GOWA, UNHAS.TV - Pembangunan infrastruktur laut dan kawasan pesisir menghadapi tantangan besar di tengah perubahan iklim yang semakin nyata. Kebutuhan terhadap pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan ekosistem laut.
Persoalan tersebut menjadi sorotan utama dalam Seminar Nasional Sains dan Teknologi Kelautan (SENSISTEK) IX 2026 yang digelar Program Studi S1 Teknik Kelautan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (Unhas) di Ruang LT 1 CSA Fakultas Teknik Unhas, Gowa, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan ini mengangkat tema “Rekayasa Infrastruktur Laut dan Pesisir Berbasis Ekosistem: Strategi Nasional Percepatan Blue Economy Berkelanjutan di Tengah Dinamika Perubahan Iklim”.
Seminar ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi industri, serta unsur pemerintahan untuk membahas arah pembangunan kelautan yang tidak hanya berorientasi pada aspek teknis dan ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan keseimbangan lingkungan.
Ketua Panitia SENSISTEK IX 2026, Dr Ir Hasdinar Umar ST MT mengatakan tema tersebut dipilih sebagai respons terhadap semakin kompleksnya persoalan pembangunan wilayah laut dan pesisir.
Menurut dia, pembangunan infrastruktur kelautan tidak dapat lagi hanya dilihat dari sisi manfaat ekonomi maupun kekuatan konstruksi, tetapi harus memperhitungkan keberlangsungan ekosistem.
“Tema ini kami angkat karena merupakan respons terhadap tantangan pembangunan wilayah laut dan pesisir yang semakin kompleks," ujar Hasdinar.
"Jadi, pembangunan itu bukan cuma dari segi teknis dan ekonominya, tetapi juga memperhatikan ekosistem dan keberlanjutan kehidupan laut. Istilahnya, kita membangun tetapi juga memperhatikan kesehatan laut,” jelasnya.

SENSISTEK IX - Ketua Panitia Seminar Nasional Sains dan Teknologi Kelautan (SENSISTEK) IX 2026 Dr Ir Hasdinar Umar ST MT. (Unhas TV/Mustika Syaharuddin)
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep blue economy yang menempatkan laut sebagai sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus ruang ekologis yang harus dijaga.
Melalui konsep ini, pemanfaatan sumber daya laut diarahkan agar tetap memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengurangi kemampuan ekosistem dalam mempertahankan keseimbangannya.
Hadirkan Riset Kelautan dan Inovasi Rancangan Mahasiswa
Dalam penyelenggaraan tahun ini, SENSISTEK IX 2026 mencatat partisipasi ilmiah dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset.
Sebanyak 38 judul artikel berhasil dihimpun dari delapan institusi, di antaranya Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Jakarta, Institut Teknologi Kalimantan, Universitas Halu Oleo, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Hasdinar menjelaskan, seminar tersebut tidak hanya menjadi ruang penyampaian hasil penelitian, tetapi juga menjadi wadah untuk memperluas jejaring kolaborasi antarpeneliti dalam bidang teknologi kelautan.
Selain seminar ilmiah, SENSISTEK IX 2026 menghadirkan inovasi baru melalui pameran capstone design mahasiswa Teknik Kelautan Unhas. Kegiatan ini menjadi bagian yang berbeda dibandingkan pelaksanaan SENSISTEK sebelumnya.
Menurut Hasdinar, pameran tersebut menampilkan hasil rancangan mahasiswa terkait bangunan pelindung pantai dan infrastruktur pelabuhan.
Kegiatan ini merupakan implementasi dari kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang diterapkan Program Studi Teknik Kelautan Unhas dan telah memperoleh akreditasi internasional dari Indonesian Accreditation Board for Engineering Education (IABEE).

