Lingkungan

Menangkap CO₂ Menjadi Format: Dari Polusi ke Energi Bersih

Energi Terbarukan

Oleh: Khusnul Yaqin*
Pemanasan global bukan sekadar ancaman masa depan, tetapi kenyataan yang semakin mendesak. Setiap tahun, konsentrasi karbon dioksida (CO₂) di atmosfer meningkat, memicu perubahan iklim yang semakin ekstrem. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan emisi, mulai dari energi terbarukan hingga teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon. Namun, bagaimana jika CO₂ tidak hanya ditangkap, tetapi juga diubah menjadi sesuatu yang berguna?

Sebuah penelitian terbaru berhasil mengembangkan katalis mangan molekuler yang dapat mengubah CO₂ menjadi format dengan memanfaatkan energi cahaya. Dengan menggunakan silikon berpori teroksidasi termal sebagai pendukung katalis, ilmuwan menunjukkan bahwa gas rumah kaca ini dapat dikonversi menjadi bahan baku industri yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Format dalam konteks ini merujuk pada asam format (HCOOH) atau format (HCOO⁻) dalam bentuk garamnya. Senyawa ini bukan sekadar produk kimia biasa, melainkan sumber energi alternatif yang dapat digunakan dalam berbagai industri. Format memiliki potensi sebagai pembawa hidrogen, bahan baku kimia, bahkan sebagai komponen dalam bahan bakar bersih. Dengan kata lain, teknologi ini tidak hanya mengurangi karbon di atmosfer, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru yang lebih ramah lingkungan.

James Mayer, salah satu ilmuwan dalam penelitian ini, menekankan bahwa format memiliki prospek luas dalam industri energi dan kimia. Dengan teknologi yang tepat, kita bisa memasuki era baru di mana CO₂ tidak lagi dianggap sebagai limbah, tetapi sebagai bahan mentah yang dapat dikonversi menjadi energi dan produk bernilai.

Dalam penelitian ini, ilmuwan menempelkan katalis mangan pada silikon berpori. Ketika terkena cahaya, silikon menyerap energi dan mentransfer elektron ke katalis, yang kemudian digunakan untuk mereduksi CO₂ menjadi format. Keberhasilan ini membuktikan bahwa semikonduktor dapat digunakan sebagai medium untuk mengontrol reaksi katalitik dan meningkatkan efisiensi konversi karbon.

Transformasi CO₂: Dari Emisi Menjadi Energi Terbarukan. Credit: Science Direct.
Transformasi CO₂: Dari Emisi Menjadi Energi Terbarukan. Credit: Science Direct.


Eleanor Stewart-Jones, mahasiswa pascasarjana kimia di Yale yang juga penulis utama studi ini, menyebutkan bahwa penelitian ini membuka peluang baru dalam pemanfaatan silikon berpori untuk reaksi katalitik. Tidak hanya terbatas pada CO₂, pendekatan ini juga dapat diterapkan pada berbagai reaksi kimia lainnya, membuka jalan bagi inovasi energi berkelanjutan di masa depan.

Konsep ini menjadi semakin menarik jika dibandingkan dengan metode penangkapan karbon konvensional, yang umumnya hanya menyimpan CO₂ tanpa mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna. Teknologi ini dapat menjadi langkah maju dalam upaya menstabilkan kadar karbon di atmosfer, sekaligus membuka jalur baru bagi ekonomi berbasis karbon sirkular.

Namun, tantangan masih ada. Untuk menerapkan teknologi ini dalam skala industri, diperlukan investasi besar dalam riset dan pengembangan serta infrastruktur yang memungkinkan implementasi komersialnya. Selain itu, masih ada pertanyaan tentang efisiensi jangka panjang, biaya produksi, dan dampak lingkungan dari penggunaan silikon berpori dalam jumlah besar.

Meskipun demikian, studi ini memberikan harapan baru bagi masa depan energi dan lingkungan. Dengan terus mendorong inovasi dan kolaborasi lintas disiplin, kita bisa membayangkan dunia di mana karbon dioksida bukan lagi polutan yang mengancam, tetapi sumber daya berharga yang membantu kita membangun masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

                                                                                                           Tamalanrea mas, 17 Maret 2025

*Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin