LONDON, UNHAS.TV - Nasib Raheem Sterling kini berada di ujung tanduk. Pemain sepak bola internasional Inggris itu didakwa mengemudi berbahaya dan memiliki gas tertawa (nitrous oxide).
Hal itu terjadi usai kecelakaan tunggal Raheem Serlling yang melibatkan Lamborghininya di jalan tol M3, Hampshire, pada 28 Mei 2026 lalu. Jika terbukti bersalah, ia terancam hukuman penjara hingga dua tahun.
Kepolisian Hampshire & Isle of Wight mengonfirmasi bahwa Sterling, 31 tahun, akan menghadapi sidang di Pengadilan Magistrat Basingstoke pada 15 September 2026 mendatang.
Selain mengemudi berbahaya, ia juga didakwa kepemilikan nitrous oxide untuk inhalasi yang salah serta gagal memberikan sampel.
Insiden bermula ketika pengendara lain menghubungi 999 setelah melihat mobil hitam mewah itu oleng di jalur selatan M3, dekat Minley Interchange, sekitar pukul 09.00 pagi.
Sterling ditangkap di dekat persimpangan Farnborough. Tidak ada kendaraan lain yang terlibat dan tidak ada luka-luka dilaporkan dalam kecelakaan tersebut.
Nitrous oxide, yang juga dikenal sebagai gas tertawa, resmi diklasifikasikan sebagai zat psikoaktif Golongan C pada November 2023 dan penggunaannya dianggap ilegal.
Meskipun berbahaya—dapat memicu serangan jantung, stroke, hingga kerusakan otak—gas ini tetap marak digunakan, termasuk di kalangan pesepak bola profesional. Biasanya gas dari tabung besar dihirup melalui balon untuk memberikan efek euforia singkat.
Kecelakaan ini menjadi titik terendah dalam karier Sterling, yang musim ini justru tanpa klub. Pemilik 82 caps bersama Timnas Inggris itu mengawali karier profesionalnya di Liverpool, direkrut dari akademi QPR pada 2010 saat usianya baru 15 tahun.
Ia menjadi idola fans di Anfield sebelum pindah ke Manchester City pada 2015. Di sana, ia meraih kesuksesan besar: empat gelar Premier League, lima Carabao Cup, dan satu FA Cup.
Namun, transfer senilai Rp 1 triliun dari Manchester City ke Chelsea pada Juli 2022 justru menjadi awal masa sulit. Sumber dekat Sterling mengungkapkan kesehatan mentalnya memburuk di Chelsea.
Ia akhirnya dilatih terpisah dari tim utama setelah pelatih Enzo Maresca—yang kini menangani Manchester City—menganggapnya tak lagi dibutuhkan.

Raheem Sterling bergabung Feyenoord, namun musim panas ini tidak memiliki klub. Sterling terancam penjara 2 tahun karena kasus kecelakaan tunggal dengan mobil Lamborgini. (Screenshot The Sun)
"Ia merasa tak berharga. Setiap kali menyentuh bola, ia disebut gagal dan sudah habis. Ia diejek dan dicemooh," ujar sumber tersebut.
Pernah status pinjaman ke Arsenal pada musim 2024/2025 juga gagal memulihkan kariernya. Pada Februari 2026, ia bergabung dengan Feyenoord di Belanda, tetapi kontraknya berakhir pada musim panas ini dan tidak diperpanjang.
"Ia pindah ke Belanda untuk melarikan diri dan menemukan kembali cintanya pada sepak bola, tapi negativitas tetap mengikutinya. Ini sangat berat," tambah sumber.
Sejak insiden di M3, Sterling jarang terlihat di depan publik, kecuali dalam unggahan media sosial saat bermain sepak bola bersama anak-anaknya.
Ia bertunangan dengan kekasih masa kecilnya, Paige Milian, 30 tahun, dan memiliki dua anak dari hubungan itu, serta seorang putri dari hubungan sebelumnya.
Nah, sidang di Basingstoke pada 15 September mendatang akan menjadi penentuan bagi masa depan Sterling—baik di dalam maupun luar lapangan.
Dengan ancaman hukuman penjara dan karier yang sedang terpuruk, mantan bintang yang pernah membawa Inggris ke babak final Euro 2020 itu kini menghadapi pertarungan terberat dalam hidupnya. (*)
Raheem Sterling bergabung Feyenoord, namun musim panas ini tidak memiliki klub. Sterling terancam penjara 2 tahun karena kasus kecelakaan tunggal dengan mobil Lamborgini. (Screenshot The Sun)








