News
Polhum

Di Bawah GENTENG yang Tak Pernah Sampai




atap honai di Papua

Ada ironi yang pelan tapi menusuk. Di saat jutaan orang belum memiliki rumah layak, kita justru berbicara tentang bentuk atap. Di saat fondasi retak, kita sibuk merapikan ornamen.

Seolah-olah kemiskinan dalah soal tampilan. Seolah kesejahteraan dapat dicapai lewat keseragaman visual. Pembangunan berubah menjadi panggung, dan panggung selalu menyukai dekorasi.

Barangkali negara memang perlu hadir. Tetapi kehadiran itu seharusnya tahu batas. Lembaga publik mestinya menetapkan standar keselamatan, memberi insentif, membuka akses pembiayaan, menyediakan tanah dan infrastruktur dasar.

Selebihnya, biarkan warga memilih. Karena kebebasan kadang sesederhana itu, memilih bahan untuk berteduh sesuai konteks hidupnya sendiri.

Pada akhirnya, persoalannya bukan genteng atau seng. Persoalannya adalah jarak; jarak antara pengambil keputusan dan kehidupan sehari-hari rakyat, antara peta dan kenyataan, antara niat baik dan kebijaksanaan.

Saya teringat Ivan Illich, yang mengingatkan bahwa institusi modern sering melampaui mandatnya sendiri: people need tools to work with rather than tools that work for them.

Ketika lembaga merasa paling tahu dan mulai menggantikan pilihan manusia, otonomi pelan-pelan hilang. Tidak dengan kekerasan, melainkan dengan bantuan yang berlebihan.

Malam turun pelan di banyak tempat yang tak pernah disebut dalam pidato. Di Mentawai, televisi itu sudah dimatikan. Anak tadi berbaring di bawah atap alang-alang. Angin masih masuk dari sela kayu. Dari jauh terdengar serangga dan suara sungai. Ketika hujan datang, bunyinya keras, akrab, seperti lagu lama yang ia hafal sejak kecil.

Bukan genteng. Bukan yang rapi. Tetapi cukup.

Hujan jatuh. Gelap merapat. Dunia mengecil menjadi napas yang teratur.

Mungkin republik tak perlu langit yang seragam. Mungkin yang dibutuhkan hanya kebijakan yang tahu kapan berhenti. Sebab negara didirikan untuk melindungi, bukan mendikte. Untuk menopang, bukan menggantikan.

Dan di bawah atap yang dipilih sendiri, dalam sunyi yang sederhana, seseorang akhirnya tidur tanpa merasa diatur. Seperti itulah kemerdekaan bekerja: kecil, tenang, hampir tak terdengar; tetapi nyata, seperti suara hujan di rumah sendiri.


*Penulis adalah blogger, peneliti, dan digital strategist. Alumni Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.