MANCHESTER, UNHAS.TV – Suara itu kembali memantul di dinding-dinding kokoh Old Trafford, Rabu (21/1/2026), dini hari lalu. "Rooney, Rooney, Rooney!" Sebuah chant yang selama tiga belas tahun menjadi lagu wajib di Teater Impian itu kembali membahana.
Namun, kali ini bukan untuk sang ayah yang kini telah berkepala empat, melainkan untuk Kai Rooney, remaja 16 tahun yang baru saja mencicipi rumput keramat stadion tersebut untuk pertama kalinya.
Malam itu, dalam laga lanjutan FA Youth Cup, Manchester United U-18 menjamu Derby County. Bagi keluarga Rooney, laga ini lebih dari sekadar pertandingan sepak bola, ini adalah pertemuan sejarah dan masa depan.
Di tribun VIP, Wayne Rooney tampak berusaha "menghilang" di balik topi bisbol dan tudung jaket (hoodie) biru gelap. Upayanya gagal total.
Satu jam sebelum kik off dimulai, para suporter sudah mengerubutinya, meminta swafoto dan sekadar menyapa sang legenda yang memegang rekor 253 gol untuk Setan Merah tersebut.
Wayne duduk bersisian dengan Coleen, istrinya, serta barisan elit manajemen United. Di sana ada Michael Carrick, pelatih interim saat ini, Steve Holland, serta bek senior Jonny Evans.
Kehadiran mereka, ditambah Direktur Sepak Bola Jason Wilcox dan Direktur Rekrutmen Christopher Vivell, menegaskan satu hal, mata klub sedang tertuju tajam pada generasi baru yang sedang mekar di akademi.
Pertandingan berlangsung alot. Darren Fletcher, kepala pelatih MU U-18, harus menunggu hingga babak tambahan waktu untuk memasukkan Kai Rooney. Kai menggantikan Godwill Kukonki dengan satu misi: memecah kebuntuan.
Meski bermain di kategori umur dua tahun di atas usianya, Kai tampil dengan kepercayaan diri yang seolah sudah mendarah daging.
Hanya dalam hitungan detik setelah masuk ke lapangan, ia langsung mengobrak-abrik sisi kanan pertahanan Derby.
Pergerakan lincahnya di dalam kotak penalti menciptakan kepanikan yang berujung pada gol pembuka United.
Umpannya disambar Albert Mills, yang kemudian diteruskan James Overy menjadi umpan silang tajam. Bola justru mengenai pemain Derby, Luca Crolla, dan bersarang di gawang sendiri.
United kemudian menggandakan keunggulan melalui Chido Obi, penyerang tajam U-21 yang memanfaatkan kesalahan koordinasi lini belakang tim tamu.
Derby sempat memperkecil kedudukan lewat sepakan rendah Max Nessling, namun skor 2-1 bertahan hingga peluit panjang ditiup. Kemenangan ini membawa United melaju ke babak 16 besar untuk menghadapi Oxford.
Bagi Wayne, menonton sang sulung bertanding adalah sebuah dilema antara kebanggaan dan beban. Selama bertahun-tahun, ia sengaja menjauh dari pinggir lapangan agar tidak menjadi distraksi bagi Kai.
Coleen, dalam sebuah wawancara di acara televisi I’m a Celebrity…Get Me Out of Here pada 2024, sempat mengungkapkan betapa sulitnya posisi mereka.
"Sulit untuk berkata kepada anak-anak lain di sana, 'Pergilah, aku sedang menonton anakku bertanding'. Orang dewasa mungkin mengerti, tapi bagi anak-anak, kehadiran Wayne justru mengalihkan fokus mereka dari permainan," tutur Coleen.
Ada aroma melankolis yang kental dalam laga tersebut. Derby County bukanlah klub asing bagi Wayne.
Di sana, ia mengakhiri karier sebagai pemain-pelatih pada 2020, sebelum menjadi manajer tetap di tengah krisis finansial yang mencekik klub tersebut hingga terdegradasi.
Malam itu, Wayne melihat anaknya mengalahkan klub yang pernah ia perjuangkan dengan cucuran keringat dan air mata.
Saat peluit akhir berbunyi, Kai Rooney berjalan menuju lorong pemain dengan tepuk tangan meriah.
Di bawah tatapan bangga orang tuanya dan restu dari para petinggi klub, Kai membuktikan bahwa nama "Rooney" di punggungnya bukanlah sekadar beban warisan, melainkan sebuah janji tentang kebangkitan dinasti baru di Old Trafford.
Perjalanan menuju tim utama memang masih panjang, namun di malam debutnya, sang pangeran muda telah menunjukkan bahwa ia memiliki detak jantung yang sama dengan teater yang membesarkan ayahnya. (*)
Mantan Striker Manchester United (MU) Wayne Rooney bersama anaknya Kai Rooney (kiri). Kini Kai bermain di tim Man United U-18. (foto: kolase the sun)








