Lingkungan
Makassar

DLH Makassar Ajak Pengunjung ICE 2026 Olah Sampah Plastik Jadi Produk Bernilai

CITY EXPO - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar menghadirkan edukasi pengelolaan sampah plastik secara interaktif dalam Indonesia City Expo atau ICE 2026 di Kota Medan, 28 Juni hingga 4 Juli 2026. (Dok DLH Kota Makassar)

MEDAN, UNHAS.TVDinas Lingkungan Hidup Kota Makassar menghadirkan edukasi pengelolaan sampah plastik secara interaktif dalam Indonesia City Expo atau ICE 2026 di Kota Medan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Rapat Kerja Nasional XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia atau APEKSI, yang berlangsung pada 28 Juni hingga 4 Juli 2026.

Dalam pameran tersebut, DLH Makassar menggandeng Rappo, komunitas sekaligus pelaku usaha kreatif yang mengembangkan produk berbasis daur ulang plastik.

Melalui stan Pemerintah Kota Makassar, pengunjung diajak melihat langsung proses pengolahan sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomi.

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian pengunjung adalah praktik pembuatan keychain atau gantungan kunci dari plastik daur ulang.

Pengunjung tidak hanya melihat produk jadi, tetapi juga mengikuti tahapan pengolahan, mulai dari pencacahan plastik, pemanasan bahan, hingga proses pencetakan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah kota memperkenalkan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.

Menurut dia, sampah plastik tidak semestinya hanya dipandang sebagai limbah, tetapi juga sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan.

“Melalui pendekatan seperti ini, masyarakat dapat melihat secara langsung bahwa sampah plastik masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali menjadi produk yang bernilai,” kata Helmy.

Ia mengatakan edukasi semacam ini penting untuk menumbuhkan kebiasaan memilah dan mengolah sampah sejak dari lingkungan masyarakat.

Selain demonstrasi pembuatan gantungan kunci, stan Kota Makassar juga memamerkan berbagai produk hasil olahan sampah plastik karya Rappo.

Produk-produk tersebut dikembangkan dengan konsep upcycle, useful, dan unique. Limbah plastik diolah menjadi barang fungsional, memiliki nilai estetika, sekaligus bernilai jual.

Ciri khas produk Rappo tampak dari penggunaan motif Niskala pada setiap karya. Motif ini menjadi identitas visual yang merepresentasikan perubahan limbah menjadi produk kreatif.

Melalui pendekatan tersebut, sampah plastik tidak hanya diolah ulang, tetapi juga diberi nilai tambah melalui desain dan fungsi.

Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa, mengapresiasi kolaborasi antara DLH Makassar dan Rappo. Ia menilai pengelolaan sampah tidak dapat hanya bertumpu pada kebijakan pemerintah. Partisipasi masyarakat, komunitas, dan pelaku kreatif juga dibutuhkan.

“Kolaborasi seperti ini menjadi contoh bahwa sampah bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi jika dikelola dengan baik,” ujar Melinda.

Pemerintah Kota Makassar berharap kegiatan edukatif ini dapat menginspirasi masyarakat untuk mulai memilah dan memanfaatkan sampah dari lingkungan sekitar. Kolaborasi tersebut juga diharapkan memperkuat gerakan menuju Makassar Bebas Sampah 2029. (*)