Internasional

Selat Hormuz Memanas, Iran Disebut Tebar Ranjau dengan GPS dan Bidik Jalur Internet Teluk Regional



KABEL INTERNET - Peta kabel bawah laut terdapat 600 kabel aktif yang berada di Selat Hormuz. (The Sun/TeleGeography)


Sekitar separuh persediaan rudal balistik Iran disebut masih utuh. Sekitar 60 persen kekuatan laut IRGC, termasuk kapal-kapal serang cepat, juga masih aktif.

Adapun sekitar dua pertiga angkatan udara Iran dilaporkan masih operasional setelah gelombang serangan Amerika Serikat dan Israel.

Penilaian kerusakan tempur menunjukkan armada laut konvensional Iran memang banyak yang hancur. Namun, armada kecil IRGC yang lincah justru dinilai masih mampu mengganggu lalu lintas komersial di Selat Hormuz.

Letnan Jenderal Marinir James Adams memperingatkan Iran masih memiliki ribuan rudal dan pesawat nirawak serang satu arah yang bisa mengancam pasukan Amerika Serikat dan mitranya di kawasan.

Di sisi lain, juru bicara Pentagon Sean Parnell menyatakan kampanye militer Amerika telah menghantam lebih dari 13 ribu target Iran dalam waktu kurang dari 40 hari. Ia menyebut 92 persen kapal besar Iran dan sekitar 44 kapal penebar ranjau telah dihancurkan.

Namun, indikator di lapangan menunjukkan krisis justru makin dalam. Iran disebut telah menyatakan Selat Hormuz ditutup, menembaki kapal-kapal, dan mempererat kontrol terhadap jalur perdagangan global.

Sekitar 20 persen minyak dunia melintasi selat itu, sehingga gangguan berkepanjangan dapat mengirim guncangan ke pasar energi internasional.

Ketegangan makin tajam setelah pasukan Iran dilaporkan menyita dua kapal kargo, MSC Francesca dan Epaminondas, serta menembaki kapal ketiga sambil memperingatkan bahwa semua kapal yang terkait Amerika Serikat kini menjadi target sah.

Kapal milik Yunani, Euphoria, yang berlayar dengan bendera Liberia, juga disebut terkena tembakan dan roket pelontar granat hingga terdampar.

Pemantau maritim Inggris melaporkan sedikitnya satu kapal diserang tanpa peringatan, sementara kapal lain mengalami serangan terpisah di dekat pantai Iran dan Oman.

Rangkaian insiden itu terjadi hanya beberapa jam setelah Trump memperpanjang gencatan senjata, yang sempat memunculkan harapan akan tercapainya kesepakatan baru.

Harapan itu segera pudar ketika kekerasan kembali meletus. Trump, yang sebelumnya menyatakan akan terus mengebom bila tak ada kesepakatan, dikabarkan memberi lebih banyak waktu untuk mediasi, tetapi tetap mempertahankan blokade laut yang menekan ekonomi Iran.

Teheran bersikeras tidak akan kembali ke meja perundingan selama blokade itu belum dicabut. Di tengah situasi itu, perjalanan Wakil Presiden JD Vance ke Pakistan juga dibatalkan setelah Iran disebut tidak merespons tuntutan Washington.

Komando Pusat Amerika Serikat juga melaporkan bahwa pada Selasa lalu pasukan Amerika mengarahkan 30 kapal angkatan laut Iran untuk kembali ke wilayah Iran melalui Selat Hormuz, sebuah pergerakan yang dikatakan terpantau citra satelit.

Trump lalu mengklaim Iran tengah kolaps secara finansial dan kehilangan US$ 500 juta per hari. Di belakang layar, laporan itu juga menyebut Iran sedang diguncang perpecahan internal, dengan kelompok garis keras menuntut konsesi sebelum perundingan bisa dimulai lagi.

Jika kebuntuan itu bertahan, Selat Hormuz tampaknya masih akan menjadi titik rawan yang menahan napas pasar energi, pelayaran, dan infrastruktur digital global dalam waktu lama. (*)