Kesehatan

Stem Cell Centre RS Unhas Diresmikan, Mungkinkah Terapi Ini Menyembuhkan Kanker?

RUMAH Sakit Universitas Hasanuddin (RS Unhas) resmi meluncurkan Celltech Stem Cell Centre. Ini menandai langkah maju dalam pengembangan terapi sel punca di Indonesia Timur. Peresmian yang berlangsung pada 25 Januari 2025 ini dihadiri oleh Rektor Unhas, Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, dan Direktur Celltech Stem Cell Centre, Prof. Dr. Deby Vinski, MSc, PhD.

Dalam sambutannya, Prof. Jamaluddin Jompa menekankan pentingnya pusat ini dalam dunia medis.

"Kami ingin menjadikan RS Unhas sebagai pionir dalam penelitian dan terapi sel punca di Indonesia Timur. Teknologi ini membawa harapan bagi pasien dengan berbagai penyakit degeneratif, termasuk kanker," ujarnya.

Sementara itu, Prof. Deby Vinski menambahkan bahwa teknologi sel punca terus berkembang pesat dan menjadi solusi masa depan dalam dunia kesehatan.

"Terapi stem cell sudah banyak diterapkan di berbagai negara untuk menangani penyakit kronis dan degeneratif. Dengan kehadiran pusat ini, kami berharap semakin banyak pasien di Indonesia yang bisa mendapatkan akses terhadap terapi inovatif ini," jelasnya.

Dari Sejarah Hingga Terobosan Stem Cell

Konsep sel punca (stem cell) pertama kali diperkenalkan pada 1908 oleh ilmuwan Rusia, Alexander Maximow. Kemudian, pada 1960-an, dua ilmuwan asal Kanada, Dr. Ernest McCulloch dan Dr. James Till, berhasil mengonfirmasi keberadaan sel punca dalam sumsum tulang, yang menjadi dasar bagi terapi modern.

Perkembangan besar terjadi pada 1998, ketika Dr. James Thomson berhasil mengisolasi dan menumbuhkan sel punca embrionik manusia. Penemuan ini membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut mengenai potensinya dalam pengobatan berbagai penyakit, termasuk kanker.

Bisakah Stem Cell Menyembuhkan Kanker?

Stem cell memang telah digunakan dalam terapi kanker, terutama melalui transplantasi sumsum tulang pada pasien leukemia atau limfoma. Namun, pertanyaan besarnya adalah: bisakah terapi ini menyembuhkan kanker secara keseluruhan?

Menurut Dr. Yudi Mulyana, Sp.PD-KHOM, seorang ahli hematologi-onkologi, terapi sel punca memiliki potensi besar dalam bidang onkologi, tetapi masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

"Terapi stem cell saat ini memang sudah digunakan dalam pengobatan kanker darah, seperti leukemia, melalui transplantasi sumsum tulang. Namun, untuk jenis kanker lain, masih diperlukan studi klinis lebih lanjut untuk memastikan efektivitas dan keamanannya," jelasnya.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Dr. Siti Aminah, peneliti sel punca dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

"Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sel punca dapat membantu meregenerasi jaringan yang rusak akibat kanker atau kemoterapi. Namun, ada risiko sel punca yang ditransplantasikan malah berubah menjadi sel kanker baru jika tidak dikontrol dengan baik," paparnya.

Sementara itu, Prof. Deby Vinski menegaskan bahwa pengembangan terapi stem cell tetap menjanjikan sebagai bagian dari pengobatan kanker.

"Kami optimistis bahwa dalam beberapa tahun ke depan, terapi sel punca akan menjadi bagian integral dalam pengobatan kanker. Namun, tentu harus didukung oleh penelitian dan regulasi yang ketat," katanya.

Harapan Masa Depan

Dengan hadirnya Celltech Stem Cell Centre di RS Unhas, harapan untuk pengobatan kanker dan penyakit kronis lainnya semakin terbuka. Walaupun terapi stem cell belum bisa dikatakan sebagai solusi mutlak untuk kanker, perkembangannya menunjukkan potensi besar.

"Yang terpenting adalah terus mendorong penelitian dan edukasi kepada masyarakat. Stem cell bukan 'obat ajaib', tetapi sebuah teknologi yang bisa menjadi bagian dari solusi kesehatan di masa depan," tutup Prof. Jamaluddin Jompa.

Dengan semakin banyaknya penelitian dan pusat terapi seperti di RS Unhas, masa depan pengobatan kanker berbasis sel punca tampaknya hanya tinggal menunggu waktu.