Kesehatan
News

Ikan Asin Bukan Tersangka Tunggal, Hidung Mampet Tak Kunjung Hilang Alarm Dini Kanker Nasofaring

Ilustrasi Kanker nasofaring bukan hanya karena ikan asin, tapi banyak penyebab lainnya. (dok CGPT)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Di lorong Departemen THT Gedung A Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Universitas Hasanuddin (Unhas), suara langkah kaki beradu dengan derit troli obat.

Di ruang tunggu, keluhan pasien terdengar mirip, hidung mampet yang tak kunjung hilang, telinga seperti “penuh”, kadang disertai benjolan di leher.

Di luar rumah sakit, pemandangan lain akrab bagi kota pesisir. Warung makan dengan lauk ikan asin, gurih, murah, mudah ditemukan.

Kebiasaan itulah yang kerap disebut-sebut sebagai “tersangka utama” kanker nasofaring. Namun, menurut dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorokan–Bedah Kepala Leher, konsultan onkologi di RSP Unhas, Dr dr Nova AL Pieter SpTHT, cerita penyakit ini tak sesederhana menu di piring.

“Kanker nasofaring itu multifaktorial,” ujarnya, menekankan bahwa makanan hanya satu mata rantai dari rangkaian pemicu.

Di dalam ikan asin, terutama yang diproses dan dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang, dapat terbentuk senyawa nitrosamin—kelompok zat yang kerap dibahas dalam kajian karsinogen.

Di literatur internasional, IARC (lembaga kanker WHO) bahkan menyatakan Chinese-style salted fish sebagai karsinogen Kelompok 1 untuk kanker nasofaring; sementara “salted fish” jenis lain dinilai belum cukup bukti untuk diklasifikasikan (Group 3).

Artinya, bukti terkuat memang terkait jenis dan konteks tertentu, tetapi peringatan soal produk ikan asin/pangan awetan tetap relevan ketika pola konsumsi tidak terkendali. 

Bagi Nova, nitrosamin berbahaya karena bisa menjadi pemantik bagi musuh lama yang diam-diam tinggal di tubuh banyak orang: virus Epstein–Barr (EBV).

Hampir semua orang pernah terpapar EBV, dan pada mayoritas kasus virus itu tidak menimbulkan masalah.

Tetapi pada kondisi tertentu, EBV terkait kuat dengan kanker nasofaring—hubungan yang sudah lama menjadi perhatian riset kanker. 

Masalahnya, pemantik EBV bukan cuma dari makanan. Nova menyebut paparan lingkungan sebagai “asupan” harian yang sering diremehkan: asap kendaraan, asap pabrik, debu dari pekerjaan kayu/furnitur, hingga paparan dari aktivitas seperti pengelasan.


dokter Spesialis THT-Bedah Kepala Leher RS Unhas Dr dr Nova AL Pieter SpTHT BKL Subsp Onko (K) FICS. (dok unhas tv)


Dalam kerangka besar kesehatan masyarakat, ini masuk akal: nasofaring adalah pintu napas; apa pun yang sering dihirup—iritan, partikel, atau polutan—bisa menjadi stres kronis bagi jaringan.

Di Asia Tenggara, konteks itu terasa makin dekat. Analisis insidensi kanker nasofaring menunjukkan kawasan ini termasuk daerah dengan angka relatif tinggi; Indonesia bahkan disebut berada di jajaran teratas di Asia Tenggara untuk insidensi kanker nasofaring pada 2022 (ASIR sekitar 6,1 per 100.000). 

Yang membuat penyakit ini licin adalah waktunya. Nova mengingatkan, kebiasaan tidak sehat yang dimulai sejak usia dini dan berlangsung lima sampai 10 tahun bisa memperbesar peluang munculnya kanker nasofaring.

Diketahui, kanker ini sering kali menjangkiti pasien ketika orang masuk usia produktif, saat fokus hidup sedang padat: kerja, keluarga, dan tagihan.

Ada pula faktor genetik, meski tidak bekerja seperti “kutukan keluarga” yang pasti menimpa. Riwayat keluarga dapat meningkatkan risiko, tetapi tidak otomatis berarti anak pasti terkena.

Genetik lebih sering berperan sebagai kerentanan—yang nasibnya ditentukan oleh lingkungan dan pola hidup. 

Di titik ini, istilah “kombinasi” menjadi kunci. Makanan awetan, polusi udara, faktor keturunan, dan EBV saling bertaut—bukan berdiri sendiri.

Tambahan yang juga sering luput adalah rokok. Sejumlah studi dan meta-analisis menemukan merokok berasosiasi dengan peningkatan risiko kanker nasofaring, dan ada bukti bahwa merokok dapat berhubungan dengan aktivasi EBV pada jalur biologis tertentu. 

Nova mendorong langkah pencegahan yang terdengar sederhana tetapi konsisten: batasi ikan asin dan pangan yang diasap/diawetkan, perbaiki gaya hidup, dan jangan menormalisasi keluhan THT yang menetap.

Gejala awal kanker nasofaring kerap menyerupai gangguan ringan. Banyak orang datang ketika keluhan sudah menahun.

Tanda yang patut diwaspadai antara lain benjolan di leher yang tidak hilang, hidung tersumbat sebelah, mimisan, atau gangguan pendengaran pada satu telinga (sering disertai denging/tinnitus atau rasa penuh seperti ada cairan).

"Sakit kepala, penglihatan ganda, hingga baal pada wajah juga bisa muncul pada sebagian kasus," ujar dokter Nova. 

Jika keluhan di hidung, telinga, atau tenggorokan menetap berminggu-minggu, terutama bila muncul kombinasi beberapa gejala, pemeriksaan ke dokter THT penting penting dilakukan.

Hal itu untuk memastikan penyebabnya. Deteksi lebih dini biasanya membuka pilihan terapi yang lebih efektif dan terukur. 

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)