BLACKPOOL, UNHAS.TV - Bagi banyak penggemar sepak bola, tidur di kamar hotel yang menghadap langsung ke lapangan adalah mimpi kecil yang tak ternilai.
Bayangkan, saat kalian bangun pagi dengan pemandangan garis putih dan rumput hijau yang masih berembun, atau menonton laga tim kesayangan sambil bersandar di kasur empuk dengan secangkir teh hangat.
Namun bagi Darren Dowling, 29 tahun, mimpi itu buyar di Bloomfield Road, markas klub League One, Blackpool FC. Ia dan sahabatnya, David Handling, datang jauh-jauh dari Glasgow untuk menikmati pengalaman unik itu.
Mereka membayar £130 —sekitar Rp2,6 juta— untuk kamar bertipe Executive Pitch View Room, yang sejatinya merupakan bekas ruang eksekutif stadion yang diubah menjadi hotel modern.
“Kami membayangkan bisa menonton laga dari kamar,” kata Darren, seperti dikutip The Sun. “Tapi begitu pertandingan mulai, kami malah disuruh menutup tirai kamar yang menghadap lapangan.”
Begitu peluit pertama pertandingan Blackpool melawan Bolton Wanderers berbunyi, suara sorak penonton menggema di luar jendela mereka yang tertutup rapat.
Pemandangan lapangan—yang jadi daya tarik utama kamar itu—lenyap di balik kain tebal berwarna abu. “Ridiculous,” kata Darren kesal. “Hotel dengan pemandangan lapangan, tapi tidak boleh melihat lapangan?”
Surat dari Manajer Hotel
Beberapa menit kemudian, Darren menemukan surat yang diselipkan di bawah pintu kamar. Surat itu berasal dari Chloe Paxton, manajer Blackpool FC Stadium Hotel.
Isinya jelas, tirai harus ditutup satu jam sebelum kick-off hingga pertandingan berakhir. Aturannya, kata surat itu, sesuai dengan ketentuan resmi English Football League (EFL) dan Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA).
Tidak hanya tamu hotel yang terkena aturan itu. “Bahkan restoran hotel juga harus menurunkan penutup jendelanya,” ujar salah satu staf hotel yang enggan disebut namanya kepada The Sun.
“Kami punya petugas yang mengawasi tamu agar tidak melanggar. Kalau ketahuan, bisa kena sanksi,” lanjutnya.
Sekilas aturan ini terdengar absurd, tapi ada logika hukum di baliknya. Undang-Undang The Sporting Events (Control of Alcohol etc.) Act 1985 melarang konsumsi alkohol yang dilakukan dengan pandangan langsung ke lapangan selama pertandingan berlangsung.

Stadion Bloomfield Road milik klub Blackpool FC di Divisi 1 Liga Inggris tampak dari udara. (the sun)
Karena kamar hotel merupakan ruang privat yang tak bisa diawasi oleh steward stadion, maka menutup tirai menjadi satu-satunya cara memastikan tidak ada tamu yang melanggar.
Aturan itu juga diklaim untuk mencegah gangguan bagi pemain atau ofisial selama pertandingan.
Namun, banyak yang merasa peraturan itu tidak sebanding dengan harga yang mereka bayar. Darren menuturkan bahwa pada hari-hari tanpa pertandingan, tarif kamar jauh lebih murah.
“Ironisnya, saat tidak ada pertandingan, ketika tidak ada yang bisa dilihat selain rumput kosong, harga kamar justru lebih masuk akal,” ujarnya. “Tapi saat ada laga, tarif naik, padahal kita tak boleh menontonnya.”
Dilema Bisnis dan Regulasi
Kasus tentang aturan hotel dan minuman keras ini memperlihatkan dilema unik antara komersialisasi stadion dan regulasi olahraga di Inggris.
Blackpool FC bukan satu-satunya klub yang memiliki hotel di kompleks stadion; model bisnis semacam ini juga dijalankan oleh klub-klub seperti Bolton Wanderers dan MK Dons. Namun, belum semua klub menerapkan aturan “tirai wajib tutup”.
Menurut beberapa pengamat olahraga, peraturan ini memang menempatkan hotel dalam posisi sulit. Mereka menjual pengalaman eksklusif yang secara hukum tidak boleh dinikmati sepenuhnya.
“Bayangkan menjual tiket bioskop, tapi melarang penonton menatap layar,” tulis kolumnis olahraga The Guardian dalam ulasan satirnya tentang fenomena ini.
Bloomfield Road sendiri adalah stadion dengan sejarah panjang—dibuka sejak 1899 dan kini berkapasitas 17.000 penonton.
Di tengah upaya klub menambah pendapatan melalui sektor perhotelan, kasus Darren menunjukkan bagaimana batas antara hiburan, bisnis, dan regulasi bisa bertabrakan dengan cara yang ganjil.
Ketika ditanya apakah ia akan kembali menginap di sana, Darren tertawa getir. “Mungkin saja, tapi hanya kalau mereka izinkan tirainya terbuka,” ujarnya.
“Kalau tidak, lebih baik saya nonton dari pub saja—setidaknya di sana, minuman boleh diseruput sambil menatap layar,” jelasnya.
Ironi pun berlanjut: kamar “dengan pemandangan lapangan” itu tetap laris. Rupanya, di dunia sepak bola Inggris, absurditas pun bisa dijual—asal ada sedikit sentuhan nostalgia dan sejumput rasa ingin tahu dari para penggemar. (*)
Suasana kamar hotel di Stadion Bloomfield Road milik klub Blackpool FC di Divisi 1 Liga Inggris. (the sun)







