.webp)
Pemandangan ini menyampaikan pesan yang kuat, pembangunan tidak harus memilih antara beton atau alam. Keduanya dapat hidup berdampingan jika kebijakan publik dirancang dengan pandangan jauh ke depan.
Pelajaran yang Bisa Dipetik
Zurich tentu tidak bisa disalin begitu saja. Sejarah, budaya, dan skala Indonesia sangat berbeda. Namun prinsip-prinsip yang mendasarinya tetap relevan untuk direnungkan.
Pertama, bangun institusi sebelum simbol. Zurich tidak mengejar kemegahan visual, melainkan membangun kepastian hukum, efisiensi layanan publik, dan konsistensi kebijakan.
Kedua, jadikan infrastruktur sebagai alat keadilan sosial. Transportasi publik yang andal dan terjangkau membuka akses ekonomi yang lebih merata.
Ketiga, rawat kepercayaan publik sebagai aset nasional. Kepercayaan tidak lahir dari slogan, tetapi dari pengalaman sehari-hari warga ketika berurusan dengan negara.
Keempat, tempatkan alam sebagai mitra pembangunan. Kota yang berkelanjutan bukan yang paling cepat tumbuh, melainkan yang paling mampu menjaga keseimbangan.
Penutup
Zurich tidak menawarkan euforia. Ia tidak mengajak orang terpesona atau terpukau. Kota ini justru mengajarkan sesuatu yang lebih sunyi, bahwa peradaban dibangun dari hal-hal yang nyaris tak terlihat, dari jadwal yang dipatuhi, dari aturan yang dijalankan tanpa pengawasan, dan dari rasa saling percaya yang tumbuh pelan-pelan, hari demi hari.
Dalam udara yang dingin, saya justru merasakan kehangatan yang berbeda, kehangatan karena hidup terasa dapat diprediksi, karena ruang publik terasa aman, dan karena negara hadir bukan sebagai bayang-bayang yang menakutkan, melainkan sebagai sistem yang bekerja tanpa banyak suara.
Barangkali di sinilah letak kemajuan yang sesungguhnya, bukan pada gedung tertinggi dan bukan pada angka-angka yang diumumkan di podium, melainkan pada perasaan sederhana bahwa hidup sehari-hari tidak perlu selalu waspada.
Saat melangkah untuk meninggalkan kota ini menuju Davos, saya membawa lebih dari sekadar catatan perjalanan.
Saya membawa sebuah pertanyaan yang terus berputar di kepala, seperti apa wajah kemajuan yang ingin kita bangun di rumah sendiri, yang gemerlap dan cepat, atau yang tenang, adil, dan bertahan lama.
Zurich tidak memberi jawaban. Ia hanya memperlihatkan kemungkinan. Dan mungkin, justru di sanalah letak pelajarannya.
*Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Ekonomi (IKAIE) Universitas Hasanuddin








