Sport

Wacana Piala Dunia 2030 Diikuti 64 Negara Memantik Desakan Presiden FIFA Infantino Mundur




PILDUN 2030 - Edisi berikutnya Piala Dunia 2030 akan digelar di Spanyol, Portugal, dan Maroko. Gianni Infantino berniat menghadirkan 64 tim di Piala Dunia 2030 tapi diprotes. (The Sun)


Kontroversi itu muncul ketika FIFA telah menetapkan format Piala Dunia 2030 yang tersebar di enam negara dan tiga benua. Spanyol, Portugal, dan Maroko menjadi tuan rumah utama.

Tiga pertandingan pembuka akan digelar di Uruguay, Argentina, dan Paraguay untuk memperingati seratus tahun penyelenggaraan Piala Dunia pertama di Uruguay pada 1930.

Enam negara tersebut mendapat tempat otomatis sebagai tuan rumah. Pengaturan itu menimbulkan persoalan logistik karena sejumlah tim harus berpindah dari Amerika Selatan menuju Eropa atau Afrika Utara.

Perjalanan lintas benua dinilai dapat menambah kelelahan pemain serta meningkatkan biaya penyelenggaraan. Kritik juga muncul karena konsep tersebut dianggap mengorbankan efisiensi demi kepentingan simbolis dan politik.

Inggris, yang disebut sebagai tempat lahir sepak bola modern, belum kembali menjadi tuan rumah Piala Dunia sejak 1966. Pada edisi itu, tim nasional Inggris meraih satu-satunya gelar juara dunia mereka.

Infantino juga menghadapi kritik karena dianggap membawa unsur hiburan dan komersialisasi berlebihan ke dalam pertandingan.

Sejumlah pihak menyoroti kemungkinan jeda pertandingan yang lebih panjang, penambahan acara hiburan, serta pengaturan waktu yang menyesuaikan kepentingan penyiaran.

Kritikus menilai sepak bola menjadi olahraga paling populer di dunia karena permainannya berlangsung cepat dan relatif minim interupsi. Mereka khawatir FIFA mengadopsi pola olahraga Amerika yang membagi pertandingan ke dalam banyak jeda untuk kepentingan iklan.

Piala Dunia sendiri menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar FIFA melalui hak siar, sponsor, penjualan tiket, dan aktivitas komersial lainnya. Semakin banyak pertandingan berarti semakin besar pula ruang untuk menjual hak penyiaran dan paket sponsor.

Namun, pendapatan yang meningkat dinilai harus dipertimbangkan bersama kualitas kompetisi dan keselamatan pemain. Turnamen yang terlalu panjang juga berpotensi berbenturan dengan kalender liga domestik, kompetisi antarklub, serta agenda internasional lainnya.

Gelombang penolakan terhadap rencana 64 peserta bahkan melahirkan desakan agar Infantino meninggalkan jabatannya.

Sebagian pengkritik meminta negara-negara sepak bola utama Eropa, termasuk Inggris, Prancis, Spanyol, Jerman, dan Italia, mempertimbangkan sikap lebih tegas.

Boikot disebut sebagai pilihan terakhir apabila FIFA memaksakan perluasan tanpa mempertimbangkan keberatan pemain, klub, liga, dan pendukung. Absennya negara-negara unggulan Eropa dinilai dapat menurunkan daya tarik dan nilai komersial turnamen secara drastis.

Namun ancaman tersebut masih sebatas wacana. Belum ada federasi sepak bola besar yang secara resmi menyatakan akan menarik diri dari Piala Dunia 2030.

FIFA juga belum menetapkan format 64 peserta sebagai keputusan final. Setiap perubahan besar harus dibahas melalui struktur organisasi FIFA dan melibatkan konfederasi serta asosiasi anggotanya.

Perdebatan tersebut memperlihatkan pertarungan dua kepentingan dalam pengelolaan sepak bola global. FIFA ingin memperluas keterlibatan negara anggota dan meningkatkan jangkauan komersial turnamen.

Sebaliknya, para pengkritik meminta Piala Dunia tetap menjadi kompetisi elite yang pesertanya memperoleh tempat melalui persaingan ketat di lapangan. (*)