oleh: Muliadi Saleh (Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran Sosial )
Dulu, dijuluki sebagai kotak ajaib. Ia multifungsi sebagai penanda waktu, pengikat percakapan, dan jembatan kebersamaan. Dari situlah tawa pecah bersama dan perdebatan kecil muncul.
Televisi pernah menjadi pusat gravitasi keluarga. Di ruang itulah ayah, ibu, dan anak-anak duduk sejajar—tanpa algoritma, tanpa earphone, tanpa layar personal.
Televisi menyatukan ritme. Dari jam pulang sekolah, jam makan malam, jam berita. Ia menciptakan kebiasaan sosial yang sederhana namun bermakna yakni menonton bersama.
Namun perlahan, suasana dan ruang itu mulai sepi dan sunyi.
Televisi besar masih tergantung di dinding ruang tamu. Menyala sesekali, tapi lebih sering mati. Sementara itu, setiap kamar menjadi bioskop pribadi. Anak-anak tenggelam di layar ponsel, remaja larut dalam konten yang dipilih algoritma, orang tua pun tak jarang sibuk dengan gawai mereka sendiri. Yang dulu kolektif kini terfragmentasi. Yang dulu bersama kini sendiri-sendiri.
Perubahan ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan pergeseran budaya. Dari budaya komunal menuju individualisme digital. Dari ruang bersama menuju ruang privat. Dari dialog menuju konsumsi sunyi.
Dalam kajian sosiologi media, televisi rumah tangga dahulu dipahami sebagai shared medium. Media yang dikonsumsi bersama dan memproduksi makna sosial. Ia menawarkan diskusi lintas generasi dimana anak bertanya, orang tua menjelaskan.
Perbedaan pendapat diuji dalam suasana akrab. Kini media digital personal membangun pengalaman yang terpisah. Setiap individu hidup dalam gelembung kontennya sendiri. Ego pun tumbuh subur, karena jarang diuji oleh dialog nyata.
Ironisnya, kita hidup di era paling terkoneksi, namun semakin jarang berjumpa secara emosional.
Ruang keluarga kehilangan fungsinya sebagai ruang temu batin. Padahal di sanalah nilai-nilai ditransmisikan bukan lewat ceramah, melainkan lewat kebersamaan.
Anak belajar mendengar, orang tua belajar memahami, keluarga belajar bersabar. Televisi, dengan segala keterbatasannya, pernah menjadi alasan untuk berkumpul. Dan dari alasan sederhana itulah lahir kehangatan.
Tentu, ini bukan nostalgia buta. Televisi bukan tanpa masalah. Namun yang patut kita renungkan bukan sekadar medianya, melainkan praktik sosial di sekitarnya. Yang hilang bukan TV-nya, melainkan ritual kebersamaannya.
Kini pertanyaannya bukan apakah kita harus kembali ke televisi, tetapi apakah kita mau mengembalikan ruang keluarga sebagai ruang bersama. Tempat di mana layar dengan berbagai varian dan bentuknya ditonton bersama, dibicarakan bersama, dan dimaknai bersama.
Tempat di mana anak tidak hanya menonton, tetapi juga berkomunikasi dan bertanya dengan segala kelucuan dan keluguannya.Tempat di mana orang tua tidak hanya mengawasi, tetapi hadir dan merespon.
Menghidupkan kembali ruang keluarga adalah proyek kultural. Ia menuntut kesadaran, bukan sekadar aturan. Menuntut teladan, bukan larangan. Mungkin dimulai dari hal kecil. Misalnya satu jam tanpa gawai, satu acara yang ditonton bersama, satu percakapan hangat setelahnya.
Karena keluarga bukan sekadar tinggal di rumah yang sama, tetapi berbagi ruang makna yang sama. Dan ruang keluarga dengan segala kesederhanaannya pernah
dan seharusnya kembali, menjadi jantung kebersamaan itu.
Di sanalah ego diri menepi, dan kita kembali menjadi keluarga.
undefined








