Unhas Menjawab

La Nina dan Nasib Nelayan: Penjelasan Prof. Halmar Halide tentang Cuaca Ekstrem

Di sebuah kampung nelayan di pesisir Sulawesi Selatan, langit mendung seakan tak mau pergi. Hampir setiap hari, hujan turun tanpa jeda, membuat laut bergelombang tinggi dan berbahaya bagi para nelayan. 

Perahu-perahu kayu yang biasanya berlayar mencari ikan kini lebih sering bersandar di dermaga, tertambat oleh ketidakpastian cuaca. "Kalau begini terus, kami bisa bangkrut. Tidak bisa melaut, berarti tidak ada pemasukan," keluh Arman, seorang nelayan berusia 45 tahun, sambil mengamati langit yang semakin gelap.

Fenomena cuaca ekstrem yang mereka hadapi bukan sekadar hujan biasa. Ini adalah dampak dari La Nina, anomali iklim yang membuat suhu permukaan laut Samudra Pasifik lebih dingin dari biasanya, memicu peningkatan curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Menurut Prof. Dr. Halmar Halide, M.Sc., seorang Guru Besar Hidrometeorologi di Universitas Hasanuddin yang juga dikenal sebagai pakar dalam bidang pemodelan hidrodinamika dan oseanografi, La Nina terjadi akibat interaksi antara lautan dan atmosfer yang menyebabkan perubahan pola angin dan hujan.



"Fenomena ini membuat curah hujan di Indonesia meningkat drastis, memperpanjang musim hujan, dan berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan badai," jelasnya dalam program Unhas SpeakUp di Unhas TV.

Sebagai seorang akademisi dengan pengalaman panjang dalam penelitian tentang dinamika laut dan atmosfer, Prof. Halmar banyak terlibat dalam studi tentang perubahan iklim dan dampaknya terhadap wilayah pesisir. Ia menekankan bahwa pemahaman tentang La Nina dan El Nino sangat penting bagi masyarakat pesisir dan petani yang bergantung pada kondisi cuaca untuk kehidupan mereka.

Dalam penjelasannya, Prof. Halmar juga mengungkapkan bahwa La Nina dan El Nino sering dianalogikan sebagai fenomena yang memiliki aspek gender. La Nina, yang dalam bahasa Spanyol berarti "gadis kecil," dikaitkan dengan kondisi yang lebih "lembut" tetapi penuh kelembapan, membawa hujan yang terus-menerus dan membuat atmosfer lebih dingin. Sebaliknya, El Nino—"anak laki-laki"—sering dikaitkan dengan cuaca yang lebih "panas" dan kering, menyebabkan kekeringan berkepanjangan di banyak daerah.

"Aspek gender dalam fenomena ini lebih pada karakteristiknya," jelas Prof. Halmar. "La Nina cenderung memberikan curah hujan berlebih yang membuat banjir dan longsor lebih sering terjadi, sementara El Nino membawa panas yang ekstrem dan kekeringan panjang. Keduanya punya dampak besar, hanya dalam bentuk yang berbeda."


>> Baca Selanjutnya