke Indonesia
Kini QJ Motor berekspansi ke Indonesia. Pada tahap awal, pengembangan industrinya dilakukan melalui perakitan. Mereka memasuki pasar yang selama puluhan tahun didominasi merek Jepang.
Tentu tidak mudah. Konsumen Indonesia tidak hanya mempertimbangkan desain dan harga, tetapi juga kualitas, ketersediaan suku cadang, layanan purnajual, serta nilai jual kembali.
Namun, keberanian QJ Motor memasuki pasar global menunjukkan perubahan besar dalam industri China. Mereka tidak lagi sekadar menjadi pabrik bagi merek asing. Mereka mulai membangun merek sendiri dan bersaing dengan pemain dunia.
Bagi Indonesia, kehadiran perusahaan seperti ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai bertambahnya pilihan sepeda motor. Ada peluang lebih besar, yakni bagaimana investasi manufaktur dapat mendorong alih teknologi, memperkuat industri komponen lokal, dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja.
Sebab, pasar yang besar seharusnya menjadi modal untuk membangun kekuatan produksi, bukan sekadar tempat menjual barang.
Pelajaran dari Wenling
Perjalanan ke Wenling membuat saya merenungkan satu hal. China tidak hanya membangun pabrik. Mereka membangun ekosistem industri, mulai dari pemasok komponen, tenaga kerja terampil, pusat riset, hingga jaringan pemasaran internasional.
Pemerintah memberikan arah kebijakan, sementara daerah mengembangkan kekuatan industrinya masing-masing. Dengan cara itu, industrialisasi tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan pusat-pusat kemajuan baru di berbagai wilayah.

Mereka juga tidak malu belajar dari Barat. Teknologi Eropa dan Amerika dipelajari, dikembangkan, lalu dipadukan dengan kemampuan manufaktur sendiri.
Menariknya, mereka tetap mempertahankan identitas lokal. Nama Qianjiang tidak dihilangkan meskipun produknya telah menjangkau berbagai negara.
Saya kira, inilah pelajaran penting bagi Indonesia.
Kita memiliki banyak daerah dengan sumber daya melimpah. Ada wilayah yang kaya mineral, hasil pertanian, perikanan, hingga energi. Namun, kekayaan itu belum sepenuhnya melahirkan industri yang mampu menciptakan teknologi dan merek sendiri.
Kita sering bangga ketika investor datang membangun pabrik. Padahal, industrialisasi bukan sekadar mendirikan bangunan dan memasang mesin. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pengetahuan, teknologi, dan keterampilan tumbuh bersama industri tersebut.
Perakitan memang dapat menjadi langkah awal. Tetapi kita tidak boleh berhenti di sana. Industri harus berkembang menuju penguasaan komponen, kemampuan rekayasa, riset, dan inovasi.
Indonesia tidak boleh selamanya menjadi pasar dan tempat perakitan produk negara lain.
Di Wenling, saya melihat sepeda motor bukan sekadar mesin dan dua roda. Di baliknya ada cerita tentang keberanian belajar, membangun kemampuan, dan menembus pasar dunia.
Saya membayangkan suatu hari nanti, dari Makassar, Kendari, Surabaya, atau kota-kota lain di Indonesia, lahir perusahaan yang mampu menempuh perjalanan serupa.
Perusahaan yang tumbuh dari kekuatan daerahnya sendiri, menyerap pengetahuan dari berbagai penjuru dunia, lalu menciptakan produk yang membawa nama Indonesia ke pasar internasional.
Sebab, untuk menjadi pemain global, kita tidak harus meninggalkan identitas lokal.
Wenling telah membuktikannya. Sebuah kota yang mungkin tidak banyak dikenal dunia, tetapi produk industrinya telah melintasi batas-batas negara.
Ketika meninggalkan Wenling, saya membawa satu pertanyaan yang terus mengusik pikiran: jika sebuah kota di China mampu melahirkan industri otomotif kelas dunia, mengapa kota-kota kita tidak bisa melakukan hal yang sama?
Barangkali yang perlu kita bangun bukan hanya lebih banyak pabrik, tetapi juga keberanian untuk bermimpi menjadi bangsa pencipta, bukan sekadar bangsa pengguna.
*Anwar Mattawape adalah CEO Titah Group, Sekjen Ikatan Alumni Teknik (Ikatek) Universitas Hasanuddin
undefined




-300x167.webp)



