
FINAL. Pemain Arsenal merayakan kesuksesan melaju ke final Carabao Cup 2026, Rabu (4/2/2026). (the sun/reuters)
Chelsea, di bawah pelatih anyar mereka, Liam Rosenior, datang dengan misi bertahan dan mencuri peluang.
Strategi itu hampir berhasil. Sepanjang laga, The Blues tampil disiplin, menutup ruang, dan memaksa Arsenal berputar-putar tanpa penetrasi berarti.
Serangan Arsenal kerap kandas di sepertiga akhir. Viktor Gyökeres, yang diharapkan menjadi ujung tombak, kembali kesulitan.
Ia bekerja keras namun minim peluang bersih sebelum akhirnya digantikan Havertz—keputusan yang kelak menjadi pembeda.
Chelsea sendiri nyaris tak memberi ancaman nyata. Peluang terbaik mereka baru hadir jelang turun minum lewat Enzo Fernández, tetapi tembakannya terlalu mudah ditepis kiper Arsenal, Kepa Arrizabalaga.
Rosenior mencoba mengubah arah laga dengan memasukkan Cole Palmer dan Estevao pada menit ke-60. Namun, perubahan itu tak cukup.
Chelsea tetap tumpul. Hingga menit ke-90, mereka belum menunjukkan tanda-tanda mampu membalikkan keadaan.
Absennya Bukayo Saka karena cedera pinggul membuat Arteta menurunkan Noni Madueke sejak awal.
Winger yang didatangkan dari Chelsea dengan nilai 48,5 juta pound sterling—setara sekitar Rp970 miliar—itu tampil cukup solid, meski tak terlalu menonjol.
Tepuk tangan suporter justru datang ketika Madueke menjatuhkan Marc Cucurella dalam duel fisik di babak pertama.
Arteta juga melakukan rotasi dengan mencadangkan Martin Ødegaard dan Leandro Trossard. Keputusan itu menunjukkan perubahan pendekatan sang pelatih.
Arsenal tak lagi memaksakan sepak bola menyerang penuh seperti dua musim lalu. Pendekatan tersebut memang memikat mata, tetapi nihil trofi.
Kini, Arsenal memilih jalur yang lebih dingin dan efisien. Mereka mungkin tidak lagi memikat, tetapi tetap menjadi salah satu tim paling solid di Inggris—bahkan Eropa.
Gol Penentu dan Tiket Final
Kebuntuan akhirnya pecah di menit ketujuh masa tambahan waktu. Declan Rice mengirim umpan terobosan akurat.
Havertz mengecoh kiper Robert Sánchez sebelum menceploskan bola ke gawang kosong. Gol itu menjadi gol keduanya musim ini sejak pulih dari cedera.
Beberapa pemain Chelsea langsung terjatuh ke rumput. Mereka sadar peluang telah habis. Arsenal mengunci kemenangan dan melangkah ke final.
Bagi Rosenior, ini kekalahan keduanya dari delapan pertandingan sejak menjabat—dan keduanya datang dari Arsenal.
Meski gagal, pelatih yang menggantikan Enzo Maresca itu masih mendapat pelajaran berharga tentang betapa tipisnya margin di level tertinggi.
Arsenal kini selangkah lebih dekat menuju musim bersejarah. Entah akan berakhir dengan satu, dua, atau bahkan empat trofi, satu hal pasti: mereka kembali ke Wembley. Dengan cara yang senyap, tanpa hingar-bingar, tapi efektif. (*)







