JAKARTA, UNHAS.TV - Dua dosen Politeknik Pertanian Negeri Pangkep atau Polipangkep, Sulawesi Selatan, lolos dalam Program BESTARI Saintek yang diluncurkan di Grha Diktisaintek, Senayan, Jakarta, pada 28–29 April 2026.
Keduanya adalah Mauli Kasmi dan Zulfitriany Dwiyanti Mustaka. Mereka menjadi bagian dari 122 tim penerima pendanaan riset dari total 8.951 pendaftar.
Program tersebut didukung Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP dengan total pagu Rp 57,5 miliar. Dana yang terserap mencapai Rp 57,176 miliar. Selain pendanaan, para periset juga mendapat akses ke 56 mitra industri dan empat organisasi internasional.
Mauli Kasmi mengusung riset berjudul Model Living Lab Kolaboratif: Hilirisasi Riset Marikultur Karang Hias untuk Membangun Rantai Pasok Ekspor yang Berkelanjutan dan Inklusif.
Riset ini berfokus pada standardisasi budidaya karang hias secara in situ dan pengembangan model inti-plasma bagi nelayan pesisir.
Menurut Mauli, riset tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan prototipe, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
“Kami tidak datang sebagai pelengkap. Kami datang dengan prototipe, dengan komunitas, dan dengan bukti bahwa riset politeknik bisa menghidupkan desa dan laut,” kata Mauli di sela pameran poster dalam pesan ke Unhas.TV.
Dalam proyek itu, Mauli menggandeng PT Meydifarm Aquamarine Sustainable, nelayan Pulau Karangrang, serta Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan.
Model inti-plasma yang dikembangkan ditujukan agar nelayan tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga terlibat sebagai mitra dalam rantai pasok ekspor.
“Nelayan pesisir selama ini hanya menjadi pemasok mentah. Dengan model inti-plasma, mereka akan menjadi mitra sejajar dalam rantai pasok ekspor,” ujar Mauli.
.webp)
KARANG HIAS - Poster yang dipaparkan Mauli Kasmi, mengusung riset berjudul Model Living Lab Kolaboratif: Hilirisasi Riset Marikultur Karang Hias untuk Membangun Rantai Pasok Ekspor yang Berkelanjutan dan Inklusif. (Dok Polingkep)
Ia mengatakan riset tersebut diharapkan membuat karang hias Indonesia tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi warga pesisir.
Luaran riset Mauli meliputi sistem budidaya dan pascapanen karang hias yang terstandar, penerapan model inti-plasma di komunitas nelayan, serta peningkatan kapasitas nelayan dalam teknik marikultur berkelanjutan.
Dampak yang ditargetkan adalah peningkatan kesejahteraan nelayan, efisiensi budidaya, dan terbentuknya rantai pasok ekspor yang lebih stabil serta ramah lingkungan.
Riset dari Persoalan Limbah Kelapa
Sementara itu, Zulfitriany Dwiyanti Mustaka membawa riset bertajuk Living Laboratorium Ekonomi The Green Gold Kelapa Selayar.
Riset ini berangkat dari persoalan limbah kelapa di Kabupaten Kepulauan Selayar. Zulfitriany mengembangkan teknologi tepat guna berupa mesin pencacah sabut kelapa dan mesin press cocopeat.
Limbah kelapa yang sebelumnya tidak bernilai ekonomi diarahkan menjadi produk turunan yang dapat dipasarkan. Desa Bontolempangan, Kecamatan Buki, Kabupaten Kepulauan Selayar, dipilih sebagai lokasi percontohan. “Kami tidak sekadar membuat alat. Kami membangun ekosistem,” kata Zulfitriany.
Ia mengatakan petani kelapa di desa tersebut diharapkan tidak lagi hanya menjual kelapa sebagai bahan mentah. Melalui pengolahan sabut dan cocopeat, petani dapat masuk ke rantai nilai produk turunan kelapa.
“Desa Bontolempangan akan menjadi piloting di mana petani kelapa naik kelas menjadi pengusaha produk turunan kelapa,” ujarnya.
Riset Zulfitriany melibatkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Selayar, Yayasan Pendidikan Cahaya Lontara, dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) setempat.
Luaran yang ditargetkan meliputi mesin pencacah sabut kelapa, mesin press cocopeat, buku akademik atau monograf, serta pengembangan desa sebagai ekosistem saintek.
Dampak riset ini diarahkan pada peningkatan kapasitas teknologi di pedesaan, penguatan ekonomi lokal berbasis ekonomi sirkular, dan kolaborasi pentahelix antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan lembaga pendukung.
Direktur Polipangkep yang hadir dalam penandatanganan kontrak menyatakan keberhasilan dua dosen tersebut menjadi bagian dari perubahan arah kampus.
Menurut dia, politeknik tidak hanya menjalankan pendidikan vokasi, tetapi juga harus memperkuat riset terapan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Politeknik tidak boleh kalah dengan universitas. Justru di sinilah letak kekuatan kami: riset yang langsung menyentuh tanah, laut, dan masyarakat. Mauli dan Zulfitriany adalah bukti nyata,” kata pimpinan Polipangkep.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Brian Yuliarto dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi riset dari berbagai daerah.
Ia mengatakan inovasi tidak boleh terhambat oleh sentralisasi. “Riset terbaik justru sering lahir dari daerah yang paling merasakan masalahnya,” ujar Brian.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Prof Ahmad Najib Burhani juga menegaskan bahwa sains harus hadir dalam kehidupan masyarakat.
Menurut dia, ketika peneliti turun ke Pulau Karangrang atau Desa Bontolempangan, sains menemukan makna sosialnya yang memberi dampak nyata.
Dalam sesi business matching setelah penandatanganan kontrak, dua tim Polipangkep disebut menarik minat mitra usaha yang bergerak di bidang ekspor hasil laut dan produk pertanian.
Melalui program ini, Polipangkep mencatatkan dua riset daerah yang masuk dalam ekosistem nasional hilirisasi riset.
Bagi Mauli dan Zulfitriany, capaian tersebut menjadi bukti bahwa riset dari daerah dapat bersaing di tingkat nasional. Keduanya membawa isu yang dekat dengan masyarakat Sulawesi Selatan yaitu laut, pesisir, kelapa, dan desa.
“Kami ingin anak-anak muda di Pangkep, di Selayar, di seluruh Indonesia Timur melihat bahwa mereka juga bisa,” pungkasnya Mauli. (*)
PROGRAM BESTARI - Dua dosen Politeknik Pertanian Negeri Pangkep atau Polipangkep, Sulawesi Selatan, lolos dalam Program BESTARI Saintek yang diluncurkan di Grha Diktisaintek, Senayan, Jakarta, Selasa-Rabu, 28–29 April 2026. (Dok Polipangkep)







-300x174.webp)
