Lingkungan
Sosial

Peringatan BMKG Puncak Musim Kemarau 2026, Warga Diminta Menghemat Air

BMKG Peringatkan Puncak Kemarau 2026 lebih panjang. Warga diminta menghemat air. (Ilustrasi ChatGPT, Naskah Unhas TV)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan puncak musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September.

Durasi kemarau di sejumlah wilayah diprediksi mencapai tiga sampai tujuh bulan, sehingga meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, gagal panen, serta kebakaran hutan dan lahan.

Pada dasarian pertama Juli 2026, BMKG mencatat 60,5 persen wilayah Indonesia atau 423 zona musim telah memasuki musim kemarau. Lebih dari 91 persen wilayah diperkirakan mengalami curah hujan rendah, yakni kurang dari 50 milimeter per dasarian.

Kembalinya fenomena El Nino disebut menjadi salah satu penyebab utama penurunan curah hujan. Kondisi itu memperbesar ancaman kekeringan meteorologis di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Selatan.

BMKG telah menetapkan status Waspada Kekeringan Meteorologis untuk wilayah tersebut dan meminta pemerintah daerah serta masyarakat melakukan langkah antisipasi sejak dini.

Kekeringan meteorologis dapat menurunkan ketersediaan air baku, mengganggu produksi pertanian, dan memperbesar risiko kebakaran ketika vegetasi mulai mengering.

Warga juga diminta menghindari pembakaran sampah maupun lahan karena api dapat cepat meluas selama cuaca panas dan kelembapan rendah.

Seorang warga Makassar, Amir, menilai musim kemarau yang lebih panjang tidak hanya dipengaruhi perubahan iklim global. Kerusakan lingkungan, penebangan hutan, dan pembukaan lahan di kawasan pegunungan turut mengurangi kemampuan tanah menyimpan air.



Warga Makassar, Amir, menilai kemarau musim ini panjang dan warga diminta menghemat air. (Unhas TV / Venny Septiani)


“Daerah penyimpan dan penampung air di pegunungan otomatis berkurang. Penebangan hutan dan pembukaan kebun juga memengaruhi air yang masuk ke bendungan, padahal bendungan itu menjadi sumber air PDAM Kota Makassar,” kata Amir di Warkop Azzahra, Makassar, Minggu (12/7/2026).

Menurut dia, dampak perubahan iklim kini dirasakan di banyak negara. Gelombang panas di kawasan yang sebelumnya beriklim lebih dingin menunjukkan perubahan cuaca tidak lagi bersifat lokal.

Di Makassar, dampaknya dapat terlihat pada penurunan debit sumber air dan meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan air bersih.

BMKG mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak selama musim kemarau. Penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga perlu dikendalikan agar tidak terbuang percuma. Amir mengatakan keluarga harus saling mengingatkan untuk menutup keran dan memakai air seperlunya.

“Gunakan air seefektif mungkin. Jangan membiarkan air mengalir tanpa dikontrol. Anak-anak di rumah juga perlu diingatkan karena kondisi ini,” ujarnya.

Ia juga mendorong perlindungan kawasan hulu sungai, mata air, dan daerah resapan. Menurut Amir, vegetasi di kawasan hulu berfungsi menyimpan air hujan dan menjaga aliran menuju sumber air baku. Jika ekosistem itu rusak, kekeringan singkat sekalipun dapat langsung memicu krisis.

Selain konservasi lingkungan, pompanisasi dan pengeboran sumber air di sejumlah titik dapat dipertimbangkan sebagai langkah darurat. Namun upaya tersebut tidak boleh menggantikan perlindungan kawasan tangkapan air yang menjadi penyangga utama ketersediaan air.

Pemerintah daerah juga diminta memetakan permukiman yang rentan mengalami kekurangan air, menyiapkan distribusi air bersih, dan memperkuat koordinasi dengan pengelola layanan air minum.

Petani perlu memperoleh informasi musim agar dapat menyesuaikan pola tanam dan mengurangi risiko kerugian.

Melalui peringatan dini ini, BMKG berharap pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di wilayah rawan kekeringan dan kebakaran.

Masyarakat diminta menghemat air, menjaga lingkungan, serta menghindari kegiatan yang dapat memicu kebakaran. Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi dampak puncak kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa bulan mendatang.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)