MAKASSAR, UNHAS.TV - Makassar International Writers Festival atau MIWF 2026 menghadirkan sesi pra-peluncuran buku Maadi karya Natasha Rizky di Chapel Benteng Rotterdam, Makassar, Minggu (17/5/2026) malam.
Ruang acara dipadati pengunjung yang ingin mendengar cerita di balik buku rampai puisi terbaru penulis dan aktris tersebut.
Sesi ini menjadi salah satu agenda yang menarik perhatian dalam festival sastra tahunan itu. Natasha membahas pengalaman personal, proses belajar hidup, dan cara mengolah peristiwa menjadi tulisan. Diskusi berlangsung hangat dan interaktif, dipandu Amy Rahmiyanti.
Maadi merupakan buku rampai puisi keempat Natasha setelah Catatan Kronik, Kamu Tidak Istimewa, dan Ternyata Tanpamu.
Buku ini mengangkat kesadaran tentang bekal cerita dari masa lalu yang terus dibawa seseorang ke hari ini dan masa depan. Natasha menyusun gagasan itu dalam tiga bagian: Jejak, Arus, dan Arah.
Menurut Natasha, Maadi berangkat dari kata dalam bahasa Arab, madi, yang berarti masa lampau. Ia mengatakan buku ini memuat puisi tentang masa lalu sebagai ruang peristiwa dan bingkai pengalaman manusia.
“Setiap orang memiliki masa silamnya masing-masing yang akan menjelma menjadi guru bagi kita,” kata Natasha dalam diskusi tersebut.
.webp)
Natasha Rizky saat tampil dalam MIWF 2026 dengan menggelar Pra-Peluncuran Buku “Maadi” di Benteng Rotterdam, Minggu (17/5/2026). (Unhas TV / Zahra Tsabita)
Ia menilai waktu dapat menjadi kekuatan yang menyelamatkan, tetapi juga bisa merusak bila tidak disikapi dengan hati-hati.
Karena itu, Maadi tidak hanya menyimpan ingatan, tetapi juga mengajak pembaca memeriksa hubungan mereka dengan waktu, kehilangan, luka, dan pelajaran hidup.
Natasha mengatakan proses menulis buku ini lahir dari refleksi panjang terhadap pengalaman sehari-hari. Ia tidak menempatkan masa lalu sebagai beban semata. Baginya, masa lalu dapat berubah menjadi bahan belajar, sumber kesadaran, dan titik tolak untuk memahami diri pada masa kini.
“Harapannya, setelah menutup buku ini, pembaca bisa menjadikannya perenungan. Kita bisa terus belajar dari masa lampau dan merasa bahwa waktu adalah hal yang sangat penting,” ujarnya.
Buku Maadi direncanakan terbit pada akhir Juni 2026. Pra-peluncuran di MIWF 2026 menjadi kesempatan awal bagi pembaca untuk mengenali tema, struktur, dan arah buku tersebut sebelum resmi beredar.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal sesi. Sejumlah pengunjung menyimak penjelasan Natasha, lalu berdialog langsung mengenai proses kreatif menulis, perjalanan emosional, serta cara menghadirkan pengalaman pribadi dalam bentuk karya sastra.
Beberapa peserta juga menanyakan cara menjaga kejujuran dalam tulisan tanpa kehilangan batas personal.
Natasha menjawab dengan menekankan pentingnya proses mengenali diri sebelum memilih cerita yang ingin dibagikan kepada publik. Menurut dia, penulis perlu jujur, tetapi tetap sadar pada dampak tulisannya bagi diri sendiri dan pembaca.
Acara tersebut tidak hanya menghadirkan percakapan tentang buku, tetapi juga memperkuat semangat literasi di Makassar melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
(Zahra Tsabitha Sucheng / Unhas TV)
Natasha Rizky saat tampil dalam MIWF 2026 dengan menggelar Pra-Peluncuran Buku “Maadi” di Benteng Rotterdam, Minggu (17/5/2026). (Unhas TV / Zahra Tsabita)


-300x182.webp)





