Ekonomi
Internasional

Kepanikan Ekonomi Makin Terlihat di AS, Gedung Putih Munculkan Narasi Andalannya

MAKASSAR, UNHAS.TV - Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah memicu kenaikan harga minyak dunia yang sangat drastis dalam waktu singkat. 

Pada awal Maret ini, minyak mentah jenis Brent crude telah mencapai $107 hingga $110 per barel. Adapun jenis WTI crude oil yang merupakan benchmark utama AS naik drastis dari sekitar $71,23 per barel (data penutupan 2 Maret 2026) menjadi $104 hingga $115 per barel pada 9 Maret 2026. Secara keseluruhan, terjadi kenaikan antara 45 persen hingga 60 persen di beberapa titik hari.

Kenaikan ini dipicu oleh tiga faktor utama yakni penutupan Selat Hormuz, pemotongan produksi besar-besaran oleh Irak termasuk perubahan kepemimpinan di Iran, serta kekhawatiran eskalasi konflik Iran, Israel, dan AS.

Selat Hormuz ikut memegang peranan penting terhadap kenaikan harga minyak mentah dunia karena merupakan selat paling sibuk melayani lalu lintas pengapalan minyak dari Timur Tengah ke sejumlah negara di Afrika, Eropa, hingga Asia Pasifik. Diperkirakan lebih dari 20 persen pasokan minyak dunia, melintas melalui selat ini.

Meski ini mengkhawatirkan bagi banyak negara di dunia termasuk di AS, Presiden Donald Trump menyebut ini hanyalah dampak kecil. Trump mengistilahkan sebagai "very small price to pay" demi mengurangi kegelisahan banyak pihak termasuk kegelisahan warganya.

Sekutu Trump, John Catsimatidis, yang merupakan pemilik kilang minyak, menyebut kenaikan harga ini sebagai fluktuasi sementara yang perlu ditahan "satu bulan" atau lebih demi menghajar musuh-musuh AS.

Kendati demikian, sejumlah investor dalam negeri AS mulai khawatir karena perang ternyata makin panjang dan makin meluas. Pasar uang dan pasar saham di New York sudah bereaksi melalui keluarnya dana lebih dari $3 triliun. Indek pasar saham Dow Jones Industrial Average (DJIA) bahkan turun sebesar 650 poin dalam lima hari terakhir. 

Para analis menilai, jika tren ini terus berlanjut maka akan terjadi kebuntuan ekonomi dalam negeri. Inflasi akan meninggi, utang rakyat meningkat, dan pengangguran akan meluas. 

Maka demi menenangkan investor yang sedang panik, Gedung Putih diduga mengeluarkan satu narasi secara massif di media-media arus utama. Narasi yang menekankan bahwa volatilitas saat ini adalah bagian dari rencana besar Trump dan bisa diatasi.

Narasi yang dimaksud yakni "Short Torm Pain for Long Term Gain" atau "Penderitaan Singkat untuk Hasil yang Lebih Lama". Narasi ini makin sering muncul di stasiun televisi CNBC, Fox News, dan CNN.

Gedung Putih menggunakan narasi ini sebagai alat retorika agar publik bisa bersabar demi menghadapi tekanan ekonomi di AS. Narasi ini kembali dipakai karena punya riwayat keberhasilan saat digunakan pejabat pemerintahan Trump di awal periode keduanya, atau awal 2026.  

Pejabat, penasihat ekonomi, serta komentator menggunakan narasi ini untuk membenarkan berbagai kebijakan ekonomi yang menyebabkan tekanan kepada masyarakat dan pasar.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut tekanan ekonomi yang terjadi saat ini sebagai "detox period" atau periode sementara untuk menghilangkan racun. Scott Bessent menegaskan bahwa periode transisi ini untuk membangun ekonomi AAS yang lebih kuat dan mandiri dalam jangka panjang. 

Beberapa ekonom independen tidak yakin narasi "short term pain for long term gain" ini akan berhasil. Mereka menyebut narasi ini sebagai pembenaran atas kebijakan yang berisiko menyebabkan resesi atau malaise ekonomi jangka panjang.

Bahkan beberapa menyebut "short term pain for long term gain" bisa berubah menjadi "short term pain fot long term pain" atau penderitaan yang singkat justru menjadi penderitaan jangka panjang.(*)