SIDRAP, UNHAS.TV - Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kelurahan Macorawalie dan Kelurahan Rappang, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidenreng Rappang, mendapatkan penguatan kapasitas usaha melalui program Desa Binaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (FEB Unhas).
Pendampingan ini diarahkan untuk menjawab sejumlah tantangan yang masih dihadapi pelaku UMKM, mulai dari keterbatasan identitas merek, pemasaran digital, penggunaan kemasan, pengelolaan keuangan, hingga pemenuhan legalitas usaha.
Program tersebut mengusung dua agenda utama. Pertama, “Transformasi Industri Rumah Tangga Pangan Lokal melalui Branding, Digitalisasi, Green Packaging, dan Penguatan Legalitas Usaha Menuju Desa UMKM Berdaya Saing Berkelanjutan di Kelurahan Macorawalie, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidenreng Rappang.”
Kedua, “Desa UMKM Cerdas: Model Pendampingan Terpadu Berbasis Digital untuk Meningkatkan Daya Saing dan Kemandirian Ekonomi Masyarakat pada Kelurahan Rappang, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidenreng Rappang.”
Program Desa Binaan FEB Unhas melibatkan tim pengabdian yang terdiri atas Dr Ibriati Kartika Alimuddin SE MM, Nur Hazimah Alimuddin SE MAcc, Baginda Hamzah ST MBA, Mashur Naufal Hamid SE MSc, serta Audrey Michelle Weny Yolanda SE MAcc.
Kolaborasi tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari pengembangan produk, penguatan kemasan, legalitas, pengelolaan keuangan, hingga pemasaran digital.
Melalui kegiatan ini, Kelurahan Macorawalie dan Kelurahan Rappang diharapkan tidak hanya menjadi wilayah binaan, tetapi berkembang sebagai pusat UMKM lokal yang mampu memanfaatkan inovasi, teknologi digital, dan potensi masyarakat.
Program tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur, serta SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Dengan pendampingan yang berkelanjutan, UMKM diharapkan mampu tumbuh menjadi usaha yang lebih mandiri, profesional, adaptif terhadap perubahan teknologi, dan memiliki daya saing di pasar yang semakin kompetitif.
Pendampingan tersebut tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga mendorong perubahan cara pelaku usaha dalam mengelola bisnis.
UMKM diarahkan agar mampu membangun produk yang memiliki karakter, memanfaatkan teknologi, serta memenuhi standar usaha yang lebih profesional.

PELATIHAN UMKM - Tim pengabdian FEB Unhas mendampingi pelaku UMKM di Kelurahan Macorawalie dan Rappang, Sidrap, melalui pelatihan branding, digitalisasi, green packaging, dan legalitas usaha. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan daya saing ekonomi masyarakat. (Dok PKM FEB Unhas)
Pada aspek branding, pelaku UMKM diperkenalkan pada pentingnya membangun identitas produk. Merek tidak hanya dipahami sebagai nama dagang, tetapi sebagai elemen yang membentuk persepsi konsumen terhadap kualitas dan nilai sebuah produk.
Melalui penguatan identitas merek, produk lokal diharapkan memiliki daya tarik lebih tinggi dan mampu bersaing dengan produk sejenis yang telah lebih dahulu masuk ke pasar modern.
Digitalisasi menjadi salah satu fokus utama dalam program ini. Pelaku UMKM diperkenalkan dengan pemanfaatan media sosial dan marketplace sebagai sarana pemasaran.
Strategi tersebut bertujuan memperluas jangkauan pasar yang selama ini masih banyak bergantung pada pemasaran konvensional.
Perubahan perilaku konsumen yang semakin mengandalkan platform digital membuat kemampuan beradaptasi menjadi kebutuhan penting bagi pelaku usaha.
Karena itu, UMKM tidak hanya diarahkan untuk menjual produk secara langsung, tetapi juga membangun komunikasi dengan pelanggan melalui kanal digital.
Mendorong Kemasan Ramah Lingkungan
Di Kelurahan Macorawalie, pendampingan juga memberikan perhatian khusus pada penerapan green packaging atau kemasan ramah lingkungan.
Kemasan selama ini sering dipandang hanya sebagai pelindung produk. Namun, melalui program ini, pelaku UMKM didorong memahami bahwa kemasan memiliki peran penting dalam membangun citra produk dan meningkatkan nilai jual.
Penggunaan desain kemasan yang menarik serta mempertimbangkan aspek lingkungan diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk lokal. Pendekatan tersebut juga mendukung praktik produksi dan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Selain kemasan, aspek legalitas usaha turut menjadi perhatian. Pelaku UMKM diberikan pemahaman mengenai pentingnya dokumen formal seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), P-IRT, Hak Kekayaan Intelektual (HKI) merek, serta sertifikasi halal.
Legalitas usaha dinilai menjadi salah satu faktor penting bagi UMKM untuk memperluas akses pasar, termasuk memasuki jaringan distribusi yang membutuhkan standar administrasi lebih lengkap.
Membentuk Desa UMKM Cerdas
Sementara itu, di Kelurahan Rappang, pendekatan Desa UMKM Cerdas difokuskan pada penguatan kemampuan manajemen usaha berbasis teknologi digital.
Salah satu materi yang diberikan berkaitan dengan pengelolaan keuangan usaha. Pelaku UMKM diperkenalkan pada pentingnya memisahkan keuangan rumah tangga dengan keuangan bisnis.
Melalui pencatatan sederhana, pelaku usaha dapat mengetahui kondisi arus kas, menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, serta mengambil keputusan pengembangan usaha secara lebih tepat.
Pendampingan juga mencakup strategi pemasaran digital melalui media sosial dan marketplace. Pelaku UMKM diarahkan untuk memahami cara membuat konten produk, mengenalkan usaha kepada konsumen, serta membangun hubungan yang lebih luas dengan pasar.

PELATIHAN UMKM - Tim pengabdian FEB Unhas mendampingi pelaku UMKM di Kelurahan Macorawalie dan Rappang, Sidrap, melalui pelatihan branding, digitalisasi, green packaging, dan legalitas usaha. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan daya saing ekonomi masyarakat. (Dok PKM FEB Unhas)
Ketua Tim Pengabdian Desa Binaan FEB Unhas, Dr Ibriati Kartika Alimuddin SE MM mengatakan pendampingan dilakukan dengan pendekatan yang menyesuaikan kebutuhan nyata pelaku UMKM.
“Kami ingin pendampingan ini tidak berhenti pada pemberian materi. Pelaku UMKM perlu mendapatkan pendampingan yang dapat langsung diterapkan, mulai dari bagaimana membangun branding, menggunakan kemasan yang lebih baik dan ramah lingkungan, mengelola keuangan, memanfaatkan media digital, hingga memahami pentingnya legalitas usaha,” ujar Ibriati.
Menurutnya, pengembangan UMKM membutuhkan pendekatan yang menyeluruh karena setiap aspek usaha memiliki keterkaitan. Produk berkualitas membutuhkan dukungan kemasan yang baik, strategi pemasaran yang tepat, pengelolaan keuangan yang tertib, serta legalitas yang memadai. (*)
PELATIHAN UMKM - Tim pengabdian FEB Unhas mendampingi pelaku UMKM di Kelurahan Macorawalie dan Rappang, Sidrap, melalui pelatihan branding, digitalisasi, green packaging, dan legalitas usaha. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan daya saing ekonomi masyarakat. (Dok PKM FEB Unhas)








