UNHAS.TV - Malam final Piala Afrika 2026 di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, seharusnya menjadi panggung perayaan Maroko. Tuan rumah memburu gelar Piala Afrika pertama dalam setengah abad.
Namun yang terjadi justru sebaliknya, laga pamungkas itu berubah menjadi fragmen kekacauan, emosi, dan keputusan wasit yang akan lama diperdebatkan. Antiklimak bagi Maroko --tim yang mengejutkan di Piala Dunia 2022 lalu.
Semua bermula di menit-menit akhir pertandingan yang masih berimbang tanpa gol. Senegal sempat merayakan gol penentu ketika serangan mereka diakhiri sundulan yang menggetarkan jala gawang Maroko.
Namun wasit Jean-Jacques Ndala lebih dulu meniup peluit, menghadiahkan pelanggaran yang membuat gol tersebut dianulir. Keputusan itu memicu gelombang protes, tapi drama belum mencapai puncaknya.
Beberapa saat kemudian, di sisi lain lapangan, wasit Ndala menunjuk titik putih untuk tuan rumah. Gelandang serang Maroko Brahim Diaz terjatuh di kotak penalti Senegal usai terjadi kontak ringan saat situasi sepak pojok.
Ndala sempat meninjau tayangan VAR di pinggir lapangan sebelum akhirnya mengesahkan penalti bagi Maroko. Keputusan yang sontak membelah stadion. Di tribun, publik Rabat bergemuruh. Di lapangan, kemarahan pemain meledak.
Pelatih Senegal, Pape Thiaw, tak mampu menyembunyikan amarahnya. Ia menilai keputusan tersebut sebagai puncak dari rangkaian kepemimpinan wasit yang merugikan timnya.
Wasit Ndala bahkan mengeluarkan kartu kuning ke berbagai arah, sementara dua pelatih terlibat adu argumen sengit di pinggir lapangan.
Lalu datang momen yang nyaris belum pernah terjadi dalam final Piala Afrika. Thiaw memanggil para pemainnya, termasuk Sadio Mane dan Edouard Mendy, untuk meninggalkan lapangan.

Sebagian besar skuad Senegal berjalan menuju lorong ruang ganti. Maroko, dipimpin Achraf Hakimi, tetap berdiri di tengah lapangan, kebingungan menyaksikan lawan mereka menolak melanjutkan pertandingan.
Suporter Masuk Lapangan
Di tribun, situasi kian panas. Sejumlah suporter Senegal merangsek masuk ke lapangan. Pertandingan terhenti lebih dari sepuluh menit. Final Piala Afrika berubah menjadi panggung kekacauan yang tak terbayangkan sebelumnya.
Akhirnya, setelah negosiasi panjang, Senegal kembali ke lapangan. Penalti pun tetap dilanjutkan—bukan pada menit ke-98 seperti semula, melainkan di menit ke-114, atau menit ke-24 injury time.
Brahim Diaz maju sebagai eksekutor. Stadion terdiam. Harapan Maroko bertumpu di kaki pemain Real Madrid tersebut.
Namun yang terjadi justru antiklimaks. Diaz mencoba mengeksekusi penalti dengan gaya Panenka, mencongkel bola ke tengah gawang. Tapi tendangannya lemah.
Edouard Mendy, mantan kiper Chelsea, menangkap bola itu dengan mudah. Salah satu peluang emas terbesar Maroko untuk juara Piala Afrika pun menguap begitu saja.
Peluit panjang dibunyikan, menandai berakhirnya waktu normal. Maroko gagal memanfaatkan hadiah terbesar yang mereka dapatkan malam itu.

Tendangan Penalti Brahim Diaz ala Panenka yang gagal menjadi gol. (screenshot the sun)
Pelatih Walid Regragui terlihat meluapkan kekecewaan kepada Diaz, yang tertunduk lesu di tengah lapangan.
Bahkan para komentator mempertanyakan—setengah bergurau, setengah getir—apakah penalti itu benar-benar dieksekusi dengan kesungguhan.
Empat menit memasuki babak tambahan waktu, Senegal menghukum kegagalan itu. Pape Gueye menerima bola di luar kotak penalti dan melepaskan tembakan keras yang membentur mistar sebelum bersarang di gawang Maroko.
Untuk pertama kalinya sepanjang turnamen, tuan rumah tertinggal. Lalu tak lama kemudian, Regragui menarik keluar Ibrahim Diaz.
Gelandang Real Madrid itu tampak menahan air mata di bangku cadangan. Kesalahannya terbukti fatal. Senegal bertahan hingga akhir, mengunci kemenangan 1-0 dan memastikan gelar juara Afrika dalam final paling kontroversial dalam sejarah modern turnamen ini.
Ironisnya, di tengah hujan Rabat, Diaz tetap menerima Sepatu Emas dari Presiden FIFA Gianni Infantino atas lima golnya sepanjang turnamen.
Tak lama berselang, Senegal mengangkat trofi—sementara Maroko harus menelan kenyataan pahit bahwa malam yang mereka harapkan menjadi pesta justru berakhir sebagai luka kolektif.
Final itu akan dikenang. Bukan semata karena gol penentunya, tetapi karena pertanyaan besar yang menggantung, bagaimana sebuah laga puncak bisa nyaris runtuh oleh satu keputusan. (*)
Pape Thiaw saat meminta para pemainnya Walk Out dari lapangan di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, Senin (19/1/2026) dini hari. (screenshot the sun)








