Laporan Endira Harahap dari Bandung, Jawa Barat
Di sebuah ruang pertemuan di lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), diskusi pagi itu tidak hanya membahas bisnis kampus. Yang dibicarakan adalah sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana hasil riset yang lahir di laboratorium dapat keluar dari jurnal ilmiah, menemukan pasar, dan akhirnya memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Pertanyaan itulah yang membawa delegasi Universitas Hasanuddin (Unhas) berkunjung ke Badan Pengelola Usaha dan Diversifikasi Layanan (BPUDL) ITB, Jumat, 5 Juni 2026.


Bersama PT Hadin Metavisi Akademika, perusahaan inovasi milik Unhas, rombongan datang untuk mempelajari salah satu aspek yang selama ini menjadi tantangan banyak perguruan tinggi di Indonesia: hilirisasi riset.
Di kampus-kampus, riset lahir setiap hari. Dosen dan mahasiswa menghasilkan berbagai inovasi, mulai dari teknologi kesehatan, energi, pertanian, hingga sistem digital.
Namun tidak semua inovasi berhasil menyeberangi jurang yang sering disebut valley of death, fase ketika sebuah temuan ilmiah gagal berkembang menjadi produk yang digunakan masyarakat.
ITB menjadi salah satu perguruan tinggi yang relatif berhasil menjembatani jurang tersebut. Melalui BPUDL dan berbagai instrumen bisnis yang dimilikinya, kampus ini membangun jalur yang menghubungkan laboratorium dengan dunia industri.
Karena itulah PT Hadin Metavisi Akademika menempatkan kunjungan ini sebagai salah satu agenda penting dalam penyusunan model bisnis dan tata kelola holding company Universitas Hasanuddin.
Rombongan Unhas terdiri atas perwakilan PT Hadin Metavisi Akademika, Kepala Sekretariat Rektor Unhas Dr. Sawedi Muhammad, Direktur Inovasi dan Kewirausahaan Unhas, serta sejumlah akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Mereka diterima langsung oleh pimpinan BPUDL ITB beserta jajaran pengelola transfer teknologi dan pengembangan usaha kampus.
Diskusi berlangsung hangat. Di hadapan tamunya, pihak ITB memaparkan bagaimana mereka membangun ekosistem inovasi yang tidak berhenti pada penelitian semata.
Melalui kawasan sains dan teknologi, inkubator bisnis, transfer teknologi, hingga berbagai entitas usaha, hasil riset didorong untuk berkembang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Bagi Kepala Sekretariat Rektor Unhas, Dr. Sawedi Muhammad, pelajaran terbesar dari kunjungan tersebut bukan semata-mata soal bisnis.
“Unhas memiliki kekayaan intelektual dan potensi riset yang sangat besar, terutama yang terkait dengan kebutuhan masyarakat Indonesia Timur. Tantangannya adalah bagaimana memastikan hasil-hasil riset tersebut tidak berhenti sebagai luaran akademik, tetapi bisa sampai kepada masyarakat melalui mekanisme yang profesional,” ujarnya.
Menurut Sawedi, perguruan tinggi masa kini tidak lagi cukup berperan sebagai pusat pendidikan dan penelitian. Universitas juga dituntut mampu menjadi bagian dari solusi pembangunan dengan memastikan inovasi yang dihasilkan dapat diadopsi oleh dunia usaha maupun masyarakat.
Di sinilah peran PT Hadin Metavisi Akademika menjadi penting. Sebagai holding company universitas, Hadin diharapkan tidak hanya mengelola unit-unit usaha kampus, tetapi juga menjadi kendaraan yang menghubungkan peneliti, investor, industri, dan pasar.
“Riset membutuhkan kendaraan bisnis yang kuat. Tanpa itu, banyak inovasi akan berhenti di laboratorium. Kami datang ke ITB untuk mempelajari praktik-praktik terbaik yang dapat memperkuat kapasitas Hadin dalam mengelola proses komersialisasi tersebut,” kata Sawedi.
Sepanjang diskusi, kedua pihak juga membahas peluang kerja sama yang lebih konkret. Mulai dari pendampingan tata kelola holding company, pengembangan model komersialisasi riset, program inkubasi bisnis berbasis teknologi, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang mengelola badan usaha kampus.
Pihak ITB menyambut positif gagasan tersebut. Bagi mereka, inovasi tidak akan memiliki dampak yang luas apabila tidak mampu menciptakan nilai ekonomi dan manfaat sosial.
Karena itu, ruang kolaborasi antarkampus dinilai menjadi semakin penting. Pengalaman yang telah dibangun ITB selama bertahun-tahun dapat menjadi referensi bagi kampus lain yang tengah memperkuat ekosistem inovasinya.
Bagi Universitas Hasanuddin, kunjungan ke Bandung ini merupakan bagian dari langkah yang lebih besar.

Di tengah upaya membangun Hadin sebagai holding company universitas, Unhas sedang merancang jalur yang memungkinkan hasil-hasil penelitian dosen dan mahasiswa memiliki peluang lebih besar untuk berkembang menjadi produk, layanan, maupun usaha yang berkelanjutan.
Apa yang dipelajari di ITB bukan sekadar tentang bagaimana mengelola perusahaan kampus. Yang lebih penting adalah bagaimana membangun jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah riset tidak hanya diukur dari berapa banyak artikel yang diterbitkan atau sitasi yang diperoleh. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika pengetahuan yang lahir di kampus mampu keluar dari laboratorium, menjangkau kehidupan sehari-hari, dan memberi manfaat bagi sebanyak mungkin orang.
undefined





-300x190.webp)
-300x169.webp)

