Nasional
Pendidikan
Sosial

Rektor Unhas: SPPG Unhas Bukan Bisnis, Ini Tanggung Jawab Kampus untuk Masa Depan Anak Bangsa

Rektor Unhas Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc (kiri) dan Wakil Kepala BGN Nanik S Deyang Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Komunikasi Publik Nanik S Deyang menanggapi pertanyaan tentang kehadiran SPPG Unhas. (Unhas TV/Venny Septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin membantah isu yang menyebut rencana pembangunan SPPG di lingkungan kampus sebagai proyek komersial atau berorientasi keuntungan.

Kampus menegaskan program tersebut diarahkan untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc mengatakan pembangunan SPPG merupakan bagian dari pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.

Menurut dia, kampus memiliki tanggung jawab akademik untuk menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan terhadap persoalan masyarakat, termasuk dalam mendukung program nasional yang berkaitan dengan peningkatan kualitas gizi.

“Pertama itu dibuat oleh yayasan. Yayasan itu kan nonprofit. Bagi kami ini adalah kesempatan untuk tridharma itu real,” kata Jamaluddin di Auditorium Prof A Amiruddin Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Selasa (5/5/2026).

Jamaluddin menjelaskan, keberadaan SPPG akan menjadi ruang pembelajaran berskala besar bagi mahasiswa. Program ini juga disiapkan sebagai pusat penelitian multidisiplin yang melibatkan berbagai bidang ilmu.

Para peneliti, kata dia, dapat mengkaji banyak aspek, mulai dari keamanan pangan, perkembangan anak, hingga riset metagenomik yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis atau MBG.

“Mahasiswa kami akan belajar sesuai dengan skala yang besar. Di situ ada penelitian, di mana para peneliti ini meneliti begitu banyak hal sampai metagenomic kita teliti berhubungan dengan MBG,” ujarnya.

Menurut Jamaluddin, SPPG juga menjadi sarana pengabdian masyarakat. Ia menolak anggapan bahwa program tersebut berkaitan dengan proyek bisnis.

Bagi Unhas, kata dia, keterlibatan universitas dalam program ini merupakan bagian dari kewajiban institusi pendidikan tinggi untuk peduli terhadap masyarakat Indonesia.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjalankan program tersebut. Universitas, kata Jamaluddin, tidak dapat bekerja sendiri.

Kampus perlu bermitra dengan pemerintah, masyarakat, serta kawasan industri di sekitarnya. Kolaborasi itu disebutnya sebagai bagian dari pendekatan triple helix.

“Ini betul-betul bukan bisnis. Bagi kami itu adalah core competence dan juga kewajiban bagi universitas untuk peduli pada masyarakat Indonesia,” kata dia.

Jamaluddin berharap narasi negatif terkait SPPG tidak terus berkembang. Ia menegaskan tidak ada kepentingan proyek komersial dalam rencana tersebut. Menurut dia, bila dilihat dari sisi keuntungan, program itu bukan sesuatu yang relevan untuk dikaitkan dengan kepentingan bisnis kampus.

“Tidak ada yang berkaitan dengan proyek-proyek. Ini terlalu kecil lah buat kami keuntungannya,” ujarnya.

Lebih jauh, Jamaluddin mengatakan SPPG justru menjadi kebutuhan universitas untuk memberi masukan berbasis bukti kepada pemerintah.

Ia mencontohkan, kajian tentang keamanan pangan dan pertumbuhan bakteri pada bahan makanan membutuhkan fasilitas praktik dan penelitian langsung di lapangan.

Menurut dia, kampus perlu memiliki laboratorium on-site agar dapat memberi rekomendasi yang kuat secara akademik. Dengan begitu, kontribusi universitas tidak berhenti pada wacana, tetapi hadir dalam bentuk riset terapan yang dapat digunakan untuk memperbaiki pelaksanaan program.

“Kalau kita tidak punya dapur, bagaimana saya bisa memberi masukan kepada BGN? Begini loh caranya supaya bakteri itu tidak berkembang untuk beberapa jenis buah,” katanya.

Melalui pembangunan SPPG, Unhas ingin memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang menghasilkan pengetahuan, membangun kolaborasi, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Program ini diharapkan menjadi penghubung antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat dalam mendukung peningkatan kualitas gizi anak bangsa.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)