
Prof Halmar Halide
Di banyak daerah pesisir, La Nina membawa dampak besar. Angin kencang dan gelombang tinggi membuat para nelayan tak bisa melaut. Akibatnya, pasokan ikan ke pasar menurun, harga ikan melonjak, dan ekonomi masyarakat pesisir terguncang.
Dampak La Nina tak hanya dirasakan nelayan, tetapi juga sektor lain seperti pertanian dan kesehatan. Hujan yang terus-menerus mengancam lahan pertanian, membuat panen terhambat dan hasil tani membusuk sebelum sempat dipanen.
Sementara itu, kelembapan tinggi akibat curah hujan berlebih juga meningkatkan risiko penyakit. Demam berdarah, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan diare menjadi ancaman bagi masyarakat, terutama anak-anak dan lansia.
"Kami sering kekurangan pasokan makanan segar karena kapal nelayan tidak bisa berangkat. Harga ikan dan sayur naik, sementara penghasilan kami justru menurun," ujar Suri, ibu tiga anak yang tinggal di kampung nelayan tersebut.
Untuk memahami dampak La Nina secara lebih akurat, ilmuwan menggunakan model statistik dan dinamis yang dapat memperkirakan pola cuaca ke depan. "Namun, semakin jauh prediksi cuaca dibuat, semakin tinggi tingkat ketidakpastiannya," jelas Prof. Halmar.
Saat ini, teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai diterapkan untuk meningkatkan akurasi prediksi. Meskipun belum sempurna, teknologi ini bisa membantu memberikan peringatan dini agar masyarakat lebih siap menghadapi perubahan cuaca ekstrem.
Menghadapi dampak La Nina, masyarakat dan pemerintah perlu mengambil langkah mitigasi yang serius. Informasi dari BMKG tentang cuaca ekstrem harus selalu diperhatikan, terutama bagi nelayan dan petani. Infrastruktur mitigasi bencana juga harus diperkuat agar risiko banjir dan tanah longsor dapat dikurangi.
Selain itu, dukungan ekonomi bagi masyarakat terdampak sangat diperlukan. Nelayan yang tidak bisa melaut membutuhkan bantuan, baik dalam bentuk subsidi bahan bakar, bantuan sosial, atau program ekonomi alternatif. Kesadaran kesehatan juga perlu ditingkatkan, mengingat potensi munculnya penyakit akibat cuaca ekstrem.
Bagi kampung nelayan seperti tempat tinggal Arman, La Nina bukan sekadar fenomena cuaca—ini adalah ujian ketahanan hidup. Setiap hari, mereka berjibaku dengan laut yang tak bersahabat, harga kebutuhan yang naik, dan cuaca yang sulit diprediksi.
Namun, di balik tantangan ini, ada harapan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang La Nina, serta kesiapsiagaan yang lebih baik dari masyarakat dan pemerintah, dampaknya dapat diminimalisir. Seperti kata Prof. Halmar, "Fenomena alam adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari, tapi dengan persiapan yang matang, kita bisa menghadapinya dengan lebih baik."
Sementara langit masih mendung di kampung nelayan itu, harapan tetap ada. Dengan strategi mitigasi yang tepat, mereka bisa terus bertahan, menunggu hari cerah kembali datang.(*)