
Namun sufistik di Buton tidak sepenuhnya egaliter. Zawiyah lebih banyak diakses oleh kalangan kaomu dan walaka, elite bangsawan yang berada di lingkaran inti kekuasaan. Mereka dipersiapkan menjadi pejabat, sapati, kenepulu, bahkan sultan. Pendidikan sufistik menjadi bagian dari proses kaderisasi elite.
Dalam struktur sosial Kesultanan Buton, masyarakat terbagi ke dalam lapisan-lapisan: kaomu, walaka, papara, serta batua. Stratifikasi ini menentukan akses terhadap kekuasaan dan pendidikan spiritual tingkat tinggi. Zawiyah berada di dalam kompleks keraton, dekat dengan pusat otoritas.
Prof. Dr. Rahim Yunus menjelaskan bahwa tasawuf dalam konteks Buton berfungsi sebagai mekanisme penguatan moral elite. Ia menyebutnya sebagai “pembentuk kesadaran etik bagi kelas penguasa.”
Dengan demikian, struktur pemerintahan tidak hanya bertumpu pada garis keturunan, tetapi juga pada legitimasi spiritual.
Namun konsekuensinya jelas. Pengalaman sufistik yang mendalam tidak sepenuhnya dirasakan oleh papara, rakyat biasa. Mereka mengenal Islam melalui masjid, pengajian, dan tradisi lokal yang telah diislamkan. Tetapi suluk yang intens dan diskursus metafisik lebih banyak berlangsung di dalam istana.
Di sinilah paradoks Buton terasa. Ia terbuka secara geografis, kosmopolit dalam arus lautnya; tetapi pendidikan spiritual tingkat tinggi berada dalam ruang eksklusif. Lautnya ramai, zawiyahnya hening.
Laut yang Luas, Jiwa yang Dijaga
Pada masa Sultan Muhammad Umar, tradisi sufistik masih bertahan. Namun kolonialisme dan perubahan geopolitik perlahan menyempitkan ruang gerak kesultanan. Jalur maritim tetap sibuk, tetapi kekuasaan tradisional mulai terdesak.
Kini, yang tersisa mungkin benteng batu dan manuskrip yang menguning. Tetapi warisan sufistik Kesultanan Buton tetap menyisakan pesan yang kuat. Ia menunjukkan bahwa sebuah kerajaan maritim dapat berdiri kokoh bukan hanya karena kapal dan komoditas, tetapi karena jiwa-jiwa yang ditempa dalam kesunyian.
Buton pernah membuktikan bahwa kekuasaan bisa belajar diam. Bahwa pelabuhan bisa dijaga oleh zikir. Dan bahwa di tengah laut yang tak pernah berhenti bergerak, ada ruang sunyi yang menjaga arah sebuah negeri.
*Penulis adalah blogger, peneliti, dan digital strategist. Lulus di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat,







