LONDON, UNHAS.TV - Sebuah tembakan keras dari luar kotak penalti, dilepaskan hanya beberapa menit sebelum laga berakhir, mengguncang Emirates Stadium dan menggoyahkan kepercayaan diri Arsenal.
Matheus Cunha menjadi penentu kemenangan Manchester United lewat gol spektakuler pada menit-menit akhir. Gol itu memastikan tim asuhan Michael Carrick pulang dengan tiga poin penting dan sekaligus membuka kembali persaingan juara Liga Inggris musim ini.
Gol Cunha datang tiga menit setelah Mikel Merino tampak akan menyelamatkan Arsenal dari kekalahan. Merino mencetak gol penyeimbang memanfaatkan kesalahan fatal kiper United, Senne Lammens, dalam situasi sepak pojok.
Namun euforia singkat tuan rumah itu segera berubah menjadi keheningan ketika Cunha, yang baru masuk sebagai pemain pengganti, melepaskan “thunderbolt” dari jarak sekitar 23 meter yang tak mampu dijangkau David Raya.
Momen itu langsung mengingatkan publik pada sejarah lama. Tepat 31 tahun lalu, di Selhurst Park, Eric Cantona—juga mengenakan kostum hitam—menjadi pusat kontroversi yang kemudian berpengaruh besar pada perjalanan gelar Manchester United.
Kali ini, tanpa drama kekerasan, Cunha menghadirkan dampak yang mungkin sama besarnya: mengguncang mental pesaing utama dalam perburuan trofi.
Pertandingan sendiri berjalan dalam tempo tinggi dan penuh gejolak emosi. Arsenal lebih dulu unggul pada menit ke-29 melalui gol bunuh diri Lisandro Martinez.
Bek Argentina itu salah mengantisipasi voli Martin Odegaard, dan sentuhan tumit kanannya justru mengarahkan bola melewati garis gawang sendiri.
Gol tersebut terasa seperti konsekuensi logis dari dominasi awal Arsenal, yang beberapa kali mengancam lewat Declan Rice dan Martin Zubimendi.
Namun keunggulan itu tak bertahan lama. Kesalahan demi kesalahan mulai merayap ke permainan Arsenal.
Martin Zubimendi melakukan blunder fatal delapan menit sebelum jeda, salah mengoper bola ke arah Bryan Mbeumo. Penyerang asal Kamerun itu tak menyia-nyiakan peluang, melewati Raya dan menyamakan kedudukan.
Reaksi sebagian suporter Arsenal yang meluapkan kemarahan kepada pemainnya sendiri menandai kegelisahan yang mulai menyelimuti Emirates.
United Tampil Percaya Diri
United justru tampil semakin percaya diri. Di awal babak kedua, Patrick Dorgu mencetak gol indah lewat tembakan keras yang membentur mistar sebelum masuk ke gawang.
Gol itu sempat diperiksa VAR terkait dugaan handball, namun dinyatakan sah. Untuk kedua kalinya musim ini, Arsenal tertinggal di kandang sendiri—sebuah situasi yang jarang mereka alami.
Mikel Arteta merespons dengan melakukan empat pergantian pemain sekaligus. Ben White, Eberechi Eze, Viktor Gyokeres, dan Mikel Merino dimasukkan. Tekanan Arsenal meningkat, meski peluang bersih tetap sulit didapat berkat disiplin lini belakang United.
Harry Maguire tampil solid, memperlihatkan performa yang kembali menghidupkan peluangnya menembus skuad Piala Dunia.
Gol Merino pada menit-menit akhir, yang disahkan teknologi garis gawang meski tercipta lewat sentuhan kurang bersih, tampak akan mengamankan satu poin bagi Arsenal.
Bahkan Manchester United seolah siap menerima hasil imbang tersebut. Namun Carrick masih menyimpan satu kartu terakhir.

Statistik pertandingan Arsenal vs Man United
Cunha, yang baru masuk menggantikan Mbeumo, menerima umpan dari Kobbie Mainoo, memutar badan ke ruang kosong, lalu melepaskan tembakan akurat ke sudut gawang.
Sebuah gol yang nyaris sempurna, dan mungkin yang terbaik dalam kariernya bersama United sejauh ini.
Kemenangan ini memperpanjang awal magis Michael Carrick sebagai pelatih interim Manchester United. Dalam sembilan hari, ia berhasil menundukkan dua tim teratas Liga Inggris.
Sebuah pencapaian yang nyaris tak terbayangkan sebelumnya, dan sinyal bahwa United kembali menemukan keteguhan setelah periode penuh gejolak.
Bagi Arsenal, hasil ini memperpanjang tren negatif. Mereka hanya meraih dua poin dari tiga laga terakhir. Aura “fear factor” yang sempat menjadi kekuatan kini berubah menjadi gelombang keraguan.
Di tengah musim yang seharusnya menjadi momentum emas, Arsenal justru kembali dihantui bayang-bayang kegagalan.
Tanpa penyerang mahal yang sejak musim panas lalu menjadi bahan perebutan—Viktor Gyokeres dan Benjamin Sesko—kedua tim menunjukkan bahwa detail kecil, kesalahan individu, dan satu momen kejeniusan bisa menentukan segalanya.
Gol Cunha bukan sekadar penentu kemenangan. Ia bisa menjadi titik balik musim ini. Bagi Arsenal, itu adalah peringatan keras. Bagi Manchester United, sebuah pernyataan: mereka kembali, dan persaingan juara kini terbuka lebar. (*)
SPEKTAKULER. Matheus Cunha mencetak gol spektakuler yang membawa kemenangan bagi Man United di kandang Arsenal, Emirates Stadium, Senin (26/1/2026) dini hari. (foto: the sun)








