MAKASSAR, UNHAS.TV - Harga buah, sayur, dan rempah-rempah di pasar tradisional sekitar Kampus Universitas Hasanuddin, Makassar, mulai merangkak naik menjelang Ramadan.
Kenaikan itu terlihat di pasar yang berada di depan Masjid Al-Lathif, perempatan Jalan Kanjov–Perintis Kemerdekaan VII (BTN Asalmula), Selasa (10/3/2026).
Sejumlah pedagang mengaku lonjakan harga mulai terasa sekitar sepekan sebelum bulan puasa. Komoditas yang paling cepat naik antara lain cabai kecil, beberapa jenis sayuran, serta buah-buahan yang lazim diburu warga untuk kebutuhan berbuka puasa.
Riswandi, pedagang sayur dan buah di pasar itu, mengatakan gejala kenaikan harga berulang tiap tahun. Menurut dia, satu bulan sebelum puasa harga masih cenderung stabil.
Namun, memasuki sepekan menjelang Hari Raya Idulfitri, harga mulai menanjak dan terus bergerak naik pada hari-hari awal puasa.
“Contohnya lombok kecil, sebelumnya sekitar Rp 15 ribu per kilogram. Satu minggu sebelum puasa bisa naik jadi Rp 30 ribu. Pas masuk bulan puasa naik lagi sekitar Rp 50 ribu,” kata Riswandi.
Pedagang yang mengaku telah berjualan sekitar 20 tahun meneruskan usaha orang tuanya itu mengatakan, kenaikan harga paling terasa pada komoditas yang perputarannya cepat.
Selain menjual sayur, ia juga menjajakan buah dan rempah-rempah. Menurut dia, buah menjadi barang yang paling banyak dicari masyarakat selama Ramadan.
Salah satu buah yang paling sering diburu pembeli adalah nangka. Buah ini banyak dipakai untuk campuran takjil dan menu berbuka puasa.
Karena permintaan tinggi, harganya pun kerap melonjak tajam. “Yang paling banyak dicari masyarakat selama Ramadan adalah buah. Yang paling sering itu buah nangka, tapi susah,” ujar dia.
Tak hanya harga yang berubah, pola belanja masyarakat juga ikut bergeser. Sebelum Ramadan, aktivitas pasar biasanya ramai sejak pagi hingga siang hari.
Padat di Sore Hari
Setelah itu, pasar cenderung lebih lengang dan baru kembali dipadati pembeli pada sore hari. Selama Ramadan, keramaian justru terkonsentrasi menjelang waktu berbuka.
“Kalau sebelum Ramadan itu ramai pagi sampai siang, lalu ada jeda, nanti habis asar ramai lagi sampai magrib. Kalau bulan Ramadan, ramainya pas sore dari jam 4 sampai jam 5,” kata Riswandi.
Perubahan jam belanja itu ikut memengaruhi ritme perdagangan di lapak-lapak kecil sekitar pasar. Pedagang harus menyesuaikan waktu penyiapan barang agar stok tetap segar saat pembeli membludak pada sore hari. Buah potong, sayuran untuk menu berbuka, dan bumbu dapur menjadi barang yang paling cepat habis.
Dari sisi penjualan, omzet pedagang juga terdongkrak pada awal Ramadan. Jika pada hari biasa pendapatan kotor berkisar Rp 3 juta per hari, pada dua pekan pertama puasa omzet bisa naik hingga Rp 5 juta sampai Rp 6 juta per hari. Meski begitu, lonjakan itu biasanya tak bertahan lama.
Memasuki pertengahan Ramadan, penjualan berangsur turun dan kembali ke kisaran Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per hari, bergantung pada jumlah pembeli.
Menurut Riswandi, momen paling menguntungkan tetap terjadi menjelang Ramadan. “Omzet paling banyak pas menjelang Ramadan,” ujarnya.
Di tengah kenaikan permintaan dan pendapatan, pedagang tetap menyimpan kekhawatiran. Mereka berharap harga bahan pangan tidak terus melonjak karena beban itu pada akhirnya ditanggung pembeli.
“Harapan saya, semoga harga tidak semakin mahal karena warga juga mengeluh,” kata Riswandi.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Riswandi, pedagang sayur dan buah di depan Masjid Al Latif, Jl Perintis Kemerdekaan XVII, Makassar, Selasa (10/3/2026)








