MAKASSAR, UNHAS.TV - Australia saat ini sedang menghadapi krisis bahan bakar yang signifikan akibat konflik di Timur Tengah, namun secara teknis negara ini belum kehabisan stok total.
Meskipun pemerintah menegaskan bahwa pasokan nasional masih cukup untuk kebutuhan jangka pendek, gangguan distribusi dan aksi belanja panik (panic buying). Sempat terjadi lonjakan permintaan sebesar 400 persen dalam sehari sehingga menyebabkan ratusan stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di seluruh negeri kehabisan stok.
Hingga akhir Maret 2026, pemerintah melaporkan memiliki sekitar 38 hari persediaan bensin, 30 hari solar, dan 30 hari bahan bakar jet. Namun, lebih dari 500 SPBU di seluruh Australia dilaporkan kehabisan setidaknya satu jenis bahan bakar. Di New South Wales saja, terdapat 289 stasiun yang terdampak.
Kekhawatiran utama di Australia saat ini adalah solar dianggap paling kritis karena menggerakkan sektor logistik, pertanian, dan pertambangan. Stok solar diperkirakan hanya aman hingga pertengahan April jika tidak ada pengiriman baru yang tiba.
Menipisnya cadangan bahan bakar minyak di Australia adalah dampak dari blokade di Selat Hormuz yang telah mengganggu rute pengiriman minyak global.
Meskipun Australia mengimpor sebagian besar bahan bakarnya dari Asia (Singapura, Korea Selatan, Malaysia), kilang-kilang di Asia tersebut sangat bergantung pada minyak mentah dari Timur Tengah.
Impor sangat dibutuhkan karena Australia kini hanya memiliki dua kilang minyak yang beroperasi yakni Lytton di Brisbane dan Geelong di Victoria. Adapun 90% kebutuhan bahan bakar cair harus diambil dari impor.(*)






