SIDENRENG RAPPANG, UNHAS.TV — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang 115 Universitas Hasanuddin melaksanakan program Kelas Terjemah Al-Qur’an berbasis Metode Tamyiz di TPA Desa Sipodeceng sebagai upaya sistematis memperkuat literasi makna Al-Qur’an anak-anak di tingkat akar rumput pada 4 Januari hingga 6 Februari 2026.
Program ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan memahami Al-Qur’an secara komprehensif melalui pendekatan pembelajaran terstruktur yang menekankan penerjemahan kata per kata, sehingga anak-anak tidak hanya mampu membaca teks Arab, tetapi juga memahami kandungan pesan ayat secara kontekstual sejak usia dini.
Metode Tamyiz yang digunakan dalam kegiatan ini merupakan pendekatan pembelajaran bahasa Arab praktis yang berkembang di Indonesia dan dikenal efektif dalam membantu peserta didik mengenali struktur dasar kosakata dan pola kalimat Al-Qur’an secara bertahap, sehingga mempercepat kemampuan memahami makna tanpa harus menunggu penguasaan gramatika tingkat lanjut.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung secara intensif dengan pembagian kelompok berdasarkan tingkat kemampuan peserta, di mana materi disampaikan secara bertingkat mulai dari pengenalan kosakata dasar, pemahaman struktur kalimat sederhana, hingga latihan penerjemahan ayat pendek yang relevan dengan kehidupan sehari-hari anak-anak.
Selama proses pembelajaran, antusiasme peserta terlihat meningkat signifikan yang ditandai dengan munculnya diskusi interaktif antara instruktur dan anak-anak mengenai makna ayat, konteks turunnya wahyu, serta relevansi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sosial mereka di desa.

Mahasiswa KKN Gelombang 115 Universitas Hasanuddin mendampingi anak-anak TPA Desa Sipodeceng dalam Kelas Terjemah Al-Qur’an berbasis Metode Tamyiz, membimbing peserta memahami makna ayat secara kata per kata melalui pembelajaran interaktif yang berlangsung sejak 4 Januari hingga 6 Februari 2026.
Halisa Magfirah, salah satu anggota pelaksana kegiatan, menjelaskan bahwa Metode Tamyiz dalam kelas ini berfokus pada penguatan pemahaman makna secara bertahap melalui penerjemahan kata per kata yang dipadukan dengan pertanyaan sederhana dan pendekatan dialogis, sehingga anak-anak lebih cepat menangkap pesan ayat Al-Qur’an dengan cara yang menyenangkan, komunikatif, dan mudah dipahami.
Secara akademik, penguatan literasi Al-Qur’an sejak dini selaras dengan berbagai studi pendidikan Islam yang menegaskan bahwa pemahaman makna teks suci berkontribusi terhadap pembentukan karakter, penguatan daya nalar bahasa, serta peningkatan kemampuan literasi kritis yang menjadi fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia berkelanjutan.
Dalam konteks global, isu literasi keagamaan juga menjadi perhatian lembaga-lembaga pendidikan internasional karena pemahaman teks agama yang komprehensif diyakini mampu mencegah kesalahpahaman, radikalisme berbasis tafsir sempit, dan disinformasi keagamaan yang kerap muncul di ruang digital.
Program Kelas Terjemah Al-Qur’an ini diharapkan menjadi fondasi berkelanjutan dalam membangun budaya memahami Al-Qur’an secara substantif di Desa Sipodeceng, sekaligus menjadi model replikasi bagi desa-desa lain dalam mengintegrasikan pengabdian mahasiswa dengan penguatan literasi keagamaan yang edukatif, ilmiah, dan berorientasi pada kemaslahatan umat manusia secara luas.(*)
Anak-anak TPA Desa Sipodeceng menunjukkan hasil belajar mereka dengan memegang modul Kelas Terjemah Al-Qur’an berbasis Metode Tamyiz yang difasilitasi Mahasiswa KKN Gelombang 115 Universitas Hasanuddin, sebagai bagian dari penguatan literasi makna ayat secara sistematis dan berkelanjutan.