SENSISTEK IX - Dekan Fakultas Teknik Prof Muhammad Isran Ramli didampingi Wakil Dekan 1 Dr Eng Hendra Pachri, Dr Chairul Paotonan dan Ketua Panitia SENSISTEK IX 2026 Dr Hasdinar Umar di Fakultas Teknik Unhas di Kampus Gowa, Kamis (8/10/2026). SENSISTEK IX membahas rekayasa infrastruktur pesisir berbasis ekosistem menghadapi perubahan iklim. (Unhas TV/Mustika Syaharuddin)
“SENSISTEK kesembilan tahun 2026 ini berbeda dari SENSISTEK sebelumnya karena tahun ini merupakan pertama kalinya dirangkaikan dengan expo atau pameran capstone design. Kami memamerkan hasil-hasil rancangan mahasiswa untuk bangunan pelindung pantai dan pelabuhan,” katanya.
Penyelenggara berharap kehadiran pameran tersebut dapat memperlihatkan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan konsep rekayasa kelautan secara nyata.
Selain itu, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan pembangunan infrastruktur pesisir di lapangan.
Dekan Fakultas Teknik Unhas Prof Dr Eng Ir Muhammad Isran Ramli ST MT IPM AER menyampaikan bahwa SENSISTEK IX 2026 memiliki keterkaitan dengan visi Universitas Hasanuddin sebagai perguruan tinggi yang mengembangkan konsep Benua Maritim Indonesia (BMI).
Ia berharap forum ilmiah tersebut mampu menghasilkan rekomendasi inovasi yang dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu Teknik Kelautan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Tentu kita berharap bahwa seminar ini menghasilkan rekomendasi tentang inovasi dan upaya-upaya yang dapat memberikan dampak bagi keilmuan Teknik Kelautan di Universitas Hasanuddin terhadap masyarakat, bangsa, dan negara kita,” kata Isran.
Penelitian Oseanografi dan Infrastruktur Pesisir
Dari perspektif penelitian, dosen sekaligus peneliti Program Studi Teknik Kelautan Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Ir Ahmad Azwar Mas'ud M ST MT menilai persoalan oseanografi, infrastruktur pantai, dan pelabuhan merupakan bidang strategis yang perlu terus dikembangkan.

Peneliti Program Studi Teknik Kelautan Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Ir Ahmad Azwar Mas'ud M ST MT. (Unhas TV/Mustika Syaharuddin)
Ahmad menjelaskan bahwa Indonesia sebagai negara maritim memiliki berbagai tantangan yang berkaitan dengan dinamika laut, sehingga penelitian dalam bidang tersebut menjadi penting untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
“Topik yang saya bawakan meliputi oseanografi, infrastruktur pantai, dan pelabuhan. Saya antusias pada topik tersebut karena dasar keilmuan saya memang berfokus meneliti bidang itu. Kita merupakan negara maritim yang memiliki banyak masalah di bidang tersebut, sehingga menjadi pemacu bagi saya untuk fokus pada bidang itu,” tuturnya.
Ia menambahkan, SENSISTEK menjadi ruang bertukar pengetahuan bagi para peneliti dari berbagai institusi. Melalui forum tersebut, mahasiswa juga dapat memperoleh wawasan baru mengenai perkembangan penelitian dan teknologi kelautan.
Penyelenggara berharap berbagai kajian yang dipresentasikan dalam SENSISTEK IX 2026 tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi dapat dikembangkan menjadi kerja sama riset dan rekomendasi kebijakan pembangunan.
Kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan pemerintah dinilai penting untuk memastikan pembangunan infrastruktur laut dan pesisir berjalan sesuai kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem.
Dengan mengusung pendekatan rekayasa berbasis ekosistem, SENSISTEK IX 2026 menegaskan bahwa pembangunan wilayah pesisir di masa depan tidak hanya berbicara tentang membangun struktur fisik, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia, teknologi, dan lingkungan laut.
(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)
SENSISTEK IX - Seminar Nasional Sains dan Teknologi Kelautan (SENSISTEK) IX 2026 digelar Fakultas Teknik Unhas di Kampus Gowa, Kamis (8/10/2026). Kegiatan yang menghadirkan akademisi, peneliti, dan praktisi kelautan ini membahas rekayasa infrastruktur pesisir berbasis ekosistem menghadapi perubahan iklim. (Unhas TV/Mustika Syaharuddin)




-300x168.webp)



