Saintek

Ganggang yang Tidak Aktif Hidup Kembali Setelah 7.000 Tahun di Bawah Laut Baltik



Kapal Laut terlihat di Pelabuhan Rostock, Jerman, di Laut Baltik, 10 Maret 2025. Credit: Bernd Wustneck/Picture Alliance/DPA via Getty Images.
Kapal Laut terlihat di Pelabuhan Rostock, Jerman, di Laut Baltik, 10 Maret 2025. Credit: Bernd Wustneck/Picture Alliance/DPA via Getty Images.


Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Penelitian Ini?

Fenomena dormansi ekstrem semacam ini bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa biji tanaman dan beberapa jenis krustasea juga dapat tetap hidup setelah dormansi selama ratusan hingga ribuan tahun. Namun, kebangkitan kembali Skeletonema marinoi setelah 7.000 tahun adalah salah satu contoh paling ekstrem yang pernah tercatat dalam dunia sains.

Temuan ini juga membuka peluang penelitian lebih lanjut di bidang ekologi restoratif, di mana ilmuwan dapat meneliti bagaimana mikroorganisme purba beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Dengan melacak perubahan genetik pada alga yang telah bertahan dalam kondisi ekstrem ini, para peneliti berharap bisa memahami bagaimana spesies tertentu berevolusi dan bertahan dalam jangka waktu yang sangat panjang.

"Penelitian ini memberi kami wawasan baru bahwa bukan hanya fosil atau DNA purba yang dapat membantu kita memahami masa lalu," kata Bolius. "Kita juga bisa belajar langsung dari sel hidup yang telah melewati ribuan tahun waktu dormansi."

Lebih jauh, eksperimen ini dapat membantu ilmuwan mempelajari bagaimana ekosistem laut merespons perubahan iklim dan apakah organisme laut tertentu memiliki mekanisme adaptasi yang dapat membantu kelangsungan hidup ekosistem global di masa depan.

Dengan penelitian ini, Laut Baltik kembali membuktikan bahwa ia adalah laboratorium alam yang menyimpan sejarah kehidupan dalam setiap lapisan sedimennya. Masa depan penelitian dalam bidang mikrobiologi dan ekologi kini semakin terbuka luas, membawa kita selangkah lebih dekat dalam memahami keajaiban dunia mikro yang tersembunyi.(*)