MAKASSAR, UNHAS.TV - Bupati Maros Chaidir Syam menuntaskan studi doktoralnya di Program Studi Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan mengangkat fenomena calon tunggal dalam pemilihan kepala daerah.
Dalam sidang promosi doktor yang digelar Rabu (11/2/2026), Chaidir dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan resmi menyandang gelar doktor bidang ilmu politik.
Sidang promosi berlangsung di Auditorium Prof. Amiruddin, Fakultas Kedokteran Unhas. Sejumlah civitas akademika, keluarga, serta pejabat daerah hadir menyaksikan ujian terbuka tersebut.
Di hadapan tim promotor dan dewan penguji, Chaidir memaparkan disertasi berjudul Partai Politik dalam Perspektif Demokrasi: Studi Fenomenologi Calon Tunggal pada Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Maros Tahun 2024.
Penelitian ini mengurai kemunculan calon tunggal dalam Pilkada Maros 2024 dengan menempatkan masyarakat sebagai titik analisis penting.
Chaidir menelusuri bagaimana preferensi pemilih akar rumput, relasi kuasa antarelite politik, serta konfigurasi partai membentuk kondisi politik yang menyempitkan pilihan elektoral hingga menyisakan satu kandidat.
Fenomena itu, menurut Chaidir, tidak berdiri sendiri, melainkan bertaut dengan dinamika kepercayaan publik, pragmatisme politik, dan kalkulasi kekuasaan di tingkat lokal.
Dalam pemaparannya, Chaidir menjelaskan bahwa calon tunggal sering kali dipahami sebatas hasil konsolidasi elite.
Namun di tingkat mikro, ada faktor sosial yang tak kalah menentukan, seperti penerimaan masyarakat terhadap figur petahana, minimnya kaderisasi partai, hingga keengganan aktor alternatif untuk berkompetisi karena biaya politik dan peluang menang yang dinilai kecil.
“Ruang demokrasi menyempit bukan hanya karena elite bersepakat, tetapi juga karena warga diposisikan sebagai penerima pilihan, bukan subjek yang didorong untuk berpartisipasi aktif,” ujar Chaidir.

PROMOSI DOKTOR. Bupati Maros HAS Chaidir Syam berhasil mempertahankan disertasi dalam promosi doktor ilmu politik di Aula Prof A Amiruddin, FK Unhas, Rabu (11/2/2026). Chaidir mengangkat topik pemilihan calon bupati tunggal di Kabupaten Maros. (dok unhas tv)
Selama sesi ujian terbuka, Chaidir menjawab pertanyaan kritis dari tim promotor dan dewan penguji, termasuk soal implikasi calon tunggal terhadap kualitas demokrasi lokal.
Calon Tunggal Lemahkan Kontrol Publik
Ia mengakui bahwa meskipun secara prosedural sah, calon tunggal berisiko menurunkan daya tawar pemilih dan melemahkan mekanisme kontrol publik.
Karena itu, rekomendasi disertasinya menekankan pentingnya memperluas kompetisi politik melalui penguatan kaderisasi partai dan pendidikan politik warga di tingkat paling bawah.
Setelah dinyatakan lulus, Chaidir menegaskan komitmennya untuk menerjemahkan temuan akademiknya ke dalam praktik pemerintahan.
Ia menyatakan akan membuka ruang kompetisi politik yang lebih sehat di Maros, termasuk mendorong partai politik menghadirkan alternatif kandidat dan memperkuat partisipasi warga agar fenomena calon tunggal tidak terulang.
“Demokrasi lokal harus memberi ruang bagi pilihan, bukan hanya legitimasi formal,” tegas Chaidir Syam.
Promosi doktor Chaidir Syam menempatkan isu calon tunggal tidak sekadar sebagai anomali elektoral, melainkan sebagai cermin relasi kuasa yang melibatkan elite dan warga secara bersamaan.
Dengan menyorot peran micropeople, penelitian ini menegaskan bahwa kualitas demokrasi lokal sangat ditentukan oleh sejauh mana masyarakat diberdayakan sebagai subjek politik, bukan sekadar angka dalam bilik suara.
(Zulkarnain Jumar Taufik / Zahra Shabitha Sucheng / Unhas TV)
PROMOSI DOKTOR. Bupati Maros HAS Chaidir Syam berhasil mempertahankan disertasi dalam promosi doktor ilmu politik di Aula Prof A Amiruddin, FK Unhas, Rabu (11/2/2026). Chaidir mengangkat topik pemilihan calon bupati tunggal di Kabupaten Maros. (dok unhas tv)




-300x200.webp)


