MAKASSAR, UNHAS.TV - Departemen Ilmu Kesehatan Anak (DIKA) Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (FK Unhas) meluncurkan program Kabar Dika edisi perdana di Studio Utama Unhas TV, Jumat (22/5/2026).
Program yang disiarkan secara langsung oleh Unhas TV itu mengangkat tema “Hari Lupus Sedunia: Saatnya Peduli Lupus pada Anak”. Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari peringatan Hari Lupus Sedunia.
Melalui program tersebut, Fakultas Kedokteran Unhas berupaya memperluas edukasi publik mengenai lupus pada anak, penyakit autoimun yang masih membutuhkan perhatian serius dari masyarakat, tenaga kesehatan, sekolah, dan pemerintah.
Acara perdana Kabar Dika dihadiri puluhan dokter residen. Dua narasumber dari Fakultas Kedokteran Unhas hadir dalam dialog tersebut, yakni Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Unhas, Prof Dr dr Aidah Juliaty A Baso SpA(K) SpGK, dan spesialis anak konsultan alergi imunologi FK Unhas, dr Bahrul Fikri MKes SpA(K) PhD.
Prof Aidah menekankan pentingnya pemenuhan gizi seimbang bagi anak, termasuk anak dengan lupus.
Menurut dia, kebutuhan makronutrien dan mikronutrien harus terpenuhi secara proporsional. Makronutrien mencakup protein, karbohidrat, dan lemak, sedangkan mikronutrien meliputi vitamin dan mineral.
 SpGK dan konsultan alergi imunologi FK Unhas dr Bahrul Fikri MKes SpA(K) PhD_1.webp)
BICARA DIKA - Kadep Ilmu Kesehatan Anak FK Unhas, Prof Dr dr Aidah Juliaty A Baso SpA(K) SpGK dan konsultan alergi imunologi FK Unhas dr Bahrul Fikri MKes SpA(K) PhD tampil sebagai narasumber dalam Program DIKA Bicara di Studio Unhas TV, Jumat (22/5/2026). (Unhas TV/Venny Septiani)
Ia mengatakan kualitas dan kuantitas asupan anak tidak boleh timpang. Kekurangan salah satu unsur gizi dapat mempengaruhi keseimbangan nutrisi anak.
Karena itu, Prof Aidah menganjurkan pola makan yang lebih alami dan membatasi konsumsi makanan cepat saji, makanan olahan, serta minuman tinggi gula yang banyak dikonsumsi anak-anak.
“Untuk penyakit lupus, nasihat saya kembali ke alam. Kurangi makanan cepat saji atau makanan olahan, dan juga yang tinggi gula,” kata Prof. Aidah dalam program tersebut.
Prof. Aidah menjelaskan, Kabar Dika merupakan wadah Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Unhas untuk berbagi pengetahuan kesehatan anak kepada masyarakat luas.
Menurut dia, Unhas TV menjadi media yang dapat menjembatani kepakaran akademik dengan kebutuhan informasi publik. “Kami ingin menyumbangkan ilmu yang ada di Departemen Anak ini untuk masyarakat luas,” ujarnya.
Banyak Kasus Belum Terdeteksi
Sementara itu, dr. Bahrul Fikri menyebut kasus lupus kemungkinan cukup banyak ditemukan di masyarakat, tetapi belum seluruhnya terdeteksi.
Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan tenaga ahli yang memiliki kemampuan khusus dalam mengenali dan menangani penyakit autoimun tersebut.
Menurut Bahrul, lupus bukan penyakit yang dapat disepelekan, tetapi juga tidak boleh dipandang sebagai akhir dari kehidupan anak.

Mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak FK Unhas hadir dalam Program DIKA Bicara di Studio Unhas TV, Jumat (22/5/2026). (Unhas TV/Venny Septiani)
Ia menegaskan, penyandang lupus tetap dapat hidup normal, beraktivitas, dan mengejar cita-cita sepanjang mendapatkan diagnosis, pengobatan, dan dukungan yang tepat.
“Lupus itu tidak bisa disembuhkan, tapi bisa remisi total. Remisi total sama dengan sembuh. Dia beraktivitas sama, sehatnya sama, kelihatannya juga sama. Bedanya, dia masih tergantung pada obat,” kata Bahrul.
Ia meminta masyarakat tidak membangun stigma terhadap anak dengan lupus. Menurut dia, dukungan sosial sangat menentukan kualitas hidup penyandang lupus. Dukungan itu tidak hanya datang dari keluarga, tetapi juga dari pemerintah, masyarakat, dan sekolah.
Bahrul mengatakan banyak penyandang lupus belum terjangkau informasi dan layanan yang memadai. Karena itu, edukasi publik menjadi penting agar gejala lupus pada anak dapat dikenali lebih awal dan pasien memperoleh penanganan yang sesuai.
Dalam kesempatan tersebut, Bahrul juga menyampaikan bahwa Universitas Hasanuddin telah membentuk PASS atau Persatuan Autoimun Sulawesi Selatan.
Organisasi ini menjadi wadah komunikasi dan dukungan bagi penyandang penyakit autoimun, khususnya lupus.
Melalui Kabar Dika, FK Unhas berharap masyarakat semakin memahami bahwa anak dengan lupus membutuhkan perhatian kesehatan yang berkelanjutan, bukan diskriminasi.
Edukasi yang tepat diharapkan dapat membantu keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial menciptakan ruang yang lebih aman bagi penyandang lupus.
Program Kabar Dika edisi perdana ini sekaligus menandai komitmen Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Unhas dalam menyampaikan informasi kesehatan anak yang aktual, mudah dipahami, dan relevan dengan persoalan masyarakat.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Unhas, Prof Dr dr Aidah Juliaty A Baso SpA(K) SpGK, dan spesialis anak konsultan alergi imunologi FK Unhas, dr Bahrul Fikri MKes SpA(K) PhD. (Unhas TV/Venny Septiani)






-300x169.webp)

